P R O L O G

137 4 2
                                        


***

Jakarta.

Seorang perempuan berwajah blasteran yang mengenakan jaket berwarna hitam dan celana jeans putih panjang dengan robekan di lututnya ala celana jaman now, berjalan menuju tempat pengambilan bagasi. Rambutnya yang berwarna cokelat keemasan tergerai panjang mencapai punggungnya jelas menunjukkan bahwa dia bukan orang asli Indonesia. Kacamata hitam bertengger manis di tulang hidungnya membuat cewek itu terlihat sangat keren. Dia berjalan menuju luar setelah mengambil kopernya. Senyumannya mengembang sempurna sambil menatap langit yang cerah. Dia melentangkan tangannya menghirup udara panas yang selalu ia rindukan.

Oh, betapa rindunya ia dengan Jakarta. Mengingat disini adalah tempat dimana ia dilahirkan. Dan kini ia kembali lagi setelah  bertahun-tahun meninggalkan Jakarta. Dia membuka kacamatanya yang semula bertengger ditulang hidungnya, lalu meletakkannya diatas rambutnya, seperti sedang memakai bando.

"Samara!" panggil seorang perempuan yang membuatnya menoleh.

Senyumannya mengembang lebih sempurna saat melihat sahabat lamanya itu. Aksi pelukan ala teletubbies itu pun berlangsung. Kedua sahabat yang telah lama tidak berjumpa itu saling melampiaskan rasa rindu mereka.

Setelah aksi pelukan mereka, Samara mencubit kedua pipi Freya. "Lo kok tambah tembem, sih?!" ujarnya

Dengan kesal, Freya mengapit hidung mancung Samara dengan telunjuk dan jari tengahnya. "Lo nyebelin!" Samara terkekeh.

"Eh, gue laper, nih! Ayo makan!" seru Samara semangat. Ia mulai membayangkan betapa lezatnya sate, bakso, dan masih banyak lagi yang ingin ia makan hari ini juga.

"Oh, ya, Frey, kenapa tante Fani dan om Daniel gak ikut?" tanya Samara setelah berada didalam mobil.

Freya menghela nafasnya. "Biasa. Masih sibuk sama pekerjaan mereka."

Samara hanya mengangguk dengan mulutnya yang berbentuk O. Sejak dulu Samara dan Freya selalu main berdua jika kedua orang tua mereka sedang sibuk. Samara yang selalu sendirian, sama seperti Freya. Bedanya, Samara memiliki seorang nenek yang sudah dianggapnya sebagai ibunya. Sedangkan Freya hanya dijaga oleh asisten rumah tangganya saja. Untungnya rumah mereka bertetanggaan. Jadi setiap mereka sedang bosan, Freya akan main kerumah Samara.

Nasib mereka sama, sehingga mereka bisa saling mengerti betapa mereka membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Dan Samara merasa lebih beruntung karena memiliki seorang nenek yang selalu ada untuknya. Sedangkan Freya hanya sendiri saat kedua orangtuanya sibuk. Namun Freya cukup bersyukur memiliki tetangga sekaligus sahabat seperti Samara yang selalu ada untuknya. Meskipun Samara pindah jauh, cewek itu masih tetap menghubunginya lewat video call selama lima tahun ini.

"Tenang aja, sekarang kan ada gue yang bisa temenin lo." ucap Samara sambil merangkul akrab Freya.

"Ahh... Betapa senangnya gue!" Samara tertawa melihat reaksi bahagia sahabatnya itu.

***

Rumah besar itu yang tadinya hanya diselimuti keheningan kini menjadi lebih berwarna setelah kepulangan cucu tersayangnya. Wanita yang kini berusia 80 tahun itu mengusap lembut pipi Samara yang menyandarkan kepalanya dibahu neneknya itu. Kedua perempuan yang berbeda usia cukup jauh itu duduk di sebuah kursi ditaman menikmati angin sejuk sore itu sambil sesekali tertawa bersama karena cerita Samara.

Samara merasa bahagia melihat tawa neneknya. Sejujurnya dia merasa menyesal telah meninggalkan neneknya disini yang hanya bersama beberapa asisten rumah tangga. Samara sudah meminta neneknya untuk pindah ke London bersama mereka, namun neneknya menolak. Mungkin dia merasa lebih nyaman tinggal di Jakarta.

Samara melirik sekilas jam silver yang melingkari pergelangan tangannya, "Sudah jamnya minum obat, nek. Ayo!" Samara beranjak dari kursinya, lalu membantu neneknya berdiri.

"Hai nenek, istri Justin Bieber datang!" seru seorang perempuan yang baru saja menginjakkan kakinya kedalam rumah.

Samara yang menyiapkan obat untuk nenek memutar bola matanya, "Jijik lo!"

Freya hanya cengengesan. "Ayo!"

Samara mengernyit. "Kemana?"

"Jalan-jalan!" jawabnya semangat.

"Gue belum siap-siap tau?! Lo gak bilang-bilang dulu, sih!" gerutu Samara setelah memberikan obat pada neneknya.

Freya tersenyum lalu merangkul akrab Samara, "Tinggal ganti baju doang kali,  Ra. Ribet amat, sih?!"

"Udah, sana siap-siap dulu." ucap neneknya.

Samara mendengus, "Tunggu bentar."

"Gak pakai lama!"

"Iya, bawel!" setelah itu, Samara buru-buru berlari kekamarnya untuk mengganti pakaiannya, lalu memakai bedak dan mengoleskan liptint pada bibirnya. Setelah itu, Samara segera turun kebawah sambil meraih tas clutch berwarna putihnya.

***

"Jadi, lo kenapa pulang kesini?" tanya Freya.

"Kangen sama nenek dan lo. Hehe..." jawab Samara.

Freya memutar bola matanya malas. "Terus lo LDR-an dong sama pacar lo? Hahaha..."

Dengan kesal, Samara menjitak kening Freya yang terlihat mengejek. "Biasa aja keleussss..."

"Sabar aja, Ra. Disaat LDR begini, biasanya kesetiaan itu sedang di uji." ujar Freya sambil merangkul pundak Samara.

"Tapi biasanya bule itu kebanyakan playboy. Jadi, lo harus jaga cowok lo baik-baik!" lanjutnya lagi yang membuat Samara mencubit perut Freya.

"Dasar! Ini ceritanya lo lagi manes-manesin gue, hah?!" ujar Samara. Sedangkan Freya justru terkekeh melihat ekspresi Samara.

"Eh, gue serius kali!"

Samara terlihat sedang berpikir. Namun sedetik kemudian, Samara menggelengkan kepalanya. "Cowok gue gak gitu kali! Gue percaya. Lo mah jangan bikin gue negatif thingking terus, ah!"

Freya terkekeh lagi, "Iya, iya! Kalau dia beneran cinta sama lo, ya gak mungkin berpindah hati disaat kalian sedang menjalani Long Distance Relationship."

Kini giliran Samara yang terkekeh mendengar ucapan Freya yang sok puitis. "Alay lo! Makanya lo cepetan punya pacar biar tau rasanya."

Freya mengerucutkan bibirnya, lalu memukul lengan Samara. "Lihat aja lo kalau gue sudah punya pacar nanti!" Freya menjulurkan lidahnya pada Samara.

Samara terkekeh lalu membalas ejekan Freya. "Gue tunggu!"

***

Terimakasih sudah baca, jangan lupa vote dan saran jika ada kesalahan:)

-Jee

Samara (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang