DONE

127 22 15
                                        

"Ntah perasaan apa ini, kenapa dengannya, sudah lama ku menunggunya, rasa hati ini ingin sekali mengungkapkan yang sebenarnya." Biarlah waktu yang berbicara 'ucapku'
~_~_~

     Silvia dia memperhatikan temannya akhir-akhir ini sedang lesung seperti memikirkan sesuatu, dia berusaha menanyakan dengan lembut penuh rayuan supaya dia menjelaskan apa yang ia alami pikirnya, tetapi dia masih cuek menyimpan perasaan aneh yang sebelum itu belum pernah ia lihat.

     Aku tidak boleh hanya terdiam, dia berbeda jauh dengan Hasan yang selama ini kukenal, tatapan kosong seperti orang yang memiliki gangguan jiwa mendalam serta cuek selalu menyelimuti hari-harinya.
"Santai San selamaku masih sanggup ku akan terus berusaha membuatmu  bahagia walaupun aku sebagai gantinya" 'batin Silvi

     Setelah sebulan ku selalu memberi arahan 'support' tentunya Hasan sudah berkurang cueknya dan wajahnya yang awalnya nampak lesung sekarang sudah ada rasa bergairah, dua bulan sudah mulai membalas chat Wa'ku meski terkadang cuman di read doang😌, tpi sebagai teman sekolah apalagiku temennya sejak kecil kuakan memberi arahan serta menyemangatinya slalu, tiga bulan ia sudah mulai terbuka denganku berbincang-bincang membahas pembahasan yang bertele-tele doang, ya nggakpapalah yang penting dia sudah mulai terbuka

     Empat bulan disinilah yang paling tak terlupakan olehku, hari sebelumnya Hasan mengirim surat kepadaku "Temui aku di belakang rumah, nanti malam pukul 20.00" memang rumahku sama dia cuman berbatas pagar tembok dan pintu besi, ku sengaja datang lebih awal supaya dia tidak menunggu, permisi san-Hasan 'ucapku' dia datang segera membukakan pintu belakang mempersilahkanku duduk di pondok halaman belakang rumahnya,
"tunggu sebentar ya Sil"ucapnya
"Ya"
Dua menit kemudian dia datang kepadaku membawa dua gelas caramel hangat buatannya☕.

     ...Terdiam... kuperhatikan lamakelamaan matanya mulai berkaca-kaca kenapa deng(belum tuntas bicara langsung di peluk) DEG DEG DEG nafasku seperti terhenti sejenak, dia memelukku sambil meneteskan air mata yang ia pendam selamaini.
"

Thanks Sil ku gak akan bisa berbuat apa-apa tanpa motivasimu selama ini"

Sekilas dia membuatku terangsang bagian dadaku mulai mengetat pelukan hangat darinya nyaman sekali, pelukan hangatnya kubalas dengan pelukan juga, wajar wanita seumuranku sudah merasakan rangsangan apalagi aku sudah menstrubasi.

"Sudah menjadi tugasku untuk membantu teman yang lagi menyimpan kesedihan yang mendalam"

"Teman katamu ku sudah menganggapmu sebagai sahabatku sendiri"

Ku hanya bisa berkata "Ya" bagian dadanya menyentuh putingku yang membuat semakin nikmat atas rangsangan ini, tak lama kemudian Hasan melepaskan pelukannya.

"Ups... maaf Sil soal yang barusan, ntah tapi badanku seolah refleks dengan kejadian yang barusan"

Senyum sinis dengan rasa larut serta rasa tersentuh

"Ya kluarkanlah semua penderitaan dihatimu curahkan kepadaku mungkin kubisa menetralisir bebanmu"

"Kebaikanmu selama ini tak akan tergantikan, jika kau ingin menanyakan sesuatu yang takkau mengerti temuilah aku"

"Ya pasti suatu saat nanti kupasti menantakan sesuatu kepadamu ntah itu ap...?"

Yugsss... sekali lagi dia membuatku tersipu dan rangsanganku yang memudar menjadi bergairah lagi, dia sontak menyentuh kedua tanganku dengan tatapan penuh harapan dan banyak rasa hutang budi "sekali lagi kusangat berterima kasih Sil, kejadian ini tak akan terlupakan olehku" ucapnya

LOVE IS HARDWhere stories live. Discover now