It's Me and Him
"Bersamamu adalah satu dari mimpiku yang menjadi nyata"
Pukul 20.50
Duduk di bangku taman sambil memandang pohon dengan lampu yang bisa berganti warna memang sangat pas. Indah sekali!
Daun-daun pohon itu seolah berganti warna. Berkelap-kelip merah, ungu, pink, hijau,dan biru. Sungguh memanjakan mata.
Aku sangat suka pemandangan ini, apalagi ditambah lampu taman menghiasi gelapnya malam, jembatan yang menyala di atas kolam & salju salju berjatuhan.
Ya, betul. Di sini musim salju dan terasa sangat dingin.
Sayang sekali aku harus kembali besok. Mungkin jika aku kembali ke negeri ini suatu saat nanti aku harus membawa 'bingkisan' yang berharga seperti... Salju mungkin?
"Hahaha" Tawa kecilku meluap sedikit dan menyisakan sedikit senyuman tipis di bibir mungilku.
"Hei!"
Oh, lihat! Itu Dion.
Jika kalian menebak Dion adalah pacarku, maka kalian bisa dibilang benar juga bisa dibilang kurang tepat. Karena satu bulan lagi kami akan menikah.
"Hei! Hei! Kenapa melamun sambil senyum sendiri gitu, ga kerasukan kuntilanak bule kan?"
"Ahh," Lamunku terpecah.
"Ayo cepat masuk! Mukamu mirip kepiting rebus kalau kedinginan "
"Hu-um!"
Akupun mengangguk kemudian berjalan di samping dion untuk kembali ke hotel.
***
"Dion.. bangun! kita harus ke bandara dua jam lagi."
Kalau orang bilang, dia ini kebo. Tapi mungkin dia kebo terganteng yang pernah aku kenal? Bahkan aku akan menikahi kebo ini satu bulan lagi.
Dan inilah favoritku tiap pagi. Muka bantalnya yang lucu dan menggemaskan. Ah! aku mencubit pipinya sampai dia terbangun.
"Umhh.. jam berapa sekarang, Din?"
Aku sangat suka ketika dia memanggil namaku, rasanya jantungku selalu berdebar dan ingin terseyum sendiri.
Ya, aku Dinda. Nama kami serasi bukan?
"D'couple love"
Itu sebutan untuk hubunganku dan Dion.
Jika aku punya anak, mungkin aku akan beri nama dia Dian, Diana, Dio atau terserah deh. Tapi kalau memang benar aku akan punya "D'family".
Hanya memikirkannya saja bisa membuat aku tertawa. Bagaimana kalau kenyataan?
Ah, aku malu memikirkan kelanjutannya.
Meskipun begitu, berarti aku akan memiliki 'malaikat' yang mirip sepertiku atau 'monster kecil' yang mirip seperti Dion hehe..
Biarpun begitu mereka pasti akan sangat lucu.
"Sekarang jam 6 sayang, ayo kita angkat barang-barang ke depan kemudian pesan taksi."
***
Aku berdiri bersampingan dengan Dion di dalam lift. Terkadang aku sering berpikir sampai wajahku memerah karena aku masih tak percaya kalau pada akhirnya, aku bersama Dion.
Setelah semua yang aku lalui, setelah melewati banyak pertengkaran besar, dan bahkan setelah kembali dari perpisahan.
"Hei! Mukamu merah tuh. Jangan mikirin aku mulu!"
Aku tak sadar tangannya sudah menggenggam tanganku dengan jari jari yang saling terselip.
"Ih Ge-er! Siapa juga yang mikirin kamu?"
Aku yakin sekali mukaku pasti tambah merah. Aku jadi tomat sekarang.
"TING"
Pintu lift terbuka.
Aku berjalan beriringan dengan dion dengan langkah kaki seirama sampai langkah keempat.
Kami berhenti untuk melakukan check out dari hotel sambil menunggu taxi untuk menuju bandara.
***
Terima Kasih
Mau langsung lanjut baca?
Cukup scroll atau pilih halaman
Let's go!
KAMU SEDANG MEMBACA
Lovelush
Teen Fiction"Cinta, kesedihan, perjuangan, dan cita-cita. Semua itu satu paket yang dihadirkan oleh tuhan untuk kita nikmati dan tentu untuk kita syukuri. Dion dan Dinda memulai kisah mereka sejak Sekolah Menengah Atas dan hampir tidak pernah mulus, tetapi bah...
