Prolog

662 36 0
                                        

"Foto aku cepet ih fotoo",

memberikan ponselnya pada Qirae yang tengah asik makan sosis panggang. Qirae pasrah dengan permintaan sahabat kecilnya itu, dia menyimpan sosisnya lalu memotret Azulla.

Terlihat Azulla sedang berpose, menampilkan sisi cantiknya pada jepretan kamera. Ia harus berpenampilan instagramable agar like dan followers-nya bertambah.

Meskipun followersnya sudah mencapai 10K, menurutnya itu masih sedikit dan kurang untuk menjadi seorang yang famous.

"Udah belum?",

"Belum Rae ih takut fotonya jelek. Yang banyak aja",

"Pegel tau! Bagus ko fotonya. Udah ah, mau makan sosis", ketus Qirae pada Azulla. Pasalnya, Azulla sudah berdiri disana dalam beberapa menit dan hanya mengubah posenya saja.

Dengan menunjukkan raut wajah yang kesal, Azulla mengepal kedua tangannya dan mengerutkan dahi. "Ih, awas aja ya kamu kangen aku!"

Qirae tertohok ketika sahabatnya berkata seperti itu. Benar, hari ini adalah hari terakhir Azulla berada di Indonesia.

Azulla mendapatkan beasiswa di salah satu universitas ternama di Amerika. Berkat kegigihan dan doa dari orang tua, mimpinya menjadi kenyataan.

Azulla adalah anak termuda dikelasnya. Meskipun begitu, dia tidak mau kalah jika berurusan dengan mata pelajaran. Dia hanya ingin menjadi nomor satu di sekolah itu.

Azulla anak yang ceria, sedikit pendiam dan serius. Rambut yang hitam, mata coklat, warna kulit kuning langsat, dan tidak terlalu mancung adalah ciri-ciri wanita Asia yang ada pada Azulla. Tak jarang, banyak laki-laki yang mencoba menembaknya, tapi sayang hasilnya nihil.

---

"Pah, Mah, Zulla berangkat ya", sambil bersalaman dan berpelukan dengan orang tuanya, ia meneteskan air mata. Siapa yang tidak sedih, meninggalkan kedua orang tua yang telah bersama selama belasan tahun, itu pasti berat.

"Jaga diri baik-baik ya nak. Kalau ada apa-apa langsung telepon Papah"

"Siap pak bos!", Merespon tanggapan ayahnya. Azulla melirik pada sahabatnya. Terlihat murung dan tidak mau bertatapan dengan Azulla. Sudah terbaca di wajahnya, dia sedih untuk berpisah dengan Azulla.

Azulla langsung memeluk dan membenamkan wajahnya di tubuh Qirae. "Udah, kamu jangan sedih. Aku juga pasti kangen kamu"

"Hah apaan kamu geer banget! Daripada itu sosis aku gimana hah?! Jatoh tuh disenggol angin"

"Itukan salah angin bukan salah aku"

"Tapikan kamu yang nyuruh fotoin, kan aku jadi terpisah sama sosis tercinta"

"Alay banget sih kamu, huaaa"

Mereka berpelukan dan saling mengoceh satu sama lain. Tidak peduli pada orang sekitar yang melihat mereka mengoceh dengan begitu kencang, mereka tetap cuek, sabodo teuing.

Azulla dan Qirae sudah dekat sejak SD. Karena rumah mereka dekat, dan sering bertemu, mereka memulai persahabatan itu sejak bocah ingusan.

Main bersama, makan bersama, tidur bersama, mandi bersama 'eh. Mereka tumbuh bersamaan dengan seiringnya waktu. Konflik yang timbul antara mereka tidak jarang, tetapi mereka selalu berhasil menghadapi setiap ada masalah.

Sudah seperti saudara kandung, persahabatan antara Qirae dan Azulla memang sudah tertanam hingga akarnya membesar dan tumbuh kuat.

Azulla tersenyum lalu melambaikan tangannya pada semua orang yang mengantar dia ke bandara. Dia membawa koper warna hijau tosca pergi untuk menaiki pesawat, meninggalkan orang-orang yang dia cintai untuk sementara waktu.

"Haaahh",

Suara nafas panjang keluar dari mulut Azulla. Dia telah memilih kursinya di dalam pesawat, dekat jendela. Entahlah, dia memang menyukai pemandangan diluar jendela.

Dia sangat excited dan tidak sabar untuk menapakan kakinya di tanah Paman Sam itu. Terbayang sekilas dalam otak dangkalnya jika dia telah sampai, dia akan menjelajahi seluruh bagian wilayahnya.

"Halo Amerika, I'm coming"

---










Halo apa kabar semua?

Aku kembali dengan membawakan cerita fanfiction dimana ini pertama kalinya aku membuat ff.

Jangan lupa untuk klik bintangnya dan komen jika berkenan.
Tunggu bagian selanjutnya yaa~

A Cup of Coffee || Mark TuanStories to obsess over. Discover now