1.Berawal dari payung

130 5 3
                                        

Seorang gadis ber seragam sma berdiri di halte bis sembari menunggu angkutan umum yang lewat.

Ia menggumam mengikuti lagu yang didengarnya melalui headset. Sekarang sudah menunjukkan pukul 6.40 yang berarti sebentar lagi bel sekolah berbunyi

Akhirnya bis yang menuju sekolah nya tiba dengan segera ia menaiki nya dan mencari tempat duduk.

Setelah beberapa menit bis tersebut menelusuri jalan raya tiba lah ia di halte yang jarak tidak jauh dari sekolah.

Ia melirik jam nya "bentar lagi bel masuk tapi ga mungkin gua nerobos ni ujan? Kalau gua nekad juga pasti basah argh"

Tiba-tiba di depan nya terdapat payung berwarna biru navy. Gadis itu melihat payung itu lalu menongak sedikit ke atas untuk melihat pemilik payung

Gadis tersebut terpukau dengan wajah cowo yang berada di depan nya. Karna gadis tersebut malah melamun, cowo tadi pun segera mengambil tangan mungil nya dan meletakkan payung tadi

Tanpa berkata apa-apa lelaki itu menerobos hujan yang deras dengan menutupi kepala nya menggunakan tas yang dikenakan nya.

"Gila cogan" ujar gadis itu membuka payung dan segera berlari ke sekolah nya.

☁☁☁

"Quen!!!!!" 

Gadis yang baru saja memasuki kelas merasa terpanggil pun menoleh ke sumber suara

"Quen lo lama amat si! Untung bu rista belum datang" oceh salah satu sahabat nya

"Berisik" ujar quen membanting tas di atas meja

"Makanya kalau tidur tu jangan kayak kebo" ujar jovanka, salah satu sahabat quen sejak pertama kali masuk sekolah

"La ni anak kan kalau tidur kayak orang mati, kalau ada gempa aja dia ga tau" ujar fely,  sahabat quen sejak smp

"Heh! Ga gitu juga"protes quen

Gadis  yang akrab dipanggil quen dikalangan teman-teman nya sudah biasa datang terlambat ke sekolah dan dengan alasan yang sama 'bangun kesiangan'

Nama lengkap nya Aquene Alaqua Denaya. Terlahir sebagai anak dari CEO salah satu perusahaan terbesar di kota nya. Tapi sifat nya yang jika tidur susah dibangunkan itu sungguh membuat nya tidak sama sekali malu. Malah kata nya menjadikan itu ciri khas dan beruntung ia memiliki dua sahabat yang mengerti diri nya.

"Gua mau ceritaa nii" ujar quen

"Nanti aja pas di kantin" jawab jovanka

"Ish sikap lo gitu amat, senyum dikit laa nanti ga ada yang naksir lo baru tau" canda quen

"Lebih baik lo liat bu rista lagi pegang penggaris kayu dari pada nyuruh gua senyum" balas  jovanka

Quen melihat bu rista berada di depan kelas dengan sebelah tangan memegang penggaris kayu.

"Sumpah dah guru tu mau ngapain lagi" bisik fely

"Mana gua tau" jawab quen pendek

Bu rista mengetuk penggaris kayu di papan tulis membuat suasana kelas sunyi. Dengan sorot mata yang tajam beliau menunjuk semua murid di kelas.

AQICHWhere stories live. Discover now