Prolog

989 58 4
                                        

Tatapan mataku terpaku pada sebuah gambar dalam album usang yang tak pernah kubuka setelah hampir dua belas tahun.

Potret seorang remaja laki-laki yang tengah memegang alat musik di atas panggung itu jelas menarik minatku. Wajahnya yang tenang. Tatapannya yang meneduhkan. Dan senyum tipisnya yang selalu terlihat jelas di mataku.

Perlahan kupejamkan mata. Menghirup oksigen sebanyak yang bisa ditampung paru-paruku. Lalu menghembuskannya pelan.

Satu kenyataan mengusik hatiku.

Aku merindukannya.

Teramat sangat merindunya...

  

💜

 

Eaakkkk.....

Cerita baru lagi...
Padahal masih ada AIRI yang belum kelar.. wkwkwk.....

Gak tau ngapa, ni tangan gatel banget pen update yang ini... Rencananya malah udah dari tahun lalu pen upnya, tapi baru kesampean sekarang wkwkwk....

Sedikit informasi..

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang pernah aku alami. Ada beberapa bagian di dalamnya yang aku ubah. Gimanapun juga aku kan mesti jaga privasi yang bersangkutan kan ya.

Niat aku bikin cerita ini cuma pengen sharing aja. Nggak ada maksud untuk menjelekkan atau menjatuhkan atau apapun itu yang bersifat negatif. Aku cuma mau nge-share aja. Kalau ada yang merasa keberatan atau apapun itu (aku harap sih nggak ada ya), silakan DM aku langsung. Yang pasti sepanjang nulis cerita ini perasaan aku campur aduk banget.

So...

Semoga kalian syukaaa..  😂😂😂😂

   

Bangka, 17.02.20
Dwi Marliza

Nb. Kalau ada yang ngerasa pernah ngalamin hal yang sama —benar-benar sama/mirip/serupa— mungkin emang kamu yang lagi aku ceritain di sini.

Iya, kamu.. 😁😁

LangitStories to obsess over. Discover now