Prolog - Perpisahan

158 7 8
                                        

25 juli 2018
Udara Jakarta sangat dingin malam ini, di taksi bersamanya sudah memberi kesan indah sebelum menanti detik perpisahan ini.

Aku harus pergi ke Kuala Lumpur untuk melanjutkan pendidikanku di sana, mungkin aku nggak bakal pusing mau tinggal dimana saat disana karena ayah sama bunda punya apartemen yang waktu itu kami beli saat liburan keluarga di Malaysia dan aku bisa tinggal di apartemen itu bersama paman yang juga kerja disana.

Disamping, aku di temani oleh sosok yang sangat istimewa bagiku, dengan dia yang selalu melengkapi hari-hariku di kota ini, tapi malam ini...malam terakhir aku bersamanya.

***

"Oca maaf mungkin hari ini hari terakhir kakak lihat Oca."
Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
"Kakak jahat, kakak tega buat ninggalin oca."
"Percaya atau tidak ini bukanlah akhir dari kita, kakak bakal pulang buat Oca."
"Tapi kenapa harus pergi?"
"Kita nggak pernah tahu kapan pantasnya kita untuk ada di sini, tapi saat Oca udah besar nanti, Oca pasti bakal ngerti."

***

Jam di bandara Soekarno Hatta sudah menunjuk pukul 20.45, tinggal 15 menit lagi pesawat dengan tujuan Kuala Lumpur akan lepas landas.

"Bentar lagi kakak udah harus pergi, Oca disini jaga diri ya, jaga papa sama mama disini, buat mereka bangga sama Oca."
Ucapanku lirih menahan air mata karena sebentar lagi akan pergi jauh.
"Biar kisah kita kemarin menjadi kenangan buat kakak sama Oca, kakak pergi nggak bakal lama, nanti bakalan pulang kok."
"Kakak jaga diri ya disana, jangan hobi gangguiin cewek lain, jangan males makan, dan jangan lupa kabarin Oca." Air mata dari pipinya mulai mengalir.
"Iya kakak janji nggak bakal lupa kasih kabar, lagian kakak di sana kuliah, nggak bakal genit sama cewek lain kok." Sembari mengusap kedua air mata di pipinya.

***

Sedangkan dari jauh terdengar suara pemberitahuan dari pihak bandara agar para penumpang segera melakukan check in tiket.

"Kakak check in tiket dulu ya, bentar lagi pesawatnya udah mau berangkat." Sambil mengelus kedua telapak tanganya agar dia tetap tenang.
"Iya kak, Oca bakal selalu kangen kalo kakak lagi nggak disini." Rosa berusaha menahan air mata kembali menghujani pipinya.
"Sekarang jangan sedih sama nangis lagi, kakak pengen Oca senyum, kan kakak bakalan lama nggak lihat senyuman dari Rapunzelnya kakak." Aku mengecup keningnya untuk terakhir kali sebelum benar-benar akan meninggalkanya.
Dia tersenyum menunjukan puppy facenya yang biasa dibuatnya kalo lagi senyum.
Sambil dia tersenyum seperti itu aku membelai rambut panjangnya. Membuat dia nyaman sudah cukup membuatku senang.

Oh tuhan,kenapa aku harus pergi jauh dan meninggalkan sosok yang paling berharga untukku.

***

"Oca ga bakal nakal disini." Ucapnya sambil tersenyum

"Gitu dong sering-sering senyum jangan cemberut terus, nanti cantiknya nggak kelihatan kalo cemberut."
"Kakak pergi dulu ya Rapunzel."
Sambil menyiapkan koper-koper yang kubawa ke Kuala Lumpur, karena memang aku akan tinggal lama disana.

Aku berjalan menyusuri lorong bandara dan disampingku di temani oleh rapunzel yang sudah berjanji akan selalu menemani pangeranya.

"Kakak tahu nggak kalo dunia ini tanpa adanya kakak bakal murung." Rosa tiba-tiba mengatakan itu selagi kami berdua menyusuri lorong bandara.
"Kenapa bisa murung coba ?" Tanyaku kepadanya.
"Karena kalo Oca di tinggal kakak pergi, nggak bakal ada lagi orang yang bikin Oca ketawa." Jawabnya sambil tersenyum manis menatapku.
"Kakak kan perginya nggak selamanya rosaku...kalo kuliahnya udah selesai nanti juga balik lagi kesini." Terkadang Rosa orangnya susah banget kalo di tinggal pergi.
"Kalo kuliah kakak nggak selesai-selesai gimana ?" Mukanya mulai jutek dan takut jika aku tidak bakal pulang.
"Udah tenang aja kakak janji bakal cepet-cepet pulang." Ujarku agar dia bisa merelakan aku yang sebentar lagi jauh darinya.
"Janji ya sama Oca ?" Tanganya terangkat dan menunjukan janji kelingking agar bisa meresmikan janjiku.
Aku juga mengangkat tanganku dan menggenggam jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku. "Janji."

***

Sudah tepat pukul 21.00 pesawat yang akan ku naiki sebentar lagi lepas landas, dan sebelum aku naik pesawat, aku berpamitan dengan Rosa yang kelihatanya pulang ini bakal nangis lagi.

"Kakak janji bakal pulang."
"Iya, jangan lupa sama Oca."
Aku mengangkat tangan seperti sedang hormat kepada bendera. "Siap bos."
"Dadah kakak bawel." Dia melambaikan tanganya sebelum aku masuk ke lobby bandara.
Dan aku membalas lambaianya dengan pelukan untuk terakhir kalinya. "Dadah juga Peri Kecilku."

***

Tubuhku sudah masuk ke dalam lorong menuju pesawat yang ku naikkan, dan mulai menghampiri kursi pesawat yang sesuai dengan tiketku.

Aku duduk di ujung dekat jendela, dan memandang gelapnya landasan bandara Soekarno Hatta di malam ini.

Sambil menunggu pesawat lepas landas kuhabiskan waktu untuk baca novel yang baru dibeli oleh Rosa tadi siang, sebelum kami berangkat ke bandara.

Katanya biar aku nggak ngantuk di pesawat terus pas udah sampai di Kuala Lumpur bisa kasih dia kabar.

Baru saja aku membuka halaman pertama novel, terdengar suara pramugari yang sedang memberi petunjuk dan instruksi bagi para penumpang di dalam pesawat jika pesawat akan lepas landas, dan naluriku sudah bersiap untuk mengucapkan. "Selamat Tinggal Jakarta."

Kota dimana aku tinggal, tumbuh besar, dan menemukan cinta pertama. Sekarang aku harus meninggalkan kota itu untuk waktu yang lama.

"Aku nitip Rosa kepadamu jakarta, jangan sampai air matanya jatuh membasahi tanahmu." Gumamku dalam hati.

Masa depan aku datang...

RosakuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang