Karin menguap, ini sudah kali ketiga ia menguap dalam 5 menit terakhir. Sudah dua lembar tisu habis ia robek menjadi potongan-potongan kecil lalu diubah menjadi bulatan-bulatan kecil yang tersebar di meja nya. Secangkir latte yang baru ia pesan terasa sangat menyenangkan, tapi perasaan itu seolah tak dapat ia terima. Jarinya bergulat dengan tisu-tisu di depannya, tapi kebosanan seolah berniat membunuhnya. Kesabarannya sudah nyaris hilang saat lonceng di pintu berbunyi, sesorang memasuki kafe. Laki-laki dengan jaket jeans hitam dan rambut yang tak tertata itu terlihat sangat menggoda, beberapa pasang mata sudah memandangnya lalu berbisik pada temannya lalu kembali memandangnya. Mau tak mau Karin menghela nafas, mengakui dalam hati pesona menakjubkan pacarnya.
"Hi, sweet heart" Arfa mendekat, satu lengannya menarik pinggang Karin merapat lalu mengecup pipi gadis itu singkat.
"Aku udah lama disini, Fa. Kamu kemana aja?" tanya Karin langsung, basa-basinya sudah ia gilas bersama butiran tisu yang hampir memenuhi meja di balik tubuhnya.
"Sorry, Rin. Tadi aku masih ada urusan. I'm sorry okay?" Arfa meraih kedua tangan gadis yang tengah merajuk di depannya, menggenggamnya sedikit erat.
Karin hanya mengangguk pelan, masih dengan raut kesal. Mau tak mau ia menyadari tatapan iri dan kagum dari balik tubuh menjulang di hadapannya. Laki-laki ini berhasil membuat para gadis di kafe ini seolah ingin menerkamnya karena menjadi pacar dari seorang Arfa Aditya Putra.
"Akhirnya dateng juga!" Arfa menyalami laki-laki berkumis tipis di balik meja barista. "Cuma lo yang berani ninggalin gadis cantik macam Karin di kafe sendirian bro." Tawa keduanya terdengar di telinga Karin, ia hanya tersenyum simpul menanggapi gurauan Reno.
"Kan ada elo yang jagain cewek gue sementara, No!" tawa renyah Arfa kembali menarik perhatian beberapa gadis. Karin menunduk, terkadang dirinya merasa sedikit tidak nyaman saat memergoki bagaimana gadis-gadis seolah tergila-gila pada pacarnya.
"Aku mau ice cream" kata Karin, menyudahi percakapan basa-basi dua teman lama itu.
"Oke, abis ini kita ke gelato yaa." Katanya, "No, gue duluan ya, thanks udah mau dititipin!" tambahnya lalu menarik tangan Karin keluar dari kafe.
Ren's coffee adalah kedai kopi milik Reno, salah satu teman Arfa juga satu-satunya teman Arfa yang tahu hubungan keduanya. Tempat itu ditemukan tak lama sejak mereka berdua pindah ke Kota ini untuk kuliah. Mereka langsung akrab karena Reno yang pernah 5 tahun tinggal di Indonesia dan masih lancar berbahasa Indonesia hingga kini. Tak jarang Arfa mengatakan rindu dengan bahasa muda nya, yang ia maksud bahasa muda adalah bahasa yang menggunakan lo-gue. Dan asal kalian tahu saja bagaimana senangnya ia menemukan Reno yang bisa diajak berbahasa dengan bahasa yang ia sebut bahasa muda itu, seolah ia menang lotere, bukan, Arfa bahkan lebih senang dari saat Karin mengatakan akan menginap di apartemennya.
Karin melirik ke kiri, tatapannya lalu bertemu dengan mata teduh yang tengah fokus menyetir di sampingnya. Baru 10 menit yang lalu ia merasa sangat geram seolah ingin mencabik laki-laki di sampingnya ini, tapi sekarang ia merasa sangat senang hanya dengan duduk berdua di dalam mobil seperti ini. Arfa melihatnya sekali lagi, hanya sekilas lalu tertawa kecil seolah mengerti isi pikiran Karin.
"Dapet salam dari Arma, Rin." Kata Arfa memecah sunyi setelah Range Rover hitam itu melesat di jalanan sepi.
Karin menoleh lalu tersenyum lembut, sudah lama ia tak mendengar nama itu keuar dari mulut Arfa. "Salam balik, tumben kamu ngomongin dia, udah ngga berantem nih?" goda Karin.
"Nggatau harus ngomong gimana sama dia, susah banget dikasih tau nya itu anak." Katanya disambung helaan nafas yang panjang membuat Karin terkikik geli.
YOU ARE READING
Karin : Book 2
Teen FictionKarin merasa beruntung karena cinta pertamanya adalah Arfa, cowok menyebalkan yang kini berubah menjadi sosok laki-laki yang dewasa. Sementara Arfa, dunianya seolah terpusat pada Karin, ia sudah menemukan seseorang yang ia cari. Dunia perkuliahan m...
