Pagi-pagi sekali, gadis berambut hitam panjang dengan kuncir satu sudah rapi dengan pakaian seragam SMAnya. Seperti biasa, setelah sholat subuh ia memasak sarapan untuk kedua orang tuanya, dan adik kakaknya.
Inshira maulie anindya, begitulah namanya. Sesuai dengan arti namanya wanita cantik, dengan penuh kegembiraan di dalamnya. Inshira atau lebih akrab di panggil shira ini, termasuk tipikal wanita yang ceria, friendly, dan juga mandiri. Shira berasal dari keluarga yang cukup berada, dengan di penuhi orang-orang yang sangat sayang padanya. Dari mulai ayah ibunya, kakak adiknya, nenek kakeknya dan keluarga besarnya.
Bukan hanya di rumah saja dia mandiri, dan ceria. Namun, dimanapun dia berada ia pasti akan menunjukan sifat cerianya. Sampai-sampai saat sedah sedih pun, teman-temannya tidak tahu, kecuali jika dia bercerita. Shira yang memang sangat mewarisi sifat sang ibu, dari mulai wajah sampai sikap dan sifatnya. Dibandingkan kedua saudaranya yang cenderung pendiam, dan tidak banyak tingkah seperti shira.
Gadis kelahiran semarang, 13 oktober 1999 itu kini sedang asyik meracik bumbu untuk di buatkan nasi goreng, bersama mbak ana pembantu rumah tangga mereka.
"Ini loh mbak, papa itu gak suka pake bawang goreng" ucap shira memberi tahukan si mbak nya. Yang emang baru bekerja di rumahnya sekitar 6 bulan yang lalu.
"Oh ya mbak, si mbok emang siapa yang mau nikah?" tanya shira pada mbak ana, adik dari mbok ani.
"Itu anaknya kakak iparnya si mbok. Mbak ana juga tadinya di suru datang tapi kata si mbok nya gak boleh" ucap adiknya si mbok ani.
"Mbak kalau anak mbak itu, cewek apa cowok?" tanya shira pada mbak ana, sembari mengiris bakso.
"Cowok, sepantaran sama non loh. Anaknya mbak, ganteng kata orang mirip faruk khan" ucap mbak anak sambil tertawa.
"Sarukh khan mbak. Bukan faruk khan, faruk mah si mang faruk itu tukang kebun" ucap shira sambil tertawa.
"Awas mbak, nanya-nanya anak mbak nanti di gebet sama si shira" celetuk azzura kakak perempuannya yang tiba-tiba datang dari arah tangga.
"yowis non, mbak setuju aja. Asalkan si non shira nya mau mah mbak setuju hehe" ucap mbak ana.
"Jangan di dengerin mbak orang kayak gitu mah. Yuk ah lanjut masak aja" shira mengalihkan pembicaraan.
Setelah beberapa menit, meracik di dapur akhirnya masakan shira dan mbak ana pun jadi. Dan kini tinggal di sajikan di atas meja makan, untuk sarapan bersama.
Di meja makan sudah berkumpul, elmira adik dari shira dan zura. Ada zura kakak dari shira dan elmi, dan ada pak david serta bu vina. Tak lupa sebelum sarapan, pak david akan memimpin do'a.
Kebiasaan di dalam keluarga ini saat makan adalah, dilarang membunyikan sendok, makan harus pelan-pelan, membaca do'a terlebih dahulu, dan tidak boleh bersuara serra mereka selalu menetapkan sunnah rosul yaitu, makan dengan tangan kanan dan berhenti sebelum kenyang.
***
"Shiraa...." panggil Azlam sahabat sekaligus tetangga shira.
"Azlam, lo duluan aja. Gue mau berangkat sama elmi" ucap shira menyuru azlam berangkat duluan. Dan di balas oleh azlam dengan anggukan dan klakson.
"Kak, katanya kakak lagi butuh orang buat di ajar les ya?" tanya elmi padanya.
"Iya. Emang ada?" ucap shira yang masih memainkan kucingnya
"Ada temen aku. Nanti pulang sekolah, aku kenalin deh kakak sama dia. Tapi kakak harus jemput aku" ucap elmi
Shira mengangguk setuju. Dan langsung menyambar tas nya, untuk segera berangkat ke sekolah karena sang mama sudah teriak.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSHIRA
Fiksi RemajaSemenjak, ibu ku pergi untuk selama-lamanya, kehidupanku hancur, dan sangat hancur. semenjak ayah menikah lagi, dan disinilah kehidupanku yang sama sekali bukan seperti diriku sendiri. aku seperti menjadi, budak di antara ayah kandung dan ibu tiri...
