PART 1

629 15 7
                                        

Bukan yang di inginkan oleh Kiran untuk menyelesaikan penempuhan Sarjana di Kampus Hijau ini. Menurutnya banyak kampus lain yang lebih baik dari kampus ini. Kiran Alaika Ava mantan siswi aktif di salah satu Sekolah Menengah Atas Islam. mengingat dimasa SMA nya Kiran memang sangat aktif berorganisasi, salah satunya dengan cara menjadi salah satu Anggota OSIS dan juga Organisasi Ekstra Sekolah. Kiran selalu berharap agar bisa masuk disalah satu Unversitas yang sedang digandrungi oleh siswa-siswi pada umumnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Ibunya memaksa agar menempuh Pendidikan Sarjana di kampus Hijau. Selain tidak terlalu jauh Kakak Kiran juga Menempuh Pendidikan Sarjana di Kampus Hijau ini.
***
Pagi ini tepat pada hari senin, kiran pertama kalinya memasuki gerbang Kampus Hijau yang tidak pernah di Inginkannya itu. Dengan malas Kiran meletakkan helm pada kaca spion motor matic yang menemaninya menuju Kampus Hijau hari ini, melepas jaket lalu ia merapikan jilbab pasmina bewarna dustypink yang ia pakai untuk menutupi rambutnya. Tidak asing lagi untuk berjilbab bagi Kiran, karena memang dari sekolah dasar sudah dibiasakan untuk berjilbab.

Kiran berjalan dengan tergesa-gesa, karena lima menit lagi tes tulis akan segera dimulai. Kiran hanya takut telat, ia malas jika harus berhadapan dengan pengawas yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Menurut info yang Kiran dapatkan, kampus Hijau ini memang sudah biasa megadakan tes tulis secara langsung tanpa harus melewati jalur online seperti yang diadakan kampus lain pada umumnya. Dikampus Hijau ini Tes dilakukan hanya untuk melihat Calon mahasiswa yang akan menerima beasiswa empat tahun penuh yang disediakan kampus Hijau sendiri.

Sebeleum melakukan tes tulis, seluruh peserta tes wajib menukarkan slip yang didapatkan dari registrasi yang dilakukan jauh-jauh hari di bank yang sudah ditentukan kampus pada panitia. Waktu lima menit bukan waktu yang lama untuk Kiran, ia berjalan lebih cepat untuk segera sampai pada tempat yang lumayan jauh dari parkiran motor Kiran.Kiran berjalan sambil tertunduk untuk membuka kotak pensil yang ia ambil dari dalam ranselnya, yang ia yakini tempat slip itu berada.

Bruuggh

Tak sengaja Kiran menabrak seorang mahasiswa ber almamater Hijau yang ia yakini adalah salah satu calon seniornya nanti.

"Maaf, kak" dengan kaki berjongkok Kiran mengemasi kembali kotak pensil yang berantakan untuk dikemas kembali. Kiran tidak pernah melihat siapa yang ditabraknya tadi, yang ia tahu hanya mahasiswa beralmamater hijau.
Mahasiswa itu berlalu meninggalkan Kiran tanpa menjawab permintaan maaf dari Kiran.

Setelah sampai pada tempat yang dituju, Kiran menyodorkan slip guna untuk mendapatkan nomor peserta tes.

"kak, mau tukar slip" Kiran tersenyum kikuk.
Panitia hanya mengangguk dan sedikit tersenyum lalu mengambil slip yang disodorkan Kiran lalu mengeceknya.

Sambil menunggu pengecekan slip, Kiran melihat jam yang ada pada ponselnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit itu.

Deg Deg Deg

Jantung Kiran berdetak tak stabil, katanya senam jantung. Dengan sedikit berlari menuju ruangan dua yang akan menjadi ruangan horor menurutnya hari ini. Bersyukur , karena ruangan dua ada di lantai bawah kampus ini. Jadi tak perlu membuang-buang tenaga hanya untuk menaiki tangga pikirnya.

Degan jantung yang berdetak tak stabil dan sedikit senyum kiran memberanikan diri untuk mengucap salam sebelum ia dipersilahkan masuk.

"Assalamualaikum"

Seluruh peserta tes yang tadi sibuk dengan kegiatannya, sontak mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang datang kali ini. Matanya menyorot pada Kiran seolah-olah akan menghakimi Kiran detik ini juga. Senyum kikuk kembali ia lengkungkan dibibirnya seraya berjalan menuju kursi kosong. Yang sudah di Intruksikan oleh salah wanita beralmamater hijau yang ia yakini adalah pengawas tes di ruangan dua ini.

Kiran menghela napasnye lega. Dua jam berlalu, dengan seadanya Kiran mengumpulkan lembar jawaban yang ia isi dengan pikiran semrawutnya hari ini. Ia tidak sedang mencari beasiswa memang, jika tidak di wajibkan mungkin Kiran tidak akan mengikuti tes ini.

***

Kiran sedang berada di parkiran kampus. Menduduki motor matic warna putihnya, kiran berpikir akan kemana setelah ini. Sambil berpikir, kiran mencoba membuka ponsel warna merah miliknya yang sedari tadi bergetar. Beberapa notif grup whatsapp masuk, kiran hanya membacanya namun tidak ada niat untuk membalasnya. Malas jika harus nimbrung hari ini.

Kiran kembali meletakkan ponsel disaku jaket warna navy berlengan abu-abu yang dipakai untuk menghempas dingin hari ini. Hari ini sedikit lebih dingin dari biasanya karan memang sedang mendung, tetapi hujan tak kunjung turun. Kiran memasang helm, dan berniat berlalu dari kampus untuk mencari kedai yang akan menjadi tempat pembuang penat hari ini.

Parkir tepat didepan kedai yang menurutnya enak ditempati untuk bercengkrama dengan hati. Kiran meletakkan kembali helm pada spion motor maticnya, lalu masuk dan memesan satu jus alpukat dan satu kentang goreng balado ala-ala.
Memilih duduk di gazebo sendirian, kiran kembali membuka ponsel miliknya yang bergetar. Notif whatsapp grup selalu meramaikan whatsappnya, tetapi ada satu notif yang membuat hatinya ingin membukanya.

Aksa A.P : Hai, selamat pagi

Kening Kiran berkerut, membuat alis tebalnya hampir bertabrakan.

Shit

Tidak biasanya seorang Aksa mengirim pesan whatsapp padanya, karna memang beberapa minggu yang lalu Aksa memutuskan hubungan yang selama satu tahun ia jalin bersama Kiran. Acuh tak ach Kiran membalas pesan Aksa.

Me : Iya, ada apa?

Aksa A.P : kamu hari ini kemana?

Me : Aku sedang sibuk, tidak bisa di ganggu.

Aksa A.P : Oh, yasudah. Mungkin belum waktunya.

Dahi Kiran kembali berkerut, waktu apa pikirnya. Tapi ia tidak ada niat untuk menyakan hal itu pada Aksa dan memilih untuk tidak membalas pesan Aksa.

Kiran memang selalu menghindari Aksa, karna rasa sakit yang Aksa berikan belum mampu menghapus perasaan yang selama ini ia jaga untuk Aksa. Mungkin dengan cara menghindar rasa itu akan perlahan pudar menurut Kiran.

Kiran bertopang dagu sambil melihat kearah sungai kecil disamping Gazebo yang ia duduki. Pikirannya menerawang menembus masa depan, seolah-olah sedang membaca hubungannya dengan Aksa di masa depan, berharap Aksa lah yang menjadi tambatan hati terakhirnya meskipun hari ini ia sudah tak bersama lagi, jodohkan tidak hanya Tuhan yang tau. Kiran tersenyum kecil, seperti peramal saja aku ini pikirnya.

Aksa Adhitama Pradipa seorang cowok yang membuat Kiran senam jantung setiap kali melihat wajah manis yang disuguhkan bersama dengan senyumnya. Bicara tentang Aksa memang tak bisa diragukan lagi untuk membuat hati wanita yang melihatnya jatuh seperti ikan kekurangan air. Kiran bersyukur pernah jadi tambatan hati Aksa, meskipun ia sekarang dibuang begitu saja.

Mengingat masalalu memang membuat hati Kiran sedikit nyeri. Kiran tersenyum sumbang sembari membuyarkan ingatannya di masalalu itu.

***

Kiran sudah berlalu dari kedai, adzan harus membuatnya segera kembali ke rumah karena mungkin Ibunya sudah menunggunya.

***

Hmm, nyoba aja sih😂
Maapkeun kalo berantakan✌️
Sangat menerima kritik dan saran kalian😍

RINDU YANG TAK PERNAH USAI (COMPLETED)✓Histórias para pegar e não largar. Descubra agora