P r o l o g

224 17 5
                                        

⚠Cerita ini milik Akiyoshi Rikako. Maka dari itu, ada bagian-bagian cerita yang tidak ditulis sepenuhnya. Tetapi tidak akan mengubah atau mempengaruhi alur cerita.⚠
.
.
.

Semakin lama seseorang tidak masuk sekolah, 'tingkat kesulitan' untuk melangkah kembali ke sana akan semakin tinggi.

Misalnya, setelah liburan musim panas atau musim dingin.
Setelah sekian lama, akhirnya kembali naik kereta yang menuju ke sekolah. Merasa lega melihat wajah-wajah teman yang sudah sekian lama tidak bertemu; menyusuri jalan sekolah sambil berbincang dengan topik konyol.

Namun setelah melihat gerbang sekolah, perasaan akan sedikit membuncah, seperti ada gelembung soda di dada.

Ada sedikit rasa tak nyaman, rasa tak bisa tenang; kekhawatiran seperti, jangan-jangan aku datang ke tempat yang salah, atau jangan-jangan aku tidak diterima di sini.

Di tengah suasana kelas yang ramai itu, aku baru akan tenang setelah menemukan bangku yang biasa kududuki lalu meletakkan tas di atasnya.

Aku akan berpikir, Ah, tidak ada yang berubah. Dan akhirnya, kelegaan memenuhi dada; perasaan yang mengatakan bahwa mulai hari ini, hari-hari akan berjalan seperti biasanya lagi.

Uwabaki-ku berdecit-decit di atas lantai linoleum. Koridor terasa ramai karena suara-suara obrolan dan senda gurau dari dalam kelas. Terdengar juga suara meja dan kursi yang diseret, suara kapur yang diguratkan di papan tulis, serta suara tirai yang dibuka-tutup.

Seluruh suara itu bersatu membentuk degup jantung sekolah, berirama dengan degup jantungku sendiri yang sudah berdebar keras.

"Kelasku penuh dengan anak-anak yang unik dan menarik. Aku rasa Taehyung-kun bakal akrab dengan mereka. Ah.. pokoknya aku ingin kau dekat dengan mereka," ujar Namjoon-sensei.

"Ah..."

"Oh iya, aku mengajar bahasa Inggris. Jadi siap-siap, ya. Karena aku bisa tiba-tiba mengeluarkan soal bahasa Inggris. Tidak hanya di jam pelajaran, tapi juga waktu homeroom. Mungkin murid-murid tidak suka, tapi para orangtua menyukainya."
Kemudian, Namjoon-sensei tertawa terbahak-bahak.

Aku tahu kok sensei...

"Kalau Taehyung-kun pasti sudah tidak perlu belajar lagi. Kau pernah tinggal di Inggris, kan?"

"Ah.. tidak juga," jawabku sedikit gugup. "Saya sudah lupa semuanya. Kalau boleh bilang, sebenarnya saya tidak suka."

"Lho, ayahmu tidak memakai bahasa Inggris di rumah?"

"Tidak. Dia berbicara memakai bahasa Jepang."

"Begitu, ya? Sayang sekali. Tapi aku jadi agak tenang. Kalau sampai aku ketahuan salah waktu mengajar kan tidak keren. Apalagi pelafalanku juga tidak begitu bagus. Tapi, karena ayahmu bisa berbahasa inggris, paling tidak aku ingin Taehyung-kun menyukai pelajaran ini. Kalau berbahasa inggris...."

'Artinya, kau bisa berkomunikasi nyaris dengan semua orang di seluruh dunia.'

Itu kan yang kau ingin katakan, Namjoon-sensei? Aku tahu kok. Kata-kata itu sudah berkali-kali dia ucapkan sejak pidato perkenalan wali kelas, bulan April lalu.

"Artinya, kau bisa berkomunikasi nyaris dengan semua orang di seluruh dunia."

Iya, kan? Aku benar.

Namjoon-sensei tidak berubah. Padahal, dua bulan kami tidak bertemu. Tapi dia nyaris tidak berbeda.

"Maaf, ya. Dari tadi aku bicara terus, padahal baru saja bertemu. Pasti kau mengira aku ini guru yang cerewet."

"Tidak, tidak masalah."

Namjoon-sensei berhenti. "Ini dia. Kelas 2-A. Mulai hari ini, kau menjadi murid di kelas ini."
Namjoon-sensei masuk duluan dan akan memperkenalkanku pada anak-anak. Baru kemudian aku masuk.

Saat sensei membuka pintu dan masuk, kelas yang tadinya riuh rendah langsung senyap. Dari dalam kelas terdengar Namjoon-sensei sedang menjelaskan bahwa akan ada murid pindahan. Setelah itu aku disuruh masuk. Semua mata tertuju padaku. Semua orang melihat setiap gerak-gerikku.

Aku berdiri di samping Namjoon-sensei, di atas undakan di depan papan tulis. Sensei pun menulis 'Kim Taehyung' dengan kapur di papan tulis. Namjoon-sensei menyuruhku untuk memperkenalkan diri.

"Hajimemashite. Saya Kim Taehyung." Udara di seluruh ruangan seperti bergetar gara-gara suaraku yang gugup.

Dari atas undakan ini, aku bisa melihat seluruh penjuru kelas.
Aku mendapati mata-mata penuh keingintahuan saat memyambut murid pindahan.

Sorot mata murid laki-laki seperti sedang menilai sebuah barang, sedangkan murid perempuan terlihat kagum.
Ada Eunwo-kun, Irene-san, Mingyu-kun, Hyuk-san, Jisoo-san, Sungjae-san... semua wajah yang aku kenal.

Kemudian...

Ah, ada, ada. Min Yoongi. Seperti biasa, dia berada di bangku paling pojok, menundukkan badannya agar tidak terlihat mencolok.

Satu-satunya temanku.

"Saya tinggal di kota Narumi. Saya suka anjing."

Seandainya aku adalah Kim Taehyung yang sebenarnya, pasti aku akan memperkenalkan diriku dengan lancar, dan bisa mengambil hati seisi kelas.

Namun, bagiku ini sudah usaha paling maksimal.
Kemudian, pandangan mataku seperti disedot oleh satu set meja dan bangku yang terletak di paling belakang.

Sebuah bangku kosong.

Tak ada seorang pun yang menempatinya.

Di atasnya, ada sebuah vas bunga yang dihiasi sekuntum bakung putih.

"... Karena itu, yoroshiku onegaishimasu." Setelah aku menundukkan badanku, terdengar suara tepuk tangan.

Namjoon-sensei menyuruhku duduk di bangku kosong yang terletak di tengah kelas.

Ah, di samping Jungkook-kun.
Aku turun dari undakan dan berjalan menuju bangku tersebut.

Padahal hanya beberapa langkah, tapi jalan menuju ke sana rasanya panjang gara-gara tatapan mata seisi kelas yang terpusat padaku.

Aku melirik bunga bakung di meja kosong tadi sekali lagi, sebelum aku duduk.

Padahal kukira bunga itu sudah dibereskan, karena sudah dua bulan berlalu. Lagi pula, ada murid pindahan.

Ternyata masih ada.

Ternyata bangku itu masih diakui di kelas ini. Bangku itu masih mempunyai pemilik.

Setelah itu, Namjoon-sensei mulai menjelaskan tentang persiapan festival sekolah. Perhatian seisi kelas beralih dari murid pindahan ke guru tersebut.

Hanya perhatianku saja yang masih melayang pada meja yang dihiasi bunga bakung itu.

Meja yang sampai dua bulan yang lalu.... adalah mejaku.

THE DEAD RETURNS [BTS VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang