“Pit, serius kamu pacaran sama Can?” tanya salah seorang temanku. Pertanyaan yang kurasa telah ratusan kali diucapkan oleh teman-temanku.
“Namanya Ken bukan Can. Aku benar-benar mencintainya. Kenapa? Masalah buat loe?” jawabku sengit.
Nama kekasihku Canthropus, tapi aku lebih bangga memanggilnya dengan nama Ken.
Hmmm, Ken. Cowok ndeso yang yang lebih cocok disebut manusia purba. Kadang aku malu saat sedang jalan berdua dengannya. Kami seperti bumi dan langit. Dia yang super ndeso bersanding dengan aku yang super cantik dan tajir.
Tapi mau bagaimana lagi. Aku begitu mencintainya meski sampai saat ini aku masih bingung, apa yang istimewa darinya hingga aku begitu terpesona olehnya.
***
Saat itu kami jalan-jalan ke sebuah restoran. Seperti biasa, semua orang memandang ke arah kami dengan tatapan aneh. Mereka berbisik-bisik seraya tertawa tak jelas. Aku menghentakkan kakiku kesal. Kaki Ken tanpa sengaja terkena hentakkan sepatu high heelsku yang begitu tajam.
“Aww.” Ucapnya meringis sakit.
“Kamu kenapa Pit?” tanya Ken polos seraya duduk di sebuah meja bernomor 5.
“Bisa gak sih kamu berubah?” aku bertanya padanya dengan begitu kesal.
“Berubah jadi apa? Jadi superman, spiderman atau batman? Hahaha.” Dia tertawa bahagia.
Begitu polos dirinya sampai-sampai ia tak menyadari bahwa semua orang yang ada di restoran ini tengah memperhatikan kami.
“Aku serius Ken. Tolong dong kamu ubah style dan tingkah laku kamu yang KAMPUNGAN ini.” Ucapku menekankan kata kampungan hingga membuat dia sedikit tersentak.
“Kamu malu jalan bareng sama aku?” ucapnya berubah lesu.
“Iya, aku maluuuuuuuuuu banget.” Tiba-tiba aku menutup kedua mataku yang meneteskan air mata.
“Jangan nangis dong Pit.” Tangannya mencoba mengelus rambutku namun aku langsung menampiknya.
“Pit, ngomong-ngomong kalau nama kita distuin jadi nama manusia purba loh. Pite dan Canthropus. Pitecanthropus. Hahaha.” Dia berusaha membuat candaan yang sama sekali tidak ada lucunya untukku.
“Berisik Ken.” Aku meresponnya dengan ketus.
Ken kebingungan dengan tingkahku. Ia beranjak dari kursinya lalu memanggil dua orang pelayan yang masing-masing membawa sebuah gitar.
“Mau apa kamu Ken?” tanyaku yang masih sesenggukan.
“Aku mau memberikan surprise buat kamu.” Jawabnya dengan mata berbinar dan tingkat kepercayaan dirinya yang berada di level maksimal.
Sedetik kemudian dua pelayan itu pun memainkan gitarnya disertai dengan suara Ken yang hampir memecahkan gendang telingaku. Semua orang di restoran menutup telinga mereka seraya tertawa tidak jelas mendengar suara cempreng Ken.
Aku menghentakkan telapak tanganku ke atas meja.
“Sudah cukup kamu buat aku malu. Hubungan kita cukup sampai disini.” Aku beranjak pergi membawa malu yang seakan sudah menggunung ini.
***
Seminggu sudah semenjak insiden di restoran itu. Tak ada kabar dari Ken. Aku pun tak mau memulai untuk menghubunginya. Fikiranku menerawang jauh keluar jendela melewati rintik-rintik hujan yang turun semakin derasnya.
“Biasanya Ken selalu berusaha memperbaiki hubungan seberapa pun rusaknya hubungan kami. Tapi sekarang ia benar-benar menghilang seolah-olah menerima keputusanku untuk putus. Ya Allah, ternyata aku salah. Semakin besar aku mencoba untuk berhenti mencintainya, semakin besar pula rasa sayang aku padanya.” Aku memeluk erat lututku dalam tangis yang seakan tak ada hentinya.
YOU ARE READING
Story of Love
Short StoryBerbicara tentang cinta tentu tak pernah ada habisnya. Setiap orang pasti punya kisah cinta dengan versinya masing-masing. Tapi semua orang tentunya punya keinginan yang sama, punya akhir kisah cinta yang bahagia. Tapi apakah semua kisah pasti akan...
