1. He open the Door

52 5 1
                                        

Sejak aku masih sekolah di TK, keluargaku sudah pindah ke Komplek Perumahan TNI ini. Ya, ayahku seorang TNI. TNI angkatan udara lebih tepatnya. Sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kalau aku? Aku hanya anak satu-satunya dikeluarga ini. Boleh dibilang, anak rumahan juga sih. Bukannya nggak mau berbaur. Tapi kenyataannya di komplek ini jarang banget ada anak yang seumuran denganku. Dan aku bukan termasuk anak aktif disekolah.

Dan sampai saat ini, aku cuma punya satu teman rumah. Dio namanya atau biasa aku panggil Iyo. Sayangnya, dia milih untuk pesantren saat masuk SD. Selama 6 tahun itu aku nggak pernah lagi ketemu dia. Dio liburanpun nggak ketemu sama sekali. Sampai kita SMP, aku cuma bisa liat aktivitas lewat jendela kamarnya dan kamarnya yang bisa dilihat berdinding putih. Bener-bener kalem. Mungkin dia termasuk introvert.

Hari ini aku bener-bener nggak tau mau ngapain. Ujian sudah selesai. Sekolahpun nggak wajib. Lagian, mau ngapain juga sekolah kalo ujian beres? Tapi mau ngerem dirumah buat istirahatpun rasanya aneh. Gini nih, kalau udah libur minta sekolah. Kalo sibuk sekolah minta libur. Haduh haduuuh.

Alhasil, dari pagi sampe siang ini cuma sibuk dengan nge-scroll timeline, twitter, instagram. Buka laptop, nonton film sebentar, bosen, matiin lagi. Duduk didepan meja belajar, ngeganti posisi alat tulis. Udah, gitu aja. Kalo ada ayah dirumah pasti udah marahin aku yang kerjaannya rebahan dan sampe saat ini belum mandi, hehe. Mau ilfeel? Silahkan. Kalo libur aku mandinya nunggu matahari tepat diatas kepala aja.

"Della!!!" Teriak ibu dari lantai bawah.

"Iya bu???" Balasku seraya melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar.

Akupun menghampiri Ibu yang sedang menungguku di anak tangga pertama.

"Kenapa bu?"

"Ibu minta tolong ya? Beliin buah-buahan di mini market depan. Buat salad buah, terserah kamu apa aja." Ucap Ibu sambil memberiku beberapa lembar uang.

"Tapi kalau salah milih gimana?"

"Udah, masa kamu nggak ngerti sih beliin buah doang. Sore ini temen ayah mau mampir."

"Ya udah. Aku mandi bentar ya bu." Akupun langsung membalikkan badan menuju kamar.

"Ya ampun belum mandi juga? Cepetan ya!"

"OKE BUUUUUU!" Teriakku sambil mempercepat langkah kaki.

Dengan gerak cepat akupun mandi pagi yang kesiangan. Setelah rambutku di hairdryer, langsung kuambil uang yang tadi Ibu kasih dan pergi keluar rumah. Lingkungan disini memang benar-benar sepi. Langkah kakiku saja mungkin terdengar sampai teras rumah Dio. Bersamaan ketika aku membuka pintu gerbang, pintu gerbang rumah didepanku pun sama-sama terbuka. Ya, itu rumah Dio. Tapi, paling-paling asisten rumah tangganya atau anggota keluarganya yang membuka. Untuk apa siang-siang terik begini ia keluar rumah?

Saat aku menutup kembali pintu gerbang, terdengar suara sepeda dari sebrang sana. Akupun menengok ke arah rumah Dio. Benar saja, sudah ada sepeda gunung bertengger disana. Namun tak ada orang sama sekali yang menaikinya.

Beberapa detik aku terdiam menunggu sang pemilik, tapi tak ada satu orangpun yang keluar dari dalam. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan langkahku menuju minimarket.

Baru saja beberapa meter aku berjalan, gerbang rumah Dio kembali berbunyi pertanda sang pemilik menutupnya. Akupun langsung menengoknya. Tunggu, apa itu Dio? Sudah tinggi sekali dia! Aku saja kalah dengannya. Ia hanya memiliki satu kakak dan kakaknya seorang perempuan. Sudah dipastikan itu Dio. Sayangnya, wajahnya tertutup karena memakai topi hitam ditambah lagi topi dari jaket yang ia pakai. Ketika dirinya sudah menaiki sepeda, pandanganku langsung lurus kembali. Berpura-pura tidak memperhatikannya.

Tak lama kemudian, dirinyapun melewatiku dengan sepedanya yang dikayuh dengan cepat. Pakaian yang serba gelap membuatnya terlihat misterius. Memangnya, ada apa sih dengan dirinya?

Kira-kira, Dio masih mengingatku tidak ya? Tapikan, ibunya sering berkunjung ke rumahku. Setidaknya dia tau kalau aku ini masih ada.

Sesampainya di minimarket, sepeda yang terparkir didepan minimarket menjadi pusat perhatianku. Sepeda berwarna merah itu persis seperti Dio yang naikki tadi. Mungkin didalam ada Dio? Aku harap kita bisa saling menyapa jika bertemu.

Dengan semangat 45 akupun berjalan memasuki minimarket.

Dan, ah-aku terlambat. Dio sudah berada didepan kasir dengan kantong belanja yang berada digenggamannya. Kakiku melangkah menuju rak buah, namun mataku diam-diam melihatnya yang sudah pergi menuju sepedanya. Ia menggantungkan kantong belanja kecilnya pada stang sepeda. Kalau diperhatikan, kulitnya putih. Hidungnyapun mancung. Oh, come on. 9 tahun aku tidak pernah bertemunya kembali. Wajar saja kalau aku lupa bentuk wajahnya. Dan pastinya dia banyak berubah.

Baiklah, mungkin tidak sekarang untuk saling sapa.

Setelah selesai membeli buah-buahan segar, akupun kembali ke rumah. Ah, sore ini akan membosankan sekali jika tamu Ayah adalah orang yang kaku dan serius. Duh Dela, kenapa jadi berpikiran buruk.



YOK LANGSUNG SWIPE UP BACA CHAPTER SELANJUTNYA!!!

EH, WAIT-WAIT. VOTE SAMA KOMEN BOLJUG.

cool smileWhere stories live. Discover now