Akhir tahun semester sudah tiba, guru-guru mulai membagikan hasil belajar para siswa-siswinya.
Untuk siswa kelas 9 mungkin ini adalah penentuan apakah mereka masuk ke SMA Negeri atau swasta.
Berbagai reaksi dari orang tua muncul ketika guru membagikan rapor serta menyampaikan beberapa pesan untuk anak mereka.
Contohnya ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Anak ibu mendapat nilai yang bagus, baik dari ketrampilan maupun pengetahuan. Hanya sedikit kurang di bahasa Inggris," ucap seorang pria paruh baya.
"Lalu? Bagaimana kelakuannya selama di kelas, pak?"
"Hm, untuk itu sepertinya saya harus bicara serius."
"Ibu tau, selama saya mengajar di kelas. Saya sudah beberapa kali menangkap basah anak Ibu sedang tertidur ketika saya mengajar."
"Yang bener, Pak?"
"Ya, Bu. Elin sudah saya tegur berkali-kali namun ia masih saja tertidur di kelas. Beberapa guru juga mengeluhkan hal yang sama."
"Meski Elin memiliki nilai yang cukup bagus. Saya khawatir jika sifatnya terus-terusan seperti itu, ia akan dikeluarkan dari SMA-nya nanti."
"Apa Ibu sudah memantau tidur Elin ketika malam?" Lanjutnya.
Ibu Elin menghela nafas. "Dia memang suka sekali bermain game, bahkan sampai bergadang."
"Saya sudah menyita hpnya, namun ia selalu saja dapat mengambil kembali hpnya. Menurut Bapak, apa yang harus saya lakukan?"
"Saya sarankan, untuk SMA nanti Elin dimasukkan ke dalam pesantren."
Ia mengerutkan kening, "Pesantren?"
"Ya, itu adalah cara satu-satunya untuk mengubah sifat buruk Elin. Disana ia akan dididik dengan peraturan yang ketat, serta akan mendapat pendalaman tentang agama. Tapi keputusan kembali kepada Ibu, saya hanya memberi saran."
"Oh, begitu ya."
Guru tersebut tersenyum. "Iya, Bu."
"Terima kasih, pak. Kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ibu Elin segera beranjak pergi dari kelas itu. Sebelum pulang, ia sempat menelpon sang suami untuk mendiskusikan saran dari guru Elin.
***
"Ayo, cepetan serang!"
Seorang gadis tampak duduk di kasurnya, sembari memegang ponsel dan berteriak berkali-kali. Entah apa yang ia mainkan sampai emosi seperti itu.
"Ah, farming terus! Cepetan kumpul njir!"
"Jadi mati, kan!"
"Ayo, kumpul tengah! Serang bareng!"
Ia masih fokus dengan ponselnya, sampai terdengar sebuah suara.
Victory!
"Yes, nambah lagi bintang gue!"
Ya, gadis itu adalah Elin. Ia sedang memainkan game moba, game yang seringkali membuat orang menjadi emosi.
Elin mematikan ponselnya dan melirik ke arah jam dinding. "Kok Ibu belum pulang, ya? Masa iya ngambil raport sampe segini lamanya?"
"Hm, pasti gue dapet nilai jelek lagi, dah. Makanya Ibu sampe selama ini." Ia membaringkan dirinya di kasur. "Bodo, ah. Gue mau tidur aja, capek kelamaan main game."
Gadis itu memejamkan matanya sejenak, bersiap untuk segera tidur. Tetapi belum sempat tidur, sudah terdengar suara ketukan dari pintu depan.
Tok! Tok!
"Elin! Buka, Nak!"
Elin segera beranjak, sambil membalas seruan sang Ibu. "Iya, Bu. Sebentar!"
Ia berlari menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya, ketika ia melihat ada sosok sang Ayah di sana.
"Eh, Ayah udah pulang?" tanyanya dengan penuh kebingungan.
Ayahnya masuk ke dalam. "Iya, ada yang mau Ayah bahas bareng kamu soalnya."
Mendengar nada bicara Ayahnya yang tak bersahabat, membuat Elin semakin khawatir.
Ibunya yang sadar akan kekhawatiran Elin, segera mengelus punggungnya. "Ayo, Nak. Kita duduk bareng Ayah."
"I-iya, Bu."
Elin dan Ibunya pun ikut duduk di samping sang Ayah. Tak lama, Ayahnya mulai membuka suara. "Jadi begini, Ayah dengar katanya kamu sering tidur di sekolah. Benar?"
Deg!
Jantung Elin berdetak kencang, sebenarnya ia sudah menduga kalau hal ini akan terjadi dan Elin memilih untuk jujur. "I-iya, Yah."
Hening sejenak, sampai lelaki itu mulai memukul meja.
Brak!
"Kenapa?! Padahal Ayah sudah berkali-kali bilang, jangan terus-terusan main game! Apalagi sampe begadang setiap hari!
"Bahkan Ibu juga udah sering menyita ponsel kamu, tapi kamu masih aja bandel! Masih aja main game terus! Untung saja nilai kamu masih bagus, meski kelakuanmu kayak begitu."
Elin terdiam, ia tak ingin melawan Ayahnya sama sekali. Apalagi ketika ia sedang emosi seperti ini, pasti akan reda lagi nanti. Begitu pikirnya.
Ayahnya menghela napas panjang. "Ayah dan Ibu sudah memutuskan kalau kamu akan masuk pesantren tahun ini."
"Hah?! Pesantren?!" Elin yang tadinya santai, langsung berdiri dengan penuh terkejut.
"Iya, Ayah dengar ada anak teman Ayah yang dimasukkan ke pesantren dan beberapa bulan sifatnya berubah menjadi baik. Mungkin dengan cara itu juga, kamu akan berubah," jelas Ayahnya.
"Ayolah, Yah. Aku kan anak tunggal, ya tentu aja aku nyari hiburan dengan main game. Lagian tadi Ayah bilang kalau nilai aku masih bagus, kan? Masa iya mau dimasukin ke pesantren?"
"Ayah tidak pernah mempermasalahkan nilai, yang ayah pikirkan itu sikapmu. Bagaimana masa depanmu kalau kamu terus-terusan begini? Main game tanpa henti, sudah seperti kecanduan."
"Iya, Nak. Untuk kali ini Ibu juga setuju dengan Ayah. Lagipula, pesantren gak seburuk itu, kok. Kamu bisa mendapat banyak teman dan pengalaman di sana," timpal sang Ibu yang sedari tadi tidak berbicara.
Tangan Ayahnya mengelus punggung putrinya tersebut. "Elin, kamu itu anak satu-satunya yang kami punya. Karena itu, kami mau kamu berubah. Kami mau kamu menjadi anak yang sholehah, karena kami juga gak tau sampai kapan umur kami masih ada."
"Jadi, untuk kali ini kamu mau dimasukkan ke pesantren, ya?" pinta Ayahnya dengan suara lembut.
Melihat tatapan keduanya yang penuh harap, Elin pun tak bisa berkata apa-apa lagi. "Oke, aku mau masuk ke pesantren."
"Terima kasih, sayang." Lelaki itu memeluk anaknya. "Ayah berjanji, kamu gak akan menyesal dengan keputusan kamu."
Elin membalas pelukannya. "Iya, Elin harap juga begitu."
Sejujurnya, Elin masih tak terima dengan keputusan ini. Namun melihat kedua orang tuanya yang sudah memohon, ia tak tega untuk menolaknya.
Semoga saja, ia tak akan menyesali keputusannya.
Semoga seperti itu.
YOU ARE READING
Pesantren
Teen FictionElin, gadis pemalas yang kerjaannya cuma tidur dan ngegame. Di sekolah pun, ia masih sempat untuk tertidur. Fara, seorang kpopers akut. Penganut "Bias is mine". Suka bikin rusuh di sosmed kalo ada war antar fandom. Syifa, mungkin cewek ini lebih no...
