BAB 1 | Tergesa-gesa

374 128 22
                                        


Suasana Pekotaan Pagi ini Sangatlah Segar. Mentari bersinar terang, dan hembusan angin terasa sangat segar. Tampak seorang gadis baru saja bangun dari tempat tidurnya. Sinar matahari sudah menyorot ke seluruh Ruang kamarnya. Gadis itu bernama Rahma Indira Putri, Ia adalah anak dari seorang pengusaha terkenal. Kedua orang tuannya sangat memanjakannya karna ia adalah anak tunggal. Tetapi ia sangat tidak suka di kekang, apalagi di atur-atur.

Rahma beranjak berjalan menuju tirai jendela kamarnya, seperti biasa ia selalu membuka jendela dan melihat disekeliling rumah. Dari lantai dua, pemandangan perkotaan terliat sangat indah, semua orang terasa sangat damai.

Pagi ini Rahma bergegas untuk pergi ke sekolah, ia selalu berpenampilan rapi, akan tetapi Rahma selalu berpenampilan berbeda dari yang lainya. Rahma Sekolah di SMA Taruna Bangsa yaitu salah satu sekolah favorit di Jakarta. Rahma termasuk anak yang pintar dan rajin. Bahkan banyak laki-laki yang menyukainya, namun ia tidak pernah menghiraukannya.

" Rahma sayang, ayo nak cepat turun." Panggilan dari sang mama terdengar hingga ke sudut ruangan.

Suara itu terdengar jelas ditelinga Rahma, Rahma pun segera keluar dari kamarnya. Ia berlari turun dari tangga dengan penuh keceriaan. Rahma menatap penuh cinta kepada pria berpenampilan rapi memakai jas hitam yang sedang duduk di ruang makan. Pria itu adalah papanya yang sangat ia sayangi. Ia berjalan menghampiri kursi didekat papanya.

" Pa , ma, nanti aku pulang sedikit terlambat yaa. " Ucap Rahma dengan menyantap roti.

Mendengar ucapan Rahma mamanya hanya terdiam dan kembali melanjutkan makan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun.

" Sayang memangnya kamu mau kemana ?.." Tanya sang papa dengan menatap Rahma penuh ragu.

Rahma mengambil segelas susu di depannya dan meminumnya dengan tergesa gesa.

" Aku mau pergi ke rumah Dea pa, untuk belajar kelompok." ucap Rahma dengan mulut penuh roti.

Rahma melirik ke arah gelang jam di tangan kirinya. Sontak ia terkejut karna sudah pukul 06.20. Ia pun menyandarkan tasnya ke punggung dan berpamitan kepada papa dan mamanya.

" Pah, ma, rahma berangkat sekolah dulu ya.." Ucap Rahma sambil menjabat tangan kedua orang tuanya.

Karena terus di buru waktu , Rahma mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kepanikan sudah membuat dia tidak bisa berfikir tenang.

25 menit kemudian...
Terlihat dari kejauhan Pintu gerbang bergerigi besi mulai tertutup, ia menambah kecepatan mobilnya. Tiba di depan pintu gerbang yang sudah tertutup setengah, seorang satpam berparuhbaya datang menghampirinya. Ia datang tepat jam 06.45, Satpam itu langsung membukakan pintu gerbang itu, Rahma pun menuju ke tempat parkir.

" Astaga, untung saja aku belum terlambat." Ucap Rahma sambil menutup pintu mobil.

Rahma pun berjalan ke kelasnya. Kelas yang sangat ramai terdengar sampai luar kelas. Sudah menjadi kebiasaan bahwa kelasnya tidak bisa diatur. Banyak guru yang sudah lelah menasehati kelas Rahma.

Rahma menunduk di samping pintu, menoleh ke segala arah untuk memastikan tidak ada guru di dalam kelasnya. Suara ramai di kelas terdengar nyaring di telinga Rahma. Rahma pun segera masuk kedalam kelasnya. Ia duduk di bangku depan, seperti biasa Rahma selalu membaca buku sebelum pelajaran dimulai. Suara langkah kaki dari arah belakang terdengar perlahan. Dua orang gadis menepuk penggungnya dari belakang, hingga membuatnya terkejut.

" Dea, Ayu kalian ngagetin gue aja." Ucap Rahma dengan perasaan kesal.

Dea dan ayu saling bertatap mata. Mereka tertawa terbahak-bahak dan duduk di samping Rahma.

Dendam Yang TerpendamWhere stories live. Discover now