1. Dingin

12 0 0
                                        


Senin, adalah hari dimana hari yang di keluhkan siswa-siswi SMA PD(Permata Damai). Mereka merasa pemerintah tidak adil dalam membuat tanggal merah di kalender. Yang kebetulan kali ini tanggal merah tepat di saat hari weekend jadilah tidak kesempatan mereka libur dengan tenang.

Membuat seorang siswi dengan muka di tekuk, juga dengan tangannya yang masih hormat terhadap sang merah putih di depannya. Hari ini cukup panas membuatnya harus menahan mati-matian, agar dirinya tidak jatuh dan kehilangan kesadaran.

Sudah hampir setengah jam ia berdiri tegak, dengan barisan depan, walau ia di posisi ketiga, di belakang Calya, sahabat yang sudah menempel sejak mereka masih TK dulu. Ia ingat masa dimana mereka menangis, hanya karena berebutan es krim coklat yang hanya tersisa satu, lalu terjatuh karena ulah mereka sendiri. Jika mereka mengigat hal itu lagi, di pastikan Calya akan merasa malu dengan hal itu. Oh lugunya kami waktu itu.

Hingga tiba waktunya upacara selesai, membuat cewek yang mukanya di tekuk tersebut tersenyum senang, dan langsung mengajak Calya agar tetap di tempat. Padahal sejak awal di mulainya upacara sampai penutup, Naya tak pernah berhenti untuk mengeluh lelah, walau baru di ucapkannya 5 kali, tapi membuat telinga Calya panas mendengarnya.

" Tadi lo bilang capek, terus kenapa nyuruh gue tetep di sini? " kesal Calya yang tak di pedulikan Naya. Naya malah sibuk mencari sosok cowok tampan yang ia tunggu kehadirannya sejak awal upacara. Membuat Calya sudah hapal dengan sifat Naya yang akan budeg bila sudah berurusan dengan Rangga Devan Malik.

" WOI!NAYA HELEA CANTIKA, LU BUDEG APA GIMANA SIH! " teriak Calya tepat di telinga Naya.

Tak membuat Naya berhenti mengalihkan pandanganya dari Rangga sedikitpun. Ia menjerit histeris ketika Rangga dan kedua temannya lewat di depan sana. Ia menjerit layaknya orang tidak waras, membuat Calya langsung pergi meninggalkan Naya sendiri di lapangan.

Beberapa menit kemudian, seseorang datang dengan deru nafasnya yang tak beraturan juga keringatnya yang membasahi sedikit bagian wajahnya sambil mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal.

" Kok lo tega sih tinggalin gue sendirian...,di lapangan! " kesal Naya dengan terus mencoba ia kembali bernafas dengan normal.

"............. " tak ada jawaban dari Calya, membuat Naya langsung memeluk sahabatnya tersebut dengan erat.

" Ututu udah dong jangan ngambek lagi Cal, maaf deh gue udah cuekin lo tadi " mohon Naya yang tak di perdulikan Calya, membuat Naya merasakan rasanya menjadi Calya di saat dirinya yang malah sibuk dengan Rangga.

" Cal....., " rengek Naya membuat telinga Calya panas di karenanya.

" Hm? " balas Calya cuek, membuat Naya mengerucutkan bibirnya layaknya bebek.

" Jangan samain Calya Anggita, dengan kak Nisa Sabyan dong !, soalnya suara Kak Nisa bagus, kalo Calya jauh di bawah rata-rata " seru Naya asal, yang berhasil membuat Calya memberi satu jitakan untuk Naya karena kesal dengan ucapan sahabatnya itu.

" Gini-gini juga pernah bikin lo menang di lomba puisi kemarin tau karena gue jadi backsound dadakan " balas Calya membela.

" Tahu bulat dong dadakan " jawab Naya membuat Calya langsung tertawa di buatnya.

Membuat mereka kembali akur dalam waktu sekejap, yap inilah persahabatan di antara Naya dan Calya yang akan berbaikan kurang lebih dalam kurung waktu 5 menit. Membuat mereka kembali terdiam ketika pak Herman datang dengan hawa mencekam, membuat Naya malas dengan mata pelajaran ini, yaitu fisika.

Tringgggg~~kini bel istirahat berbunyi, semua langsung berhamburan menuju kantin. Berbeda dengan Naya yang langsung pergi ke kelas 12Ipa1.

Kini semua mata tertuju pada Naya, sudah biasa melihat pemandangan Naya yang selalu mengejar Rangga walau tak pernah di hiraukan cowok tersebut. Membuat semua cowok merasa iba, lebih baik Naya bersama kami daripada bersama Rangga yang cuek hanya kepada Naya.

" Rangga..., stop! " cegah Naya cengegesan sambil menghalangi jalan cowok tersebut. Membuat cowok itu hanya menaikkan sebelah alisnya heran.

" Ini gue bawa bolu vanila kesukaan lo, mau kan makan bareng? " tanya Naya berharap bahwa Rangga meng-iyakan ajakannya.

" Ga minat! " jawab Rangga penuh penekanan dengan pergi meninggalkan Naya begitu saja.

Membuat Naya tak menyerah, ia pun kembali mengintili Rangga sampai kantin. Membuat cowok tersebut risih di buatnya. Juga ocehan cerewet yang di celotehkan Naya, membuat telinganya bisa terbakar bila mendengarnya.

" Rangga suka cewek kayak apa? "
" yang bisa masak kah? "
" Atau yang cantik? "
" Jangan-jangan suka yang sempurna?"
" Kira-kira kalo secantik Lisa, lo mau gak? "
" Rangga suka sama Naya gak? "
" Rang.., "

Belum sempat Naya melanjutkan ucapannya, sudah terdengar deru nafas seseorang yang amat dekat dengannya. Naya menutup matanya, takut Rangga murka terhadapnya. Ia takut terhadap tatapan mengerikan Rangga, yang dapat membuat siapapun langsung bertepuk lutut karenanya.

" Tutup mulut lo, berisik" seru pedas Rangga membuat Naya meneguk ludahnya takut.

Rangga pun pergi menuju kantin, dan meninggalkan Naya yang langsung terbujur kaku dan terduduk. Membuat Gavin yang kebetulan lewat langsung menghampiri Naya cemas takut Naya kenapa-kenapa.

" Lo gapapa Nay? " tanya Gavin cemas, yang hanya di balas senyuman oleh Naya dan juga ucapan ' gpp'.

" Yaudah ayo gue bantu berdiri, lo sakit? " tebak Gavin sambil mengecek kening Naya yang sedikit panas.

" Lo udah sarapan tadi? " tanya Gavin lagi, yang hanya di balas gelengan dari Naya membuat Gavin segera menarik Naya menuju kantin.

Tak lama berselang, Naya pun duduk di dekat jendela. Ia menikmati angin segar yang amat kencang akhir-akhir ini. Sesekali ia menatap Rangga, yang sedang makan bersama teman-temannya. Membuatnya langsung menghampiri Rangga juga teman-temannya.

" Misi, boleh gabung gak? " tanya Naya sopan dengan senyum ramah. Membuat Rion dan Galang tersenyum ramah kepada Naya.

" Duduk aja Nay, anggep aja ini kantin sekolah " ceplos Galang asal membuat seketika Naya tersenyum mendengar candaan Galang.

" Emang kantin sekolah, lu pikir ini kantin nenek moyang lu? " balas Rion mengejek membuat Naya tak menghiaraukan mereka dan memilih untuk melihat Rangga yang berwajah datar-datar saja.

" Rangga nih gue masih bawa bolunya, di makan ya nanti hehe " seru Naya sambil cengengesan yang hanya memperlihatkan wajah datar Rangga seperti biasanya.

" Oh iya ngga, masih marah ya? " tanya Naya memastikan walau ia masih takut dengan Rangga, lebih baik bertanya daripada sesat di hati yang gundah.

" Kalo git...., "

Belum selesai berbicara, Rangga sudah menyela ucapannya. Dengan wajah yang kembali menyeramkan layaknya monster yang akan menyerang mangsanya.

" BISA DIEM GAK SIH LO! " bentak Rangga kasar membuat seluruh mata menatap ke arahnya dengan takut walau sebagian ada yang siap menonjok Rangga habis-habissan.

" GAK BISA!KARANA NAYA SUKA RANGGA! " Jawab Naya spontan membuat suasana kantin menjadi sunyi juga gemas melihat Naya dan Rangga.

Tbc
Maaf bila masih ada kesalahan
Tolong vote+koment!
Mau lanjut?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 28, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

NayaraWhere stories live. Discover now