Part 1

294 10 0
                                        

Disebuah rumah kecil ditengah hutan, hiduplah seorang gadis cantik bernama Angelina Putri. Ia adalah seorang gadis cantik, memiliki tubuh semampai yang membuat perempuan lain iri.

Rambutnya berwarna Coklat terang, dan memiliki rambut sehalus kain sutra, dan bercahaya layaknya kain satin, matanya berwarna biru terang layaknya cahaya rembulan di Malam Purnama.

Ia tinggal sendiri dirumah itu, setelah insiden pembunuhan kedua orang tuannya di kota. Ia dikejar oleh orang orang jahat hingga ia harus bersembunyi di rumah yang berada di tengah hutan ini.

Ia sekarang sedang mencuci pakaian dipinggir sungai. Ia terus mencuci hingga tanggan nya keriput, menandakan ia telah terlalu lama berada di dalam air. Setelah itu dia menjemur pakaian nya di samping rumah itu. Lalu ia masuk kedalam rumahnya. Ia membuka kendi air, lalu menuang sedikit air untuknya minum.

Setelah itu ia mengambil keranjang buah, sebentar lagi ia akan mengambil buah buah di pedalaman hutan sana. Walaupun rumahnya di tengah hutan, ia tetep merasa bahagia. Ia berjalan dengan riang kesana, kemari sambil melihat lihat pepohonan, apakah ada buahnya atau tidak. Kemudian ia  mengalunkan nyanyian merdu, yang dapat membuat penghuni hutan itu senang, mulai dari burung-burung, kupu kupu, monyet-monyet pun tersenyum senang melihatnya.

Ia pun melihat seekor burung sedang terjerat jebakan. Iapun segera melepaskannya dengan hati-hati, tetapi karena burung tersebut terus mengepakan sayap nya. Salah satu kakinya terluka terkena jaring yang tajam.

"Shuttt.... Kau terluka burung!" Serunya ketika melihat burung itu terluka.

Ia pun mengelus kepala si burung itu dan berkata, "Kau akan ku bawa pulang, nanti akan ku obati dirumah," Ucapnya sambil menaruh burung itu di dekapannya.

Ia pun segera pulang, membatalkan niatnya untuk mencari buah. Ia berjalan pulang.

*sesampainya dirumah.

"Aku akan mengobati mu, tahan sedikit okai, ini akan sedikit perih," Ucap ku, Sambil mengelus bulu di sayap burung itu.

Aku pun mengoleskan dengan perlahan kain yang sudah ku oleskan tumbukan tumbuh tumbuhan. Aku melihat sedikit reaksi burung itu. Burung itu mengeluarkan air mata, aku segera mengusap air matanya dan tersenyum.

"Mohon tahan sebentar lagi, aku akan membalut luka mu," Ucap ku sambil mengelus kepalanya.

Aku pun mengelus bulu disekitar kaki nya dan melihat sebuah Symbol Kiara di kaki kanan nya. Aku mengambaikan saja, lalu membalut luka itu dengan perlahan takut melukai burung ini.

"Sudah selesai, tidur lah. Aku akan mencari buah untuk kita." Pamit ku pada burung itu.

Ku elus sayap nya, burung ini sangat cantik. Apalagi ekor nya, sangat panjang. Aku baru sadar jika burung ini sangat cantik. Ku tutupi burung itu dengan kain hingga yg terlihat kepalanya saja. Aku mengambil keranjang buah lalu, menutup pintu dengan perlahan. Kulihat sedikit bercak darah yang berubah menjadi sebuah kalung. Aku pun terkejut melihat perubahan itu.

Berulang kali aku mengerjapkan mata, aku tak berani menyentuhnya, aku pun melanjutkan perjalan mencari buah buah di hutan.

Aku pun memilih salah satu tempat dimana banyak sekali buahnya. Aku akan mengingat jalan menuju kesini.
Aku pun mengambil Pisang, Pepaya, dan buah Semangka. Aku mengambil yang paling kecil. Setelah aku merasa cukup. Aku pun pulang.

Aku buka perlahan pintu, takut membangunkan Burung Cantik itu. Kulihat ia masih memejamkan mata. Aku masuk dan menutup pintu dengan perlahan.

Ku langkahkan kaki dengan perlahan. Lalu kutaruh keranjang buah ini dengan perlahan. Kulihat langit diluar mulai mendung, aku pun berlari kecil menuju keluar rumah, aku pun mengambil jemuran ku, dan melipatnya segera setelah merasakan tetes pertama hujan mengenai tangan ku.

"Huffftt... Untung tidak basah baju ku," Ucap ku lega.

Aku pun menaruh pakaian ku didekat ranjang tempat tidur ku. Aku pun melihat kearah luar, hujan mulai turun. Sebaiknya aku mulai menyalakan lilin, ketika aku menyalakan semua lilin, aku melihat sebuah banyangan wanita. Ketika aku membalikan badan.

"Si.. Si.. Siapa kamu ?" Tanya ku pada Wanita itu, wanita itu tersenyum dan menepuk papan disebelahnya. Wanita itu sangat cantik, secantik cahaya Bulan.

"Duduklah disini sayang ku!" Serunya pada ku sambil menepuk sebelahnya.

Aku pun maju perlahan, mendekati wanita Cantik itu. Aku duduk disebelahnya dengan perasaan takut.

"Jangan takut pada ku sayang," Ucapnya Lembut.

"Aku adalah Seorang..."

My King AlphaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang