6: Blinded Heart

12.9K 1.9K 22

Adira

Ketimbang Sushi Tei, sebenarnya aku lebih suka warung nasi padang. Karena tidak selamanya rasa enak itu bisa dibeli dengan uang setumpuk. Bahagia biasanya ada dalam kesederhanaan, bukan?

Tapi berhubung ini bukan ajang makan sendiri, dan aku bicara dengan beberapa orang, termasuk salah satu orang-orang ternama, aku tahu bahwa aku harus menyiapkan uang lebih hanya untuk makan.

Yah, diskusi ini sebenarnya hanya untuk membahas program baru yang akan membuat forum dan mengundang beberapa politisi dan ahli-ahli hukum untuk berdiskusi, namun nyatanya butuh pembicaraan basa-basi lebih dulu—dengan waktu yang jujur saya terlalu lama—sebelum akhirnya kami masuk ke topik pembahasan.

Setelah hampir dua jam berada di restoran ini, yang mungkin saja pramusajinya sendiri sudah bertanya dalam hati kenapa kami belum pulang-pulang, akhirnya beberapa orang sudah pulang, sementara dua orang tokoh politisi lainnya permisi untuk ke kamar mandi.

Aku hanya diam dan menyeruput minuman pesananku, berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.

“Ngobrol sama bapak-bapak emang ngebosanin sih, apalagi yang punya nama kayak gitu.”

Suara itu membuatku meletakkan gelas. Seorang laki-laki yang duduk di depanku tersenyum. Dia juga salah satu dari orang yang mengobrol denganku hari ini.

Namanya Adriel Pramudiwirja, juru bicara dari salah satu petinggi negara. Begitu melihat Adriel di sini, aku merasa lega. Paling tidak ada orang seumuranku, meskipun hanya aku sendiri yang perempuan dalam kumpulan.

Adriel tersenyum padaku dan ikut menyeruput minuman miliknya hingga habis. “Saya salut kamu bisa tahan sama omongan mereka.”

“Memangnya ada apa sama mereka?”

“Garing, dan agak... tahulah.”

Aku mengerti apa yang Adriel maksud. Memang saat bicara tadi, beberapa perkataan mereka seakan mengacu pada satu atau dua pihak tertentu. Bahayanya membahas politik memang begitu sih, kenetralan hanyalah sebuah ilusi. Karena politik itu memihak, padahal seharusnya tidak terikat.

Aku tersenyum karena komentar Adriel barusan. “Mereka aja, saya nggak mau ikut-ikutan.”

“Dan itu kenapa saya salut sama Bu Adira.”

Itu mungkin sebuah pujian yang menyanjung, tapi aku bukan tipikal orang yang mudah tersanjung.

Orang dulu bilang, semakin tinggi disanjung, semakin mudah tersandung. Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil, kemudian mengalihkan perhatian kepada batangan logam berlogo apel.

Tahu kan, benda ini sebenarnya bukan hanya berfungsi untuk membantu komunikasi, tapi untuk mengakhiri komunikasi juga. Dan itulah yang aku lakukan sekarang.

Aku pura-pura fokus pada ponselku, dan Adriel pun melakukan hal yang sama. Yang tidak aku duga, Adriel tetap bersuara juga. “Oh, ya, Bu, kalau saya minta nomor Ibu boleh?

“Nomor saya?”

“Iya. Biar kalau ada apa-apa bisa dibicarakan.”

Yah, alasannya masuk akal juga sih. Tapi rasanya agak aneh jika aku memberikan nomor pribadi. Bukannya pelit atau sok jual mahal, tapi urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi itu kan beda, dan seorang profesional tidak pernah menggambungkan keduanya.

Jadi aku merogoh tas kecilku, mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Adriel. “Bisa hubungin saya lewat nomor di situ. Itu nomor langsung ke kantor kepala redaksi, jadi langsung nyambung ke saya.”

“Um, oke. Thanks.”

Entah hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu yang mengganjal dari ekspresi Adriel, namun dia tetap menerima kartu nama yang aku sodorkan. Sekarang aku baru terpikir, kenapa waktu itu aku tidak melakukan hal yang sama waktu Andra meminta nomorku, ya?

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang