Jessica Adriana Wulandari, seorang gadis sederhana yang berhasil membuka pintu hatinya kembali setelah sekian lama dia putuskan untuk tidak pernah menyukai seseorang lagi.
Calvin Pranata Ibram, seorang pria muda yang harus menjalankan misi balas den...
Hari yang cukup terik bagi Jessica untuk berdiri di tengah lapangan seperti ini. Jika saja dia tidak terlambat, pasti dia tidak akan dihukum untuk hormat ke bendera hingga jam istirahat tiba.
Di tengah lapangan juga terdapat banyak murid lain yang sedang berolahraga. Semuanya terlihat acuh tak acuh pada Jessica yang sekarang berdiri di dekatnya. Syukur, setidaknya mereka tak terlalu memerhatikan Jessica yang sedang dihukum seperti ini.
Kali ini Dewi keberuntungan memang tidak berpihak kepadanya. Ini adalah kali pertama dirinya dihukum. Sungguh sial!
Keringat bercucuran membasahi pelipis Jessica yang mulai rapuh akibat teriknya matahari yang begitu kejam. Badannya terus bergetar menandakan bahwa Jessica benar-benar tak kuat lagi
Gelap. Seakan-akan dunia tak menunjukkan keasriannya dan matahari yang enggan untuk memancarkan sinarnya lagi.
Itulah yang dirasakan Jessica sekarang. Tubuhnya yang mulai melemas akhirnya tumbang di bawah jeritan matahari yang semakin memanas. Jessica sudah tak mampu lagi mengemban tubuh mungilnya.
*****
Sunyi. Hanya ada kesunyian di ruangan yang dipenuhi bau obat-obatan medis.
Jessica perlahan membuka bola matanya lemas, dia masih merasakan sedikit rasa sakit dikepalanya setelah jatuh tersungkur di lapangan.
"Jess, lo gapapa kan?"
Jessica tersenyum kecil kepada seseorang yang berada di hadapannya sekarang.
"Gue gapapa"
"Astaga ya, sumpah tega banget sih tuh pak Eko ngehukum lo sampe segininya!" teriak Tasya dengan cempreng yang baru saja tiba di ambang pintu.
Suara cemprengnya itu mengalihkan perhatian Jessica dan Dani yang sedang asik dengan obrolannya.
"Jess, lo gapapa kan?"
"Gue gapapa kok Tas!"
"Gue tau. Pasti Dani kan yang bawa lo kesini?" selidik Tasya sambil menaikkan alisnya sebelah.
Jessica yang tidak tau siapa yang membawanya kesini, hanya mengangguk pelan sebagai jawaban pertanyaan Tasya.
"Tuh kan Jess, pokoknya lo gaboleh jauh-jauh dari Dani"
"Apaansih Tas!" elak Jessica sambil mendelikkan matanya pada Tasya.
Dani yang melihat Jessica hanya bisa tersenyum karena keadaan Jessica sudah membaik.
"Jess, kalau gitu gue cabut dulu ya. Soalnya bentar lagi gue ada rapat osis. Kalo lo butuh sesuatu hubungi gue ya"
"Oke Dan, makasih ya!"
"Lo gak usah bilang makasih Jess, tanpa lo minta, gue pasti tetep ada di samping lo. Karena gue sayang sama lo"
Dani melangkah keluar ruangan meninggalkan dua manusia yang masih dipenuhi dengan pikirannya masing-masing.
"Emangnya bener ya, kalo Dani yang bawa lo kesini?" tanya Tasya yang masih ragu dengan jawaban Jessica.
"Hm, gue gak tau Tas. Kan gue gak sadar, mana gue tau kalo yang bawa gue kesini Dani ato bukan"
"Tapi kenapa tadi lo ngangguk?"
"Ya karena gue bingung harus jawab apa"
*****
"Jess, gue pulang duluan ya. Lo hati-hati nungguin jemputan abang lo ya!"
"Iya iya Tas, lo juga hati-hati"
Tasya segera melajukan laju sepeda motornya keluar gerbang sekolah, meninggalkan Jessica yang masih mematung memandang punggung Tasya yang mulai menghilang.
Yang bisa Jessica lakukan sekarang hanya berdiri diam sambil memainkan ponselnya.
Tak terasa, dia sudah menunggu abangnya lebih dari setengah jam. Tak seperti biasanya jika abangnya ini telat menjemputnya.
"Lo sapanya Calvin?"ucap Raya yang mengejutkan Jessica.
"Calvin siapa?"
"Lo gak kenal Calvin?" tanya nya sambil memicingkan sebelah alisnya.
Jessica menggeleng tak mengerti apa yang dimaksud cewek dihadapannya ini.
"Gue ingetin sama lo, jauh-jauh dari Calvin!" ucap Raya dan segera meninggalkan Jessica.
Jessica tak mengerti, siapa yang dimaksud Raya. Calvin? Calvin siapa? Jessica sama sekali tak mengenalnya.
"Naik!" ucap seseorang yang membuyarkan lamunan Jessica.
Jessica terlonjak kaget
"Eh abang! Lo lama banget sih. Lo tau kan adek lo ini mau bimbingan belajar!" cerocos Jessica.
Raihan menatap datar adiknya, dan segera mengisyaratkan Jessica untuk segera menaiki motor besarnya.
Sedetik kemudian, Raihan segera menjalankan motornya. Angin terasa begitu hangat, membelai lembut rambut panjang Jessica yang terurai.
"Lo tadi pingsan?"
*****
Bonus Pict
Jessica Adriana Wulandari
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Thank's for Reading Jangan lupa vote and comment ya 5++like comment aku lanjut follow cahisnainysherly Love you all