Chapter 1: Stiletto Blue

40 8 9
                                    

Dia seperti medan magnet, beramai-ramai merekatkan pandangan orang ke kulitnya yang mulus. Bagian depan yang lancip, sol yang tipis dengan tumit yang tinggi begitu merona. Heels yang seksi itu membuat siapa pun merasa tertantang untuk memakainya.

Kejenjangan bagian depan sepatu hingga menuju heels bagian belakang, meruncing seperti leher gadis-gadis Eropa. Pasti dia bisa digunakan untuk memanggil ambulans, jika terkena di kepala para keparat; penguntit.

***

Sepasang sepatu heels berwarna biru tua terduduk manis di etalase toko sepatu, bertuliskan, ‘Min Ji’. Toko milik designer sepatu yang sudah dua tahun ini menjadi buah bibir, dikarenakan bentuk sepatu ciptaannya yang begitu cantik dan berbeda dengan khas logo berbentuk Cherry blossom di telapak sepatu bagian depan.

Beberapa orang ternama memang telah mengakui, bahwa kenyamanan sepatu-sepatu ukirannya, sudah patut diacungi jempol. Tentu saja sangat mampu mengikat hati siapa pun, dan membuat para gadis-gadis di Seoul sangat ingin mengenakan sepatu milik Min Ji.

Termasuk, aku.

Sore ini toko sepatu itu tampak sangat sibuk, banyak sekali orang yang sedang mencoba sepatu berbagai warna dan bentuk. Beberapa pegawai yang baru pulang bekerja pun, juga terlihat bercampur bersama para sosialita di ruangan yang tak terlalu mewah itu.

Di tengah-tengah banyaknya orang-orang tersebut, akulah satu-satunya gadis berwajah melayu yang berpakaian santai dengan rambut berombak hampir keriting. Yang sedari tadi hanya membeku dan terpana, atau lebih tepatnya terpukau saat menatap sepatu berwarna biru tua di kandang kacanya.

Benda itu, sedari dua hari lalu terus memanggil dan merayuku untuk mendekatinya; dasar sepatu. Sepatu itu seperti permen kesukaanku, yang ingin sekali rasanya untuk membeli benda keramat tersebut. Warna yang cantik dan auranya membuat para gadis jadi menggila.

Pegawai toko yang tampak menganggur melihat kebekuanku, mata kami beradu ragu. Aku hanya bisa berkedip beberapa kali saat pandangan kami bertemu pada satu titik, aku segera mengatur perilaku agar tak tampak aneh di tempat ini. Ia segera menghampiri dengan hati-hati, lalu kemudian bertanya dengan ramah.

“Ada yang bisa kami bantu, Nona?” tanyanya mendekat.

“Kenapa itu mahal sekali?” jawabku menunjuk kertas harga dan menatap penuh harap ke arah sepatu manis.

“Tentu saja sepatu ini mahal, kau tahu kan …. Koleksi nyonya Min Ji akhir-akhir ini memang menjadi sangat mahal. Kau pasti juga tahu alasannya kan? Koleksinya sudah Go International dan aku rasa harganya sebanding dengan kenyamanan yang akan kau dapatkan saat memakai sepatu ini nantinya!” paparnya melelahkan, terdengar sombong.

“Tapi, itu tiga kali gajiku. Sedangkan, aku masih pegawai baru dan gajiku tidak akan cukup untuk membelinya!” kataku malu-malu.

“Kalau kau tidak punya uang, baiklah .… Kau bisa melihat sepatu di bagian sana! Itu koleksi lama, harganya 3 kali jauh lebih murah!” jawabnya terdengar angkuh. Hah, dia pasti sedang menertawaiku, dasar tidak sopan.

“Aah … benarkah? Terima kasih banyak Nona,” ucapku hanya bisa tersenyum dan membungkukkan badan beberapa kali.

***

Usai melihat sepatu-sepatu di meja lain, aku sama sekali tak tertarik dengan bentuk dan warnanya. Sepertinya, hati ini benar-benar telah terpaut pada sepatu biru tua di etalase depan itu, kebetulan juga biru adalah warna kesukaanku.

Aku yang hanya bekerja sebagai pegawai biasa ini, benar-benar hanya tinggal bermimpi saja. Mungkin menerima nasib akan jauh lebih baik. Tapi, aku tidak bisa mengabaikannya, ini terasa sangat mengganggu, jiwa shopaholic-ku sedang meronta-ronta.

Dua puluh menit sudah, aku berada di sini dan sudah selesai pula mengelilingi setiap sudut di dalam toko Min Ji. Namun, belum bisa memilih dan memutuskan apapun untuk dijadikan penghias kaki. Ruangan berukuran 4 kali lebih besar dari rumahku ini membuat kaki yang kupakai sedikit kecapaian.

Sepatu berhak kurang dari 7 cm yang terduduk manis di kakiku pun tampak menipu; kejam. Kelihatannya sih sangat cantik, tetapi sepatu itu meninggalkan bekas luka di tumit, karena sepatuku sudah tak layak pakai.

***

Sekarang, aku tak ingat lagi sudah berapa lama berada di dalam toko sepatu. Bahkan aku tidak bisa mengingat kapan dan bagaimana akhirnya kuputuskan untuk masuk ke tempat penuh godaan dan terkutuk itu.

Khawatir, kuputuskan untuk bergegas meninggalkan toko. Takut, jangan sampai ada yang mengira diri ini hanyalah seorang pengutil, karena tak membeli apapun, selain air di atas kening yang sesekali kuusap keras.
Jadi, kuharus memutuskan untuk pergi, meski tak benar-benar pergi. Dari luar jendela toko, aku hanya bisa berdiri cukup lama, termangu sambil melihat sepatu biru yang seakan-akan terus memanggil.

“Beli aku!”

“Bawa aku.”

“Aku milikmu!”

Menatapnya dan hanya bisa tersenyum ringan serta mencoba meyakinkan diriku sendiri.

“Stiletto-ku, oh!” ujarku singkat.

Tunggu aku 5 bulan lagi ya! Aku pastikan untuk membawamu pulang! Setelah batinku mengucapkan kalimat itu, justru tiba-tiba saja membuat kaki ini semakin lemas. Dengan lemah, kuputuskan pulang ke rumah saja dan membawa harapan agar bisa secepatnya membeli sepatu heels itu.

***

Meskipun beberapa hari telah berlalu, aku masih saja melakukan hal yang sama. Setiap pulang bekerja, kembali kulewati toko Min Ji hanya agar bisa menikmati pertemuanku dengannya, walau hanya menatap sepatu kesukaan itu dari luar jendela. Itu sudah sangat menyenangkan.

Terkadang khayalan-khayalan bahwa sedang mengenakan sepatu biru itu ke acara pernikahan teman menyerang pikiranku, jahat! Kenapa sepatu itu menjadi seperti roh penasaran yang merong-rongku dengan keindahan dan kemewahannya? Juga ia datang dalam khayalan-khayalan lain yang mungkin membuat diri ini tampak gila karena tersenyum-senyum sendirian di tempat yang ramai ini.

“Maaf, apa yang kau lakukan?” ucap seorang pegawai terdengar samar-samar, sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela dari dalam ruangan.

“Maaf …,” ujarku bergegas meninggalkan toko itu.

“Huuh, hampir saja! Apa yang mereka pikirkan tentang aku ya? Seorang pengemis? Pengutil? Pencuri? Atau .... Ah sudahlah!” ocehku tak keruan berjalan menuju halte bus.

The Blue Wedges [TELAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang