TCB (1)

118 16 5
                                        

Hiruk-piruk para penumpang, terlihat jelas di pandangan mata Namiya saat menginjak Bandara Halim Perdanakusuma. Ia memerhatikan sekeliling, ia sangat merindukan suasana ramai seperti saat ini.

Sambil menunggu kedatangan papa dan abangnya, Namiya berjalan kesebuah bangku yang terletak di sudut koridor. Dipasangnya earphone berwarna putih miliknya, lalu memutar lagu Pure Shores yang dinyanyikan oleh All Saints.

Tak lama kemudian, papanya pun datang diikuti abangnya dibelakang.

"Sayang, kamu sudah lama menunggu? Maafkan kami telat karena ada hal yang harus kami berdua lakukan terlebih dahulu." Namiya membalas dengan anggukan dan melepas earphonenya. Ia pun berdiri dari duduknya dan langsung memeluk papanya

"Aku kangen papa." Papanya pun membalas pelukan Namiya sambil mengelus puncuk kepalanya.

"Papa juga kangen sama kamu, sayang."

Saat adegan pelukan kangen antara papa dan sang anak gadisnya, tiba-tiba ada suara deheman keras yang membuat adegan saling peluk itu terhenti.

"Kamu cuma kangen papa aja? Abang gak?." Namiya pun melirik kesumber suara, ia melihat muka abangnya yang sudah tertekuk. Ia pun terkekeh dan memeluk abangnya.

"Ich vermisse dich so sehr." Kata Manuel dengan menggunakan aksen Bahasa Jerman disela-sela pelukan mereka berdua.

"Ich auch."

Manuel mengusap lembut kepala Namiya yang berada di dalam pelukannya itu.

"Sudah-sudah acara peluk-pelukannya, mari kita pulang? Mama kalian sepertinya sudah sangat tidak sabar bertemu dengan kamu mia, anak perempuan kesayangannya." Ujar papanya, Joven.

Mendengar apa yang diucapkan papanya, mereka berdua pun mengangguk dan mengikuti langkah sang papa yang sudah lebih dulu berjalan di depan.

>"<

Sesampainya mereka di rumah, langsung disambut wanita cantik yang sedang tersenyum hangat kearah mereka.

"Mama!" pekik Namiya, ia pun langsung menubruk tubuh mamanya dengan pelukan hangatnya.

Terjadilah adegan saling melepas rindu dengan sebuah pelukan antara sang ibu dengan anaknya.

"Mama kangen sama kamu sayang." Ciumnya dipucuk kepala Namiya dan mempererat pelukannya.

"Aku juga kangen banget sama mama" tanya Namiya didalam pelukan Naziva, mamanya.

"Sayang, masuk dulu yuk? Nanti lagi dilanjut peluk-pelukannya, kasihan Mia baru sampai belum istirahat." Usul papa Joven, pelukan antara Namiya dengan mamanya pun terlepas.

"Oh iya, maaf mama kangen banget sama kamu jadi lupa kalau kita belum masuk ke dalam." 

Mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga. Mereka pun mengobrol-ngobrol hangat di ruang keluarga.

"Semuanya, aku izin duluan ke kamar ya? Aku mau bersih-bersih sama beres-beres baju aku dulu." Pamit Namiya meminta izin, semua anggota keluarga pun menganggukkan kepala.

"Abang bantu ya?." Namiya pun menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.

"Ma, pa, aku izin ke atas juga ya? Mau bantu Mia beres-beres." Izin Manuel, Joven dan Naziva pun menganggukkan kepala.

Mereka berdua pun beranjak dari duduk dan pergi ke kamar atas, tepatnya kamar Khalisa.

>"<

"Kamu yakin akan ngelanjutin study kamu di Indonesia? Gak mau balik ke Jerman dan tinggal bersama oma dan opa?." Tanya Manuel sesudah mereka selesai membereskan baju-baju dan kamar.

Namiya pun berhenti sejenak dari kegiatan melepas cepolan rambutnya, dan menatap Manuel lalu tersenyum.

"Iya bang, Mia akan lanjut di Indonesia, lagian aku juga udah bilang ke oma dan opa. Mereka berdua setuju sama keputusan Mia." Manuel pun mengangguk setelah itu ia mengacak rambut Namiya yang masih basah itu.

"Oh seperti itu, bagus kalau begitu. Jadi, abang bisa kontrol kamu setiap hari." Ujarnya, ia pun memeluk Namiya.

Namiya pun tersenyum didalam pelukan Manuel dan ia pun semakin menenggelamkan mukanya ke dada bidang yang dimiliki Manuel.

"Aku sayang sama abang." Ucap Namiya didalam pelukan Manuel.

"Abang juga sayang sama kamu, lebih dari apa pun sayang." Balas Manuel, ia pun mencium puncuk kepala adiknya berulang kali.

>"<

tbc

Begitulah hubungan mereka, adik abang yang sangat goals bukan? walaupun sudah sama-sama besar, tetapi kasih sayangnya masih tetap sama seperti waktu mereka masih kecil dulu. 

- 22 Desember 2019 -

The Chairman's Boyfriend [On Going]Stories to obsess over. Discover now