18. Musuh yang sebenarnya

1K 122 3

Kevan menatap jam tangan nya dengan raut wajah datar. Sekarang masih jam 1 siang, tapi Kevan tidak mau membuat Keylo nya menunggu lama. Terlebih lagi, ada sesuatu yang membuat Kevan harus waspada. Sesuatu yang mungkin akan membuat Keylo nya terluka.

"Van, si Keylo kapan pulangnya?" Ucap Gilang yang ikut bersamanya ke sekolah Keylo. Mereka sekarang sedang mangkal di pangkalan ojek, bukan untuk naik ojek atau nyari penumpang! Tapi untuk menjemput Keylo tentunya.

"Sejam lagi kayaknya.."

"Buset masih lama gan!" Keluh Gilang kesal. Cowok itu emang tipikal orang yang tidak sabaran.

"Tungguin bentar, nanti lu gue traktir bakso dah.."

Mata Gilang berbinar seketika. Ia mengangguk cepat dan mulai melanjutkan patroli dengan siaga. Sementara Kevan? Cowok itu masih fokus menatap gerbang sekolah, memastikan Keylo patuh pada ucapannya.

"Van, liat dah.. itu bukannya-"

"Gue kayaknya harus cabut duluan, lu yang anterin Keylo ke kost an ya?" Ucap Kevan tiba-tiba, Gilang yang shock dengan perintah dadakan itu pun melototkan matanya tak terima.

"Weh, maksudnya apa nih?!"

"Gue urusin dulu dia.. lu anterin Keylo."

"Van, gak bisa gitu gue-"

"Turutin gue aja lang!"

Gilang mengangguk patuh. Ia mulai faham sekarang kenapa Kevan mengajak nya untuk menjemput Keylo. Mungkin karena Kevan tidak bisa melakukan semuanya sendiri?

Dengan hembusan nafas berat, Gilang tersenyum. Ia menepuk pundak Kevan pelan, memberikan sedikit semangat untuknya. Sementara Kevan mendengus kasar, ia meregangkan otot-otot tangannya refleks. Pokoknya, ini harus selesai sekarang juga! Kevan tidak mau Keylo nya terkena masalah.

"Gue cabut dulu ya Lang."

"Ok, cepet balik!"

Kevan mengacungkan jempol nya sebagai respon untuk ucapan Gilang. Ia mulai mengudarakan langkahnya cepat.

Sementara Gilang menatap punggung tegap Kevan. Ada sedikit perasaan khawatir untuk temannya itu, tapi segera Gilang singkirkan.. karena Gilang percaya, Kevan itu kuat.

"Sip, waktunya jemput tuan putri ke kelasnya."

***


"Assalamualaikum! Abang Gilang here~"

Keylo mengerutkan keningnya heran saat sesosok makhluk kasat mata menghampirinya dengan segurat senyum aneh di wajahnya. Ia menatap wajah yang setia mengulas cengiran lebar itu pekat.

"Saha sia?"

"Anjir!" Ucap Gilang dongkol. Ia menghembuskan nafasnya pelan. "Lupa lu sama pangeran?"

"Pangeran gue Kevan, lu mah babu nya." Ucap Keylo keceplosan, ia segera menutup mulutnya refleks. Gilang yang hendak mengomel pun malah tertawa lepas, karena melihat pipi Keylo yang bersemu merah.

"Cie.. cie.. nerima takdir cie.."

"Sialan!" Tawa Gilang menyembur hebat karena umpatan penuh kesal dari Keylo. Bukan hanya Gilang yang cekikikan, Darrel dan Andra yang dari tadi hanya menjadi cicak penyimak pun ikut ngakak.

"Aduh.. gara-gara lope." - Darrel.

"Untung gue masih laki straight." - Andra.

"Bacot lu pada!" - Keylo.

"Bhakss.." - Gilang.

Keylo dongkol setengah mati. Ia berdiri dari bangkunya dan menyerobot tas nya cepat. Dengan segenap emosi yang membludak, ia berjalan keluar kelas sembari menyenggol tubuh Gilang sampai tubuh ramping cowok itu nyungsep di bangku Andra.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAA.." teriak Gilang saat bibirnya tak sengaja cipokan dengan bibir Andra. Andra hanya memasang wajah flat, ia menatap Gilang jengkel.

"Lebay amat lu!"

"First kiss gue goblok!" Ucap Gilang kimochi *eh emosi. Ia mengusap bibirnya sambil bergidik geli. Sementara Andra? Cowok itu hanya mengangkat bahunya cuek, seakan kejadian tadi hanyalah angin kentut yang numpang lewat.

"Lu gak kaget gitu?" Tanya Gilang kesal. Andra menoleh, ia menghembuskan nafasnya pelan. "Ciuman kayak gitu? Itu udah biasa buat gue.. gue sering cipokan, jadi respon gue gak sealay jones kek lu."

Gilang mendelikan matanya tajam. Percuma saja dia berdebat dengan Andra, cowok itu tak pernah mau mengalah!

"Serah lu, mending gue nyusul Keylo daripada debat sama cowok datar kayak lu!" Ucap Gilang sambil menghamburkan langkahnya kesal keluar kelas. Darrel yang dari tadi menyimak perdebatan antara sahabatnya dengan Gilang pun hanya bisa menghembuskan nafasnya malas.

"Dra, gue tunggu di parkiran ya.. cepet beresin tas lu." Ucap Darrel yang langsung di sambut hangat oleh anggukan kepala dari Andra. Ia langsung mengudarakan langkahnya keluar saat melihat Andra mulai memasuk-masukkan bukunya kedalam tas.

Sementara Andra menghembuskan nafasnya pelan. Ia menatap punggung Darrel yang perlahan menjauh darinya. Ada sedikit perasaan aneh yang mengganggunya saat ini. Perasaan yang membuat pikirannya tidak karuan.

"Gilang sialan!"

***

"Key!"

"Oy!"

"Keylo!"

"Astaghfirullah Key tungguin aing!"

Keylo menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Gilang yang dari tadi mengejarnya dengan kecepatan turbo pun terhuyung jatuh menabrak tubuh Keylo. Keduanya meringis spontan, terutama Gilang yang harus mendapat jitakan plus plus dari Keylo.

"Sialan lu Lang!"

"Lu sih, berhenti gak ngode dulu!"

"Lu nya aja jalannya kayak emak-emak kesurupan setan sembako!"

"Gue kan ngejar lu duhai princess nya kepan!"

Keylo mendengus. Ia berdiri dan menepuk-nepuk celananya spontan. "Kevan mana? yang gue tungguin dia bukan lu!"

"Si Kevan ada urusan mendadak, tar juga dia nyusulin lu ke kost an."

"Iya kan dia satu kost an sama gue, bwambank!"

Gilang menyengir, ia merangkul pundak Keylo refleks. "Ayok pulang Abang Gilang ganteng kelaparan pengen mamam.."

Keylo menghempaskan tangan Gilang kasar, dan mendorong tubuh cowok itu sekuat tenaga. "Mamam noh tong sampah!" Ucap Keylo saat tubuh Gilang jatuh terduduk di samping tong sampah. Gilang hanya menggeleng pelan, sumpah demi apapun.. uke Kevan ini killer sekali.

"Lu jangan galak-galak napa sama gue.."

"Serah gue lah!"

Gilang mendengus, percuma saja berdebat dengan Keylo. Cowok itu sebelas dua belas dengan Andra. Sama-sama keras kepala!

"Ayok pulang Key.." ucap Gilang dengan senyuman paksa. Keylo yang tidak punya pilihan lain pun mengangguk patuh, andai saja Andra bawa motor.. Keylo pasti lebih memilih nebeng ke sohibnya daripada bertengger di motor Gilang.

Ya suga lah Key..

Syukuri saja :'v




________Zzz_______

Maaf ya gan lama update :') saya itu tipikal orang moodyan jadi kalo ngetik cerita harus di dukung mood dan inspirasi yang ngalir, bukannya males update, tapi ya emang gak dapet feel nya, kalo saya paksain malah jadinya kurang srek :') moga gak pada kabur ya. Minta vote and komen!

MY STUPID ENEMY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang