Tanpa pikir panjang keputusan itu kubuat, semua tentangnya kucoba tinggalkan, kucoba lupakan. Sakit? Tak apa, semua demi dia, ku tak ingin membuat dia semakin terluka dengan situasi yg benar-benar tak bisa aku kendalikan.
Tak perduli dengan sakit yg aku rasakan, mencoba lebih dalam mencairkan suasana hati yang sudah kalut tak tentu arah ini, tak ingin lagi dia terjerumus kedalam luka parah. Kali ini benar-benar ku coba berbagai cara, tak perduli lagi dengan rasa sakit yg aku rasakan, berusaha membuat dia lupa semua tentangku, tentang hubungan ini. Walaupun disisi lain nan jauh di dalam lubuk hati aku masih sangat berharap, tapi jangan, kau akan melukainya 'lagi'.
Ternyata berusaha membuatnya lupa tidak semudah membuat dia jatuh cinta, ya, begitu juga denganku. Kelemahanku adalah mendengar suaranya dan bertemu dengannya. Aku berusaha menjauhi semua kelemahanku, tak ingin ku mendengar lagi suara dan tak ingin lagi bertemu dengannya, walaupun pada kenyataannya aku sangat membutuhkan itu. Aku tidak pandai merangkai kata seperti cerita indah yang dia rangkai tentangku, tentang kami. Tapi setidaknya tulisan ini dapat meluapkan semua kekesalan, kemarahan, kebodohan, kehancuran bahkan kesedihan yang aku rasakan.
Cerita yang ia rangkai di sebuah blog, mungkin dia tidak tau kalau aku membacanya, atau mungkin juga ia tau, karena aku tidak pernah memberi tahu dia kalau aku membaca blognya, bahkan aku berpura-pura tidak tau kalau dia menulis blog. Setiap rindu melanda dan tak bisa bertemu dengannya, blog itu jadi tempat pelampiasanku untuk sekedar menghilangkan rasa rindu, ku baca berkali-kali tanpa rasa bosan sampai rasa rindu itu sedikit berlalu.
(Dia tdk pernah memberi tau tentang blog miliknya, aku tau dia menulis di sebuah blog dari story yg dibagikan temanku dalam bentuk link, lalu kubuka, dan ternyata itu sebuah blog yg ditulis oleh dia tentang aku, tentang kami).
Ketika bertemu ia sering mengatakan "aku rindu", dia tidak tahu kata-kata yg sering dia lontarkan kepadaku itu juga menjadi salah satu kelemahanku. Dia tidak pernah tahu resiko kata-kata yang ia keluarkan itu sebenarnya lebih besar daripada sikap yang kuperlihatkan di depannya, kubersikap seolah-olah tak perduli dengan apa yang dia katakan, seolah-olah kata-kata itu sangat mengganggu, dan seolah-olah aku terlihat benci ketika ia mengutarakannya. Padahal dibalik semua lakonan itu tersimpan rindu yang lebih besar dari yang ia rasakan. Sakit, dibelakangnya aku merasa sakit, sakit yg tak bisa aku ungkapkan, sakit karena harus menutupi perasaanku yg sebenarnya.
Benar, aku tak berpikir panjang, aku egois, aku kesal, kesal dengan kebodohanku. Tanpa berpikir panjang, kukatakan aku tak ingin lagi bersamanya, tanpa berpikir panjang aku katakan kalau dia bukan siapa-siapa lagi untukku, tanpa berpikir panjang kusia-siakan dia yg mungkin benar-benar tulus mencintaiku, tanpa berpikir panjang kucari pelampiasan hanya demi membuat dia percaya bahwa aku benar-benar telah melupakannya dan ingin membuat dia pergi jauh selamanya.
Aku berpikir kalau dia benar-benar mencintaiku dia tidak akan mepermasalahkan hal ini, dia hanya menunggu waktu yg tepat untuk memulai hubungan yg lebih serius bukan hanya berada di dalam hubungan yg hanya berbataskan chat atau telfonan, aku berpikir dia akan datang kepadaku suatu saat nanti dan akan menjadikan dia milikku seutuhnya.
Hari berganti hari masih dengan perasaan yang sama, pada saat bersama dengan teman-teman perasaan itu sedikit terkendali, tapi terkadang saat sendiri rindu itu datang lagi, anehnya dulu rasa itu bisa diatasi dengan membaca blog miliknya, tapi tidak tau knapa sekarang perasaan ini seperti meledak-ledak. Perasaan ini tidak bisa dikendalikan hanya dengan membaca blog nya lagi, perasaan ini seperti ingin menyerbu objeknya, aku tetap berusaha menahan rasa ini, sampai pada hari dimana akhirnya aku bertemu lagi dengannya, bersama teman yang lain. Kini kumerasa tatapannya tidak seperti dia yang dulu, kurasa dia telah berubah. Iya, aku kembali menghadapi kelemahanku, dari itu aku benar-benar hilang kendali, ingin kutelfon dia, tapi tetap saja berusaha untuk tidak melakukanya. Satu status aku naikkan di story whatsapp, iya, aku meluapkan isi hatiku disana. Tiba-tiba dia berkomentar, pikiran dan perasaanku tak bisa kukendalikan lagi, baiklah kali ini aku mengalah, aku telfon dia lalu kami berbicara malam itu.
Apa yang kau pikirkan hilma? Kau pikir dia seperti Kim Tan yg rela mengorbankan kekayaan demi bisa hidup bersama dengan kekasihnya? Kau pikir dia seperti Do Min Joon yg rela meninggalkan tempat asal dan keluarganya di planet lain demi bisa bersama kekasihnya di planet bumi? Kau pikir dia seperti Romeo yang rela melakukan apa saja bahkan rela sehidup semati dengan Juliet? Atau kau pikir dia seperti Kim Geum yang rela menunggu bertahun-tahun pujaannya turun dari kayangan demi bisa bersama selamanya? Hidup tidak seindah kisah di dalam drama, dia hanya manusia biasa hilma, dia memiliki batas kesabaran, dia juga membutuhkan seseorang yg selalu ada untuknya, bukan sepertimu, yang tak bertanggung jawab dengan keputusan yg sudah kau pilih, yang lari dari masalah yg telah kau buat.
Dan ternyata benar, pada akhirnya hal yang aku takutkan terjadi, dia benar-benar sudah menemukan penggantinya, yang aku sendiripun tidak tau tentang hal itu. Dan jahatnya lagi dia sendiri yang memberitahukan tentang hubungan barunya, bahkan dia menceritakan dengan jelas tanpa perlu aku bertanya kepadanya terlebih dahulu, sejujurnya itu sangat mengganggu, hatiku hancur mendengar kabar itu, duniaku seolah telah hilang lenyap ditelan waktu, seseorang yg ku kira akan datang pada waktu yang tepat akhirnya menemukan pengganti diriku, semua pemikiranku tentang masa depan bersamanya seolah sirna.
Tapi dia terdengar sangat bangga dan bahagia saat menceritakan tentang pacar barunya itu. Baiklah, rencanaku akhirnya berhasil, dia telah melupakanku, dia telah pergi dari hidupku walaupun perasaanku mengatakan sebaliknya. Tak apa, aku layak menerima sakit ini. Tak apa, setidaknya aku bisa belajar bahwa sebenarnya dunianya tak melulu tentangmu dan setiap orang mempunyai batas kesabaran, mungkin kesabarannya untuk menungguku hanya sampai sebatas itu. Juga tak apa, aku yakin kebahagiaan lain akan datang kepadaku, dan semoga rasa ini hilang bahkan kalau bisa seakan aku tidak pernah merasa berada di titik ini lagi. Aku lelah, cukup sampai disini, aku berhenti.
-Ms.H
