✏1

16 6 3
                                        

“IBUUUUU, Anya menang lomba Matematika! Anya juara 1!” teriak Anya kegirangan sambil berlari masuk ke rumahnya begitu turun dari mobil.

Namun, tak ada jawaban.

“Kok gak ada yang jawab?” pikir Anya.

“IBUUUU? KAK DODIIIIII? BI IKEEEEE?” teriak Anya lagi.

Merasa kebingungan karena tidak ada yang menjawabnya, Anya pun memutuskan untuk menaiki tangga ke lantai 2 dan memeriksa ke kamar ibunya.

Namun, tidak ada seorang pun disana.

“Ibu dimana ya? Ahh, mungkin lagi di kamarnya kak Dodi. Iya, pasti Ibu ada di kamarnya kak Dodi.” pikir Anya.

Setelah membuka pintu kamar kakaknya, Anya pun juga turut mendapati kamar yang kosong dan sepi.

“Kemana semua sih orang di rumah ini? Ibu gak ada, kak Dodi gak ada, masak bi Ike juga gak ada?” ujar Anya, sebal.

Anya akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada pak Totok, sopir yang tadi mengantarnya.

“PAK TOTOKKKK, WHERE ARE YOUUU?” jerit Anya sambil berjalan menuju garasi rumahnya.

Sesampainya di garasi, Anya kembali dibuat kebingungan dengan raut wajah pak Totok yang terlihat pucat pasi.

“Pak Totok kenapa wajahnya pucat gitu?” tanya Anya.

“Anu non, itu loh non, ibunya non Anya.” jawab Pak Totok tergagap-gagap.

“Aduh pak Totok kenapa jawabnya gagap-gagap gitu! Ibu kenapa, cepetan jelasin!” ujar Anya panik.

“Itu non, barusan saya ditelpon sama den Dodi. Katanya den Dodi, non Anya disuruh cepet-cepet ganti baju, soalnya ibunya non Anya lagi di rumah sakit.” jawab pak Totok dengan wajah yang juga sama paniknya dengan Anya.

.
.
.
.
.
.
.

Apakah yang terjadi pada ibunya Anya?
Mengapa pak Totok bisa sepanik itu??

Tunggu kelanjutan ceritanya ya, SEGERA!
Jangan lupa untuk vote dan tinggalkan komentar di bawah ini ya😃

Si Bora Tukang Tulis akan segera kembali🤗

"Malam Itu"Donde viven las historias. Descúbrelo ahora