Jangan Melihat Masa Lalu, Karena Hanya Ada Hantu

8 0 0
                                        

Ruangan putih berukuran 6x6 ini benar-benar hening. Aku bahkan bisa mendengar detak jam yang digantung di atas sana.

Bosan rasanya, kutunggu ia namun tak kunjung datang. Entahlah, mungkin ia sedang sibuk dengan mainan-mainan konyolnya itu di laboratorium.

Sungguh. Sebenarnya aku takut berada di ruangan ini.

Siapa pula yang akan membuat ruangan putih polos —yang hanya berisi jam, seperangkat sofa lengkap dengan meja, single bed, serta lemari baju kecil— di rumahnya? Oke, mungkin terdengar seperti kamar sederhana pada umumnya. Namun kalian tahu apa yang mengerikan?

Ruangan ini sudah seperti sel tahanan saja dengan gerugi yang menjadi pengganti pintunya! Dasar kakakku sepertinya sudah gila!

Aku mau keluar saja dari sini.

Namun saat tanganku hendak membuka pintu gerugi itu, ternyata dikunci.

Sial! Apa sih yang dia lakukan pada adiknya sendiri?! Dasar sakit!

"Kau mau kemana, Karin?" Tanya seorang pemuda dari luar ruangan gerugi ini.

Aku mendengus kesal. "Kenapa kau mengunci adikmu sendiri?"

"Hah? Tentu saja agar kau tidak lari."

Sudah kuduga. Kakakku ini sakit!
Dia sudah seperti ilmuwan gila di televisi. Tokoh antagonis jahat yang suka menjadikan manusia sebagai bahan percobaan. Tidak punya rasa kemanusiaan dan kadar kasih di hatinya sudah nol.

Dan yang mungkin menjadi penyebabnya adalah kecelakaan 1 tahun lalu.

Dulunya kakakku ini seorang dokter di rumah sakit ternama. Ia sangat termasyhur dan punya banyak koneksi di bidang kesehatan. Gelar yang didapatnya sudah seperti rel kereta api, sehingga tidak ada orang yang meragukan otak cemerlangnya lagi.

Namun setahun yang lalu, kecelakaan mengenaskan menimpa adik bungsu perempuan kami. Namanya Aria, usianya baru 16 tahun. Dia sangat elok dengan rambut pirang dan suara yang memikat bagai Lorelei. Seolah ia mewarisi semua keunggulan fisik dari orang tua kami —yang sudah bercerai—, tidak ada yang tidak memujanya. Tuhan tanpa ampun memberikan semua kebaikan duniawi padanya.Dia adalah ratu di dunianya sendiri. Dia sempurna. Lebih dari itu.

Sayangnya, meski ia memiliki karunia yang berlimpah ruah itu, berkah panjang umur tidak berpihak padanya. Dalam kecelakaan itu dia meninggal dunia, tepat sehari sebelum ulang tahunnya.

Aku benar-benar sedih karena sesungguhnya aku sudah menyiapkan kado ulang tahun sebuah jepit rambut berbentuk buah ceri untuknya.

Tetapi yang lebih terpukul adalah kakakku. Bagaimana tidak? Dia meninggal tepat setelah dipindahkan ke bawah pengawasan kakakku yang seorang dokter. Semua rentetan gelar dan penghargaan yang didapatnya seolah tidak berharga.

—Karena ia tidak bisa menyelamatkan adiknya sendiri.

Dua bulan setelah kemalangan itu, kakakku menjadi penyendiri. Dia suka menghabiskan waktunya di laboratorium pribadinya. Ia tidak lagi pergi bekerja. Tidak lagi menjadi dokter di rumah sakit ternama. Bahkan dia sempat berkata,

"Dokter? Maksudmu pekerjaan untuk menyembuhkan orang lain itu? Aku tidak butuh. Kalau kukerjakan pun dia tidak akan kembali, jadi lebih baik aku memperbaiki yang 'masih' kupunya saja." Lalu disertai dengan senyuman setipis dan setajam jarum.

Ya, benar. Kurasa ia mempunyai trauma mendalam karena kepergian adik bungsu kami.

Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati, tentu.
Namun dia mati tepat diatas tanggung jawab kami sebagai kakaknya.

Tak akan kembali. Tak akan bertemu lagi.

Dia benar-benar melukiskan luka bagi kami. Pergi sendiri.

Semoga kau menjadi "Lorelei Milik Surga", Aria.

PERSPECTIVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang