Dear Barnyu Sastrawinata!
Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk bahagia yang sempat kamu berikan. Terimakasih karena sudah pernah singgah. Terimakasih pernah memberi pelangi meskipun kini mendung kembali menyelimuti.
Barnyu, aku masih ingat pertemuan kita adalah takdir semesta. Kita dipertemukan sebab patah yang kita alami sama. Andai saja saat itu kamu tidak patah, mungkin cerita kita yang sempat terjalin tidak akan pernah ada.
Meskipun kini kita hanya tinggal kata, tapi percayalah aku pernah sebahagia itu bersama kamu. Banyak yang terjadi diantara kita. Mungkin keputusanku untuk pergi adalah yang terbaik.
Kamu tahu? Kamu adalah bahagia sekaligus luka. Kamu yang memberiku bahagia selepas duka yang aku rasa. Tapi kamu juga pemberi luka paling parah selepas bahagia yang kamu berikan. Aku mengerti, aku sadar untuk melupakan masa lalu memang tidak pernah semudah itu. Dan aku memilih mengalah. Bukan karena aku tidak ingin berjuang. Hanya saja, lukaku sudah terlalu parah. Dan aku tidak akan mungkin mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu.
Barnyu, kamu hanya perlu tahu jika aku pernah begitu beruntung menjadi bagian dari hidup kamu. Aku pernah begitu khusyuk memintamu pada semesta agar kita selalu dibersamakan. Tapi semesta memiliki rencananya sendiri.
Dear Barnyu Sastrawinata!
Aku pernah membayangkan kehidupan aku dan kamu kedepannya. Ternyata bayangan itu menetap menjadi imajinasi yang tak kunjung menjadi nyata. Tapi kamu harus tahu, meskipun itu hanya imajinasiku, aku tetap bahagia pernah memimpikannya. Aku bahagia pernah menjadikan kamu angan-angan yang selalu aku kenang hingga kini.
Surat ini menjadi perwakilan perasaan yang aku bawa pergi. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi kamu harus tahu, untuk jatuh hati lagi aku tidak akan mampu. Butuh ribuan hari untuk aku kembali membuka hati.
Sebagai penutup surat ini aku ucapkan terimakasih banyak kepada kamu. Maaf jika aku masih membawa perasaan ini.
Tertanda
Raila Amijaya Kusuma
Barnyu meremas kertas ditangannya dan membuang asal. Laki-laki itu sudah kehabisan akal. Tidak bisa dibiarkan. Ia tidak mau kehilangan. Ia akan bertanggung jawab atas luka yang telah ia berikan. Barnyu tahu ini semua salahnya.
Barnyu berlari menuju ruangan Ridho. Disana, ia melihat sahabatnya yang sedang sibuk dengan laptop diatas meja. Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan. Ia meraih kunci mobil yang ada di atas meja Ridho dan membawanya lari.
"Gue pinjem bentar!"
"Eh buset itu kunci mobil gue kampret!" Ridho terkejut melihat kedatangan Barnyu yang begitu tiba-tiba kemudian pergi membawa lari kunci mobilnya. Meskipun ia tahu Barnyu tidak akan mungkin membawa kabur mobilnya, tapi ia tetap kesal melihat Barnyu yang seenak jidat membawa mobilnya pergi.
Barnyu sudah tidak memperdulikan apapun. Yang ia tahu, ia harus segera sampai ke bandara. Bodohnya dia adalah tidak mau menghubungi Raila. Bahkan ia menolak panggilan gadis itu semalam. Ia terlalu dibutakan oleh egonya yang tinggi.
Sesampainya di bandara, ia melihat jadwal penerbangan menuju Paris sudah take off 30 menit yang lalu. Dia gagal. Dia tidak bisa menepati janjinya untuk selalu membahagiakan Raila. Dan kini, ia menyesali segalanya.
***
Hallo sahabat bilur, selamat datang di dalam kisah Raila dan Barnyu. Penasarankan dengan apa yang terjadi pada mereka berdua?
Siapa sih Barnyu itu?
Siapa sih Raila?
Ini mereka sebenarnya kenapa?
Nah, untuk menjawab pertanyaan diatas, kamu kudu,wajib, Fardu ain pokoknya buat baca bagian 1 dan seterusnya cerita ini.
Selamat menikmati kisah Barnyu dan Raila.
Salam membilur untuk sahabat bilur 💙
YOU ARE READING
LATE!
Teen FictionMemang benar, jika seseorang masih terjebak oleh masa lalu, maka ia tidak akan pernah bisa membuka lembaran baru bersama orang baru. Jika seseorang masih terjebak masa lalu maka ia akan kesulitan menerima orang baru. Membuka lembaran baru mungkin ha...
