Nadira Syakila Aulia

42 3 0
                                        

Aku adalah Ervan Sofyan. Anak SMA kelas XII IPS 1. Anak sematawayang dari ibu Yani dan Bapak Dani.

(malam pukul 19.30)

Di rumah a mukti, yg dia jadikan sebagai warung ps, fadhil tak henti-hentinya teriak, dan beberapa kali melonjak dari duduknya. bersorak, memaki, dan ketawa. Ekspresif.

Di ruangan yg tidak terlalu luas ini, aku, dan fadhil paling berisik dan jadi pusat perhatian. Ruangan yg kusam, dengan beberapa cat tembok yg sudah pudar, pengap oleh asap rokok yg mengepul dimana-mana.

Layar televisi sedang menyajikan pertandingan menarik yg aku dan fadhil lah penggeraknya. Dengan arahanku, Barcelona fc (tim yg sedang aku pakai) unggul 2-1 atas Liverpool (tim yg fadhil pake)

"maot siah !! maot siah !!!"•1 kalimat halus, tapi dengan nada tinggi jadi terdengar memaki Keluar dari mulut fadhil berhamburan dengan kalimat lainnya yg sama ngaconya. Aku ketawa terpingkal-pingkal.

Saat pertandingan sedang berjalan sengit, tim yg aku pakai sedang tertekan, layar di hpku menyala. Aku dan fadhil sadar akan hal itu, dan lalu menghentikan permainan dengan geregetan. "Nadira" kataku ke fadhil meraih ponsel yg menunjukan panggilan masuk.

"dimana ?" suara yg pertama aku dengar.
aku dan fadhil bertukar tatap penuh arti.
"mampus deh. Lupa ga bales chat dia." gumam dalam hati sambil menempelkan lengan di kening.

"halo ? dimana ih ?!" tanya dia lagi.
Aku masih diam.

Dari awal jadian, tiga tahun yg lalu tepatnya, Nadira tidak suka kalau aku main ps. Dan aku seperti sedang melakukan dosa besar sekarang karena diam-diam melakukan apa yg dia larang.

"eu... Lagi.." belom selesai aku menjawab, dia bicara lagi dengan nada tinggi.
"kamu lagi di ps yah ?!!"
Sepertinya dia mendengar kedaduhan di tv

"bentar lagi pulang da" jawabku mengumpat dalam kata.

"pulang sekarang !!!!" bantahnya kejam.

"bentar lagi, sayang" rayuku. Sengaja aku tambah kalimat sayang, siapa tau dia jinak mendengar kalimat itu.

"pulang Ervan !!" bentaknya seperti petir.

Aku kalah. Tidak ada lagi rayuan, tidak ada lagi adu argumen. Aku pulang dengan kekalahan telak atas Nadira.

Fadhil meledek dengan gestur yg dia buat semirip mungkin dengan Nadira saat menyuruhku.

Aku menunduk lemas.

"lemah !!!" fadhil melepas kepergianku dengan makian.

Itulah Nadira. Nadira Syakila Aulia. Anak dari mamah Ani yg sudah tiga tahun jadi pacarku. Ketika dia sudah bilang "ini", ya harus "ini". Jika dia bilang "itu", ya harus "itu". Dia tidak suka dibantah. Perintahnya menjadi wajib bagiku. Dia mengaturku ini itu. Membatasi hidupku.

Tapi anehnya aku suka semua pembatasan itu. Buatku, itu resiko ketika aku harus masuk ke hidup seseorang. Aku juga harus bisa beradaptasi dengan semua yg ada pada dia. Karena, cinta buatku adalah peraturan yg dibuat oleh pasangan, dan harus kita patuhi karena rasa sayang dan takut kehilangan.

Nadira jauh lebih cocok buatku ketibang Wini.
Wini adalah pacar Fatih. Dulu sempet jadi gebetanku. Wini, dia itu, anaknya so cantik, ingin selalu tampil perfect, Dan kayanya matre.
Sementara Nadira, dengan segala keunikannya, cocok denganku dan dompet. Hehe..
Nadira tidak mematok harus makan dimana, atau ngajak main kemana. Dia selalu mau ketika aku ajak kemanapun. Makan di pinggir jalan, nongkrong di warung trotoar, jalan-jalan dengan motor kalengku yg lamban, dan kadang harus patungan buat beli makanan.

BY MY SIDEStories to obsess over. Discover now