.1 - [ Dering Monogram ]

65 6 2
                                        

Tokyo, persimpangan Shinjuku, 19.23

Kling

Aku bisa mendengar bunyi bel pada telingaku. Jika aku disuruh untuk merasakannya, dia benar-benar ada disebelahku. Bel yang menunjukkan, orang yang kucari selama ini berhasil kutemukan hari itu.

Suara angin membisikku, dan dirinya seolah mengatakan "Hei, ia sudah melewatimu." Desirannya membuatku menoleh pada laki-laki yang ditunjuk angin malam ini.

Ditengah padatnya suasana Tokyo malam itu. Tepat pukul 19.23 Hari Kamis didalam bulan Januari. Salju yang tiba-tiba turun tanpa meninggalkan pesan pada ramalan cuaca. Aku menemukannya.

"Nande? Daijoubu?*"

*kenapa? Kamu gapapa?

"Oi! Hime-sama!*"

*oi! Tuan putri!

Aku tenggelam. Dalam ramainya malam dan lembutnya salju yang turun tanpa izin. Punggungnya dengan jas kotak-kotak berwarna abu-abu masih terlihat dengan jelas didepan mataku. Rambutnya yang lurus dan potongan rapi dibagian belakang.

"Kamu siapa?" aku bergumam dengan tatapan yang masih lekat pada punggung orang yang tidak bisa aku kenali itu.

"Doushite*?" seseorang dengan suara perempuan membuyarkan tatapanku pada orang itu.

*ada apa?

Tanpa mengalihkan pandangan padanya sekalipun, aku tetap mencari ia yang memakai jas kotak-kotak abu-abu, "Nandemonai..*"

*gapapa

"Hontou ni?*"

*sungguhan?

"Mhm, hontou da*..." Aku kehilangannya. Aku tidak akan menyalahkan mereka berdua. Karena memang disini semua orang yang berada ditengah harus berjalan, jika tidak mereka akan tertabrak. -iya aku tertabrak oleh beberapa orang tadi-

*ya, beneran.

Aku berbalik memeluk dua perempuan yang sedari tadi memperhatikanku. "Apa kalian tadi mendengar suara bel yang jatuh?"

"Bel? Apa barangmu jatuh?" tanya sahabat baikku, Aki.

Hitomi menoleh padaku dengan muka bertanya-tanya, "Bukannya kau tidak punya barang yang seperti itu?"

"Iya, aku tidak mempunyainya.. Mungkin itu hanya halusinasiku saja," jawabku dengan santai dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

Mereka tidak boleh tau apa yang aku dengar barusan. Bisa jadi itu sebuah pesan rahasia untukku. Karena dia yang mengirim suara itu, tidak memperkenankan orang disekitarku mendengarnya.

Hai, Tokyo. Semoga diriku akan megingat setiap detik pertemuan dengannya. Aku akan menyimpan rasa kagumku pada bel yang jatuh hari ini. Didepan Lo;ttes café, dia mempertemukanku dengan jas kotak-kotak berwarna abu-abu.

[ ' ]

"Jangan lupakan waktu dimulainya kau tersadar dan tertidur, Yuuki Akari-hime."


____________________________________________ 31.05.2020

hai gais! easi balek dengan sebuah fanfic haha!

jujur ini aku uda dari lama pengen ngerilisin ini, seenggaknya aku uda siapin plot twist nya lah..

btw support kak barxbiee dan ytkenzaki untuk terus berkarya!

sebelumnya aku dah bilang lo kalo ini cuman fanfiction.. oke sekian easi sekalian dabel apdet biar tambah semangat bubai

Periwinkle KnocksWhere stories live. Discover now