Prolog

18 1 0
                                        

     "Aku menyesal." Hanya kalimat itulah yang bisa aku ucapkan saat aku kehilangan pemikiran.

     "Untuk apa menyesal, tak ada gunanya aku menyesali semua masa lalu yang pernah aku alami." Ini kalimat yang ku ucapkan saat semua pikiranku kembali

     Dulu hal yang paling ku benci adalah penyesalan. Aku benci jika harus menyadari bahwa penyesalan itu datang kepadaku, aku benci untuk menerima semua penyesalan itu.
     Tak ada alat secanggih apapun yang bisa menghindari penyesalan.
     Kumpulkanlah semua ilmuan, dan buatlah alat penghindar penyesalan. Apa mereka mampu? Terlebih mereka sendiri pun belum bisa menerima penyesalan yang datang pada diri mereka.

     Awalnya ku kira hanya aku yang mengalami semua ini, ternyata tidak. Banyak orang yang mengalami hal yang sama denganku, bahkan lebih. Untuk kalian, cobalah kalian belajar menerima, kalian tidak sendirian, banyak orang yang lebih parah dibandingkan kisah hidup kalian.

     Jika menghindari tidak bisa, bagaimana jika belajar menerima? Tak ada salahnya bukan, kalau kita belajar menerima dan mengikhlaskan sesuatu? Meskipun yang kita ikhlaskan amat sangat menyakitkan.

     Dan kini aku mulai belajar untuk menerima dan mengikhlaskan semua penyesalanku, semua masa lalu ku. Tak ada gunanya untuk terus-menerus menyesali, toh belum tentu yang selama ini kita sesali akan berubah menjadi indah. Semua akan berubah menjadi indah jika kita bisa mengikhlaskan, bukan hanya terus menerus merenung dan menyesali semuanya yang telah terjadi.

     Penyesalan memang selalu terjadi dan selalu datang diakhir, tetapi penyesalan hadir untuk memberikan suatu pelajaran kepada kita.
     Jangan jadikan penyesalan sebagai akhir dari segalanya, tapi jadikanlah penyesalan sebagai suatu penyemangat hidup untuk membuka lembaran yang baru.
     Mulailah semuanya dari awal, dengan langkah yang baik, dan selalu berhati-hati.

LabirinStories to obsess over. Discover now