•A•

8.8K 316 4
                                        


Tuhan beri apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau.


Dua jam sudah berlalu setelah bel pulang sekolah berbunyi. Namun, seseorang yang masih mengenakan seragam putih abunya, enggan beranjak dari tempatnya berdiam diri. Memang ini sudah menjadi kebiasaannya, lebih tepatnya setelah dua tahun yang lalu. Menepi sejenak dari keramaian kota jakarta. Sekedar menghilangkan segala penat dalam hidupnya. Merenungkan tentang mereka yang  pergi, hingga lupa jalan kembali. Juga tentang rindu yang menyesakan hati.

"Biasa. " ucapnya menjawab seseorang disebrang telepon.

"Iya ini udah mau pulang. "

"Iya iya Abang bawel. " gerutunya langsung mematikan teleponnya sepihak,  bodo amat dengan sopan santun.

Lalu beranjak dari tepi danau menuju halte bus untuk segera pulang. Bukan karena seseorang ditelepon tadi yang menyuruhnya segera pulang, tapi karena memang hari sudah mulai gelap, juga perutnya yang kosong meronta meminta untuk segera diisi.

Dia Kai, Kairav Pranadipa. Pemuda dengan sejuta luka. Remaja 17 tahun yang haus akan kasih sayang keluarga.

Orang tuanya telah berpisah sejak dua tahun yang lalu. Mereka yang sudah lupa, semakin lupa bahwa ada sosoknya yang masih membutuhkan hangatnya rengkuhan mereka. Untuk sekedar menanyakan kabarnya pun, mereka tak punya waktu.

Tapi, Kai punya Abang yang luar biasa. Melviano pranadipa, diusianya yang menginjak 23 tahun, sudah memimpin perusahaan sendiri yang dirintisnya dari awal masuk universitas.

Tetapi, diusianya yang sekarang ia masih betah menjomblo. Alasannya cuma satu, yaitu Adiknya.

Sesampainya didepan rumah, Kai menghentikan langkahnya. Sejenak menatap rumahnya yang megah namun nampak kosong, seperti hatinya. Ia tampak menghela nafas panjang sebelum melangkah kedalam rumah.

"Kai pulang. "

"Lo dari mana sih jam segini baru pulang!" omelan itu terdengar menyambutnya dari ruang keluarga.

"Main dulu Bang sebentar. " ringis Kai  pelan.

"Besok besok kalo mau pergi kasih kabar, biar Abang nggak khawatir. "

"Ya udah sana mandi abis itu turun kita makan, Abang panasin makanannya dulu. " ucapnya bangkit dari sofa memasukan ponselnya ke dalam saku, melangkahkan kakinya ke dapur.

"Iya Bang. "

                                •••

Makan malam tampak hening tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hingga Kairav memecahkan keheningan itu, untuk memulai obrolan.

"Bang. "

"Kenapa Kai? "

"Ehm Mama Papa nggak kasih kabar? " cicitnya pelan tanpa berani menatap sang Abang.

Melviano atau Ano tampak menghela nafas sebelum menjawab.

"Nggak, udah Abang bilang jangan tanyain mereka. "

"Kenapa? "

"Kenapa mereka nggak sayang sama gue Bang? Apa salah kalo gue pengen mereka disini, gue bahagia sama Abang tap.. "

"Kai stop! " potong Ano cepat

"Tapi gue juga butuh mereka." gumamnya sambil menunduk, tangannya mengepal disisi tubuh. Ia lelah, sungguh.

"Apa mereka udah punya keluarga baru. " gumamnya kembali tapi masih bisa didengar sang Abang.

"Abang bilang stop. Stop mengharapkan mereka, disini ada Abang. Lo punya Abang. "

"Cepat habiskan makanannya abis itu istirahat ya. " dia tersenyum tipis kepada adiknya yang masih menunduk, beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju  kamarnya, meninggalkan Adiknya sendiri.

Jujur ia juga lelah. Lelah berpura pura tidak perduli dengan orang tuanya, nyatanya dia juga masih butuh mereka. Bukan materinya, namun sosoknya.

Segera Kai beranjak dari tempatnya, berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintunya.
Duduk dipinggir ranjang king sizenya,  mengambil ponselnya dinakas,  lalu membuka aplikasi pesan.

                                                  Ma.. 
                                                  send

Meletakan ponselnya lalu merebahkan tubuhnya tengkurap. Beberapa menit, ada bunyi notifikasi dari ponselnya. Buru buru dibukanya.

    Mama❤
Mama lagi sibuk, Dek.

Sakit, selalu begitu. Mamanya selalu beralasan sibuk. Lalu beralih ke ruang obrolan Papanya. Semoga saja tidak mengecewakan.

                                        Pa, Kai kangen. 
                                                 send

     Papa❤
  Maaf Dek, Papa belum ada waktu.

Dilemparnya ponsel itu asal, lalu menelungkupkan kepalanya pada bantal, menangis sesegukan.
Kecewa, sungguh. Belum cukupkah mereka menyiksanya dengan keputusannya untuk berpisah, kini mereka menyiksa juga batinnya dengan kerinduan.

Tanpa ia sadari, ada seseorang dibalik pintu yang mendengarkan tangisannya.

"Maafin Abang, Dek. "

                                                  TBC

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

               
                                  TBC

                                                  TBC

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

                   Kairav Pranadipa

                   Kairav Pranadipa

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


                Melviano Pranadipa

Purwokerto, 3 August 2019

KAIRAVWhere stories live. Discover now