Prolog

8 0 0
                                        

Buku-buku berserakan,angin dingin yang mulai berhebus bertanda hujan akan datang

Kututup jendela kamarku agar dinginnya tidak mengusik tidur sabatku yang tertidur di hadapan buku buku

Aku tatap wajah polos itu,iya tersenyum sambil membuka perlahan lahan matanya

"Cantik....",gumangnya

Aku terheran dan langsung mencubit pipi nya, "Bangun... Woi bangun... Kita belum ngerjain semua tugas nya"

Ia mulai bangkit dari tidurnya sambil tertawa kecil dan meminta maaf,kami melanjutkan tugas kami,hanya dalam waktu 30 menit kami sudah menyelesaikannya

Aku selalu di buat kagum oleh kepintaran Ame sahabatku
Aku terkadang berpikir kenapa cuma Aku yang mengaguminya? Memang Dia terlihat sangat rapuh,namun Aku tau jiwanya itu sekuat baja,dan semua orang tau Dia itu sangat pintar

Aku selalu kesal saat melihat luka luka gores di tangan,kaki bahkan di pipinya,karena saat melihat itu rasanya kau ingin sekali memukul wajah mereka,orang-orang yang hanya bisa menindas sahabatku ini

"Dor..."
Suara Ame memecahkan lamunanku

Dia menanyakan apa yang sedang Aku pikirkan,Aku mengelak dengan berbagai alasan

Aku tidak ingin Dia marah, karena Dia selalu melarangku untuk membenci orang orang itu

Aku terselamatkan oleh kedatangan Kio sahabat kecil ku,dia datang dan terus saja berbicara tentang toko kue di sebrang jalan,kali ini Aku yang malah merasa tergangu

"Eh ayo... Apa yang kalian tunggu ?
Buruan nanti kuenya keburu habis.."
Kio menarik lengan bajuku bagaikan anak kecil yang ingin meminta mainan

Karena kesal di buatnya Aku mengusirnya,melihat tingkah kami berdua Ame tertawa terbahak-bahak

Kio memanggil-manggil satu satunya adik lelaki ku dan mengajak nya untuk pergi ke toko kue,tidak seperti biasanya Rei mengangguk tanda setuju

Sebelum mereka pergi Ame membisikan sesuatu ketelianga Kio ,
Aku penasaran apa yang merek bicarakan,walaupun begitu tetap Aku tidak mau bertanya apa yang mereka bicarakan karena dengan wajah jahilnya pasti Kio meledekku

Kini mereka berduapun pergi, hanya Aku dan Ame yang ada di dalam rumah,lebih tepatnya di dalam kamarku

"Jdar....."
Bunyi petir mulai terdengar walapun hujan belum turun,Ame mulai merapihkan buku bukunya dan memasukannya kedalam tasnya

"Ini untuk mu..",Ame menyodorkan sebuah kalung dengan liontin kristal berwana putih mengkilap

Aku bertanya untuk apa kalung ini,dia menjawab untuk kenang- kenagan saja,dan tanpa banyak tanya lagi Aku mengambil kalung itu sambil berterimakasih

Rintik rintik hujan mulai terdengar,Aku meminjamkan payung milikku kepada Ame ,aku sangat kawatir kalau hujan akan menjadi sangat deras

"Terimakasih..maaf jadi ngerepotin kamu",sambil memegang payung ame menunduk sedikit kepadaku

"Iya,gak ngerepotin kok,malah aku seneng banget kamu kesini,kalau bisa besok kesini aja,sekalian kembaliin payungku"

"Aku gak tau besok bisa kesini atau enggak,tapi kalau payungmu bakal Aku balikin langsung ke tangan kamu",sambil memegang kedua tanganku

"Iy...iy...buruan sana pulang nanti hujannya keburu deras"

"Oke,bye...bye selamat tinggal.."Ame melambaikan tangan

"Yang bener itu sampai jumpa lagi.." Aku membalas lambaiannya

Ame hanya tersenyum dan berlalu pergi,ku tutup pintu rumahku,aku baru teringat Rei dan Kio masih di toko kue

Karena aku kawatir kalau Rei akan kehujanan dan terkena demam,aku langsung mengambil payung dan segera menyusul mereka

Kulangkahkan kedua kakiku keluar dari rumah dengan langkah cepat dan hati hati

Saat sampai di perepatan jalan depan aku melihat Ame tengah menyebrang jalan,aku berusaha memanggilnya

Tiba tiba dari arah kiri ada sebuah truk dengan laju cepat,aku berusaha memanggil Ame lebih keras

"AME...................."

Bruk...bagaikan sebuah mimpi aku melihat truk itu menghantam tubuh kecil ame,darah bertebaran di mana mana

Ku jatuhkan payungku berlari menghampirinya ,tubuhku kaku,mulutku bungkam tak bisa mengatakan apa apa,aku masih tidak percaya apa yang telah ku lihat

Angin menghembus sangat kencang payung yang ame gunakan bergerak ke arahku,ku mengiat baru saja ame berjanji akan mengembalikan payungku

Beberapa kali aku dalam hatiku mengelak"ini hanya mimpi kan? Tidak mungkin ini terjadi?"

Aku tidak bisa menerima kenyataan ini"tidak.......tidak.....tidak....."teriak ku sangat keras,air mata ku deras mengalir kepipi ku diikuti dengan bertambah derasnya hujan

Tangisanku rasanya tidak akan bisa berhenti dan saat itu kulihat awan berwarna merah,merah dimana mana,seketika buram,aku masih terus berharap ini hanya mimpi

Seketika semuanya buram dan bertambah gelap,dari kejauhan aku melihat Kio dengan samar samar sepertinya dia mencoba mengatakan sesuatu

"Bruk.."semuanya gelap,aku sepertinya kehilangan kesadaranku,setelah itu aku tidak mengingat apa yang terjadi

***

Aku terbangun,aku tidak tau dan ingat sekarang aku berada di mana,aku melihat sekelilingku sepertinya aku berada di rumah sakit

Aku melihat kesebelah kanan tempat tidurku,aku melihat Rei tidur dengan mata yang sebab sepertinya dia habis menangis

Aku baru teringat apa yang terjadi,aku mulai mencoba menerima kenyataan itu namun saat aku mengingatkan dadaku sesak, aku sulit bernafas, air mataku tak terbendung

Rei mulai terbangun aku dengan cepat menghapus air mataku dan menenangkan diri ,aku tidak ingin menangis di depan adiku itu,aku tidak mau membuat dia terus kawatir

Rei langsung memeluku dengan tidak mengatakan apapun,akupun membalas pelukannya dengan erat

Aku mengerti saat itu ia mencoba untuk menyemangatkaku tapi juga aku tau dia sendiri sangat terpukul

"Kret...",Suara pintu kamar rumah sakit terbuka,sesosok lelaki berbadan tinggi dan bermata hijau itu menghampiri kami,ya dia adalah kio

Dia datang dan mengajak rei pulang ,namun  rei menolak ia ingin menemani, sudah seharian rei menungguku siuman

Aku membujuk Rei lebih keras,aku kawatir kalau dia sakit

akhirnya Rei menyetujui ajakan Kio ,namun rei memberikan syarat, Kio harus tetap menjagaku di rumah sakit

Rei pulang dengan diantaran pak Ahmad,supir mobil Kio yang sudah sangat akrab dengan kami

Kini hanya Aku dan Kio yang berda di kamar rumah sakit ini,Kio menghampiriku dan memeluku,"tidak apa apa sekarang Kamu boleh menangis "

Mendengar kata itu Aku langsung membuka bendungan air mata yang sedari tadi kubendung

Aku menanyakan apa yang terjadi kepada Ame ,dia hanya tambah memelukku dengan erat,saat itu aku mulai menyadari bahwa Ame benar benar telah pergi meniggalkan kami semua

***

Keesokan harinya aku datang bersama dengan Rei dan Kio kepemakaman Ame ,cuaca sangat cerah namun kegelapan masih menyelimuti hatiku

Perpisahan itu selalu terngiang ngiang dalam benakku ,saat itu cuaca seperti nama kami berdua "Ame" dan namaku "Rain" yang berarti Hujan

Dan Aku selalu mengingat bagai mana  takdir mempertemukan kami


Story of the RainStories to obsess over. Discover now