Aku berlari, berlari dari kesunyian yang selama ini kurasa kelam. Kesunyian yang bahkan terdengar jauh lebih bising dari suara klakson kendaraan di jam pulang. Kesunyian yang meski aku berlari ke ujung dunia pun, akan selamanya mengikuti.
Sungguh, aku lelah terus-terusan berlari.
Aku lelah jika harus setiap hari bertahan di antara sunyi.
Kesunyian yang hanya aku bisa mengerti.
Kesunyian yang jika boleh kukatakan,
akan menjadi penyebab aku mati.
Tidak ada yang salah dengan hidupku, sama sekali tidak. Aku hanya seorang gadis berbadan kurus yang jika kau tanyakan pada pria, bukan tipikal idaman siapapun.
Bukan gadis yang
hanya dengan sekali pandang dapat meluluhkan hati tanpa ampun.
Aku, justru bagian dari mereka yang kau sebut pelamun.
Tidak, atau mungkin hanya ada aku.
Benar,
nyatanya meski seramai apapun sunyiku, tak pernah ada orang lain selain aku, hanya aku.
Latar 1
Kamar Tidur, dan Ruang Pikir
"Sudah kukatakan sejak awal, harusnya kau menjauh!"
Anne memijat pelipisnya, menekan denyut yang sejak tadi menjalar di kepala gadis itu. Meski begitu, ia harus terus mengemasi barang-barangnya kedalam boks. Memastikan tak ada satupun barang penting yang tersisa, agar ia tak harus kembali lagi ke bangunan itu.
"Kau keterlaluan, Anne. Tak pernah mau mendengarkanku!"
Anne menggeram lelah, meremat tepi boks erat-erat. Ia tak mau mengemasi lagi barang-barangnya yang berhamburan karena kecerobohannya sendiri. Waktunya tak banyak.
"Kumohon, jangan sekarang. Aku lelah," katanya lemah.
Kalimat mereka terhenti saat ketukan di daun pintu terdengar, menghantar sengat cemas ke sekujur tubuh Anne.
"Anne, makan siangmu."
Anne menghela nafas saat suara yang gadis itu tunggu-tunggu sejak tadi terdengar dari balik pintu. Ia berdeham sejenak sebelum bersuara.
"M-masuk!"
Pintu putih itu terbuka, menampakan sosok wanita paruh baya dengan troli roda makan siangnya. Membawa troli itu memutari ranjang tidur Anne, tak seperti hari-hari biasa.
Anne melotot saat mendapati tiga piring makanan tersedia dihadapannya, pasalnya makan siangnya tak pernah sebanyak itu.
"Iliana, ini terlalu banyak," heran gadis itu.
"Tak ada penolakan, kau butuh kalori."
"Tapi pasta ini saja sudah cukup." Anne melempar tunjuknya kearah sepiring pasta seafood diantara ketiganya.
"Baiklah, Anne, ini terakhir kalinya kau makan tiga piring masakanku."
Anne melirik wanita itu, sadar jelas dengan maksud Iliana. Gadis itu mulai gugup saat menyadari bahwa Iliana baru saja melirik singkat ke arah CCTV kamarnya.
Aku harap ini berhasil.
Latar 2
Koridor
Iliana mendorong troli makan siang keluar, lalu menutup pintu kamar Anne. Wanita itu menghela nafas lelah saat matanya beradu tatap dengan salah seorang dari dua pria berjas di depan pintu kamar Anne.
"Nona Anne baru saja meminum obatnya, ia tak ingin diganggu." Keduanya mengangguk.
"Oh, ia juga merindukan kukis favoritnya, itu mustahil ku buat. Jadi tolong belikan dan serahkan padaku, akan ku antar pada Anne untuk cemilan sorenya nanti," pinta Iliana. Membiarkan salah satu dari kedua pria itu berlalu.
Wanita itu ikut berlalu, mendorong troli berisi sisa makan siang Anne. Terang-terangan mengeluh tentang Anne yang tak pernah menghabiskan makan siangnya, lantas menghilang diujung koridor. Membiarkan seorang penjaga di depan pintu kamar Anne melanjutkan pekerjaannya.
Latar 3
Kamar Hotel
Rahang pria itu gemetar, menahan gejolak amarah yang menjalar di tenggorokan. Buku tangannya memutih karena kepal yang sudah sejak tadi membatu. Dadanya kembang kempis, membuat kemeja putihnya mencuat dari balik celah jasnya. Bahkan dasi merah marunnya sudah sejak tadi tersampir longgar dilingkar leher pria itu.
Lucian, Luke. Aura pria itu nyaris panas, seakan arti namanya selama ini bukan semata-mata hanya sebuah kata. Tetapi penjelasan gamblang sang Ibu tentang anaknya. Cahaya.
Seorang pria tinggi berdiri di belakang Luke, menunggu dengan cemas perintah dari atasannya yang sejak tadi membelakanginya. Meski tinggi badannya melebihi Luke, pria dengan amarahnya itu terlihat jauh lebih dominan dari siapapun diruangan itu.
"Temukan gadis itu," ucap pria itu penuh ketegasan.
Empat orang lainnya baru akan mengambil langkah saat Luke kembali berucap.
"Tak peduli bagaimana pun, gadis itu harus ditemukan. Bahkan jika harus dalam keadaan tak bernyawa."
[]
Cerita yang lain belum kelar,
kenapa pake ada ide baru sih?
Songong bener ini otak!
YOU ARE READING
SCIAMACHY
General Fiction(n.) a battle against imaginary enemies: fighting your own shadows. How many friends do you have?
