Aku

28 1 0
                                        

Seorang gadis bermata biru berjalan dengan anggun. Senyumnya selalu tercetak jelas. Tak lupa sepanjang jalan dia menyapa orang-orang di sekitarnya.

Langkah gadis itu terhenti ketika merasakan tubuhnya basah. Orang-orang di sekitar ada yang tertawa dan ada pula yang mengasihani. Anehnya, gadis itu tetap tersenyum seperti biasa.

"Terima kasih atas hadiahnya. Sayang, aku sudah mandi. Jadi ... kau hanya memboroskan air." Bahkan suaranya pun sangat merdu, membuat tangan seseorang terkepal.

"Kau masih tersenyum? Apa ini belum cukup untuk membuatmu malu?"

"Kenapa aku harus malu?"

Pertanyaan gadis itu membuat si biang onar terdiam. Kepalannya semakin erat.

"Kau tak apa, Han?" tanya seseorang.

"Tenang saja. Lagian ini bukan yang pertama kalinya. Ayo ke kelas, Bil."

"Kau lihat itu. Aku sangat ingin memberi gadis itu pelajaran. Akan kubuat dia menderita malam ini," ucap seorang gadis kepada laki-laki di sampingnya.

"Tenang, Sa. Aku akan membantumu. Sebelumnya, bagaimana kalau aku memberinya kenikmatan dulu baru kau membuatnya sengsara? Atau ... akan kubuat dia sengsara dengan adik kecilku ini," ucapnya sambil melirik ke bawah.

Gadis yang dipanggil Sa tadi tertawa senang. Dia yakin sekali malam ini akan menjadi malam yang terindah sepanjang hidupnya. Gadis itu tampak tak sabar melihat mangsanya kesakitan dan memohon ampun.

"Jangan kecewakan aku, Rio."

Rio hanya terkekeh. Senyum liciknya bereaksi begitu juga dengan imajinasinya akan malam ini.

Sepanjang pelajaran, Bila tak tenang membuat sahabatnya bertanya. Tak ada jawaban, hanya gerakan dari tubuhnya yang menandakan bahwa dia sedang gelisah.

"Han. Malam ini, jangan keluar ke mana pun. Mengerti?"

Hana mengernyit tak mengerti. Alisnya bertautan. Memangnya kenapa jika dia ingin keluar malam ini?

"Aku bilang jangan, berarti jangan!" Bila kembali menegaskan pernyataannya. Bola matanya menatap lurus manik biru Hana.

"Aku mohon," pinta Bila.

Hana mengembuskan napas kasar. Dia tak bisa menolak permintaan sahabatnya. Akhirnya, Hana menyanggupi. Tetap saja, Bila tak yakin bahwa Hana akan menepati. Dia yakin, malam ini adalah malam terburuk. Lebih buruk dari yang terburuk.

***

Hana baru saja ingin memasuki rumah, ketika terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Layarnya menampilkan pesan dari Rio, cowok yang dia sukai.

"Malam ini, maukah kau keluar denganku?"

Hana memeluk ponselnya dan berputar-putar. Segera jari lentiknya menari di atas keyboard dan menekan tombol send. Ya, dia akan menemui pujaan hatinya. Tiba-tiba raut wajah Hana berubah. Senyum manis berubah menjadi seringai sambil memiringkan kepalanya.

Dia ingat bahwa Bila melarang untuk keluar malam ini. Tapi, tidak ada yang bisa menghentikannya, bukan? 

Hana melangkah menuju kamar kakaknya. Mereka saudara kembar.

"Kak?"

Tak ada jawaban. Hana mengetuk pintu kamar kakaknya.

"Masuk."

Perlahan Hana membuka pintu kamar. Maniknya diedarkan ke seluruh penjuru ruangan. Dilihatnya sang kakak sedang asyik membaca buku dengan sampul berwarna merah dan memiliki kesan dark. Tanpa perlu bertanya, Hana sudah tahu buku apa yang dibaca oleh kakaknya.

AkuWhere stories live. Discover now