Menjelang pagi, adzan berkumandang masjid disana sini. Beberapa orang melangkah untuk sholat subuh disana, ada juga yang memutuskan untuk sholat dirumah. Dan, ada juga yang masih ingin tertidur sambil menutup telinganya, Gilang namanya. Cowok keren, tajir, idaman para cewek. Tidak heran, karena rumahnya yang begitu luas, uang yang begitu banyak. Membuat Gilang berpikir, sholat itu tidak perlu dilaksanakan, toh Gilang bisa mencari cewek, dan uang dimana saja, Begitu prinsipnya.
Pukul 7.00
"Permisi den" Gilang mendengar ketukan pintu beberapa kali yang mengganggu tidurnya.
"Apaan si, gue lagi tidur"
"Maaf den, nyonya menyuruh saya untuk membangunkan Aden. Katanya mau sarapan pagi sama sama den"
"bilang aja, gue masih ngantuk"
"Udah sana sana, pergi" teriak Gilang dari dalam kamar.
Pembantunya turun kebawah, memberitahu mamah papah Gilang, kalau Gilang masih mengantuk
"Maaf nya, den Gilang masih ngantuk katanya" ujar bibi menjelaskan kejadian tadi dengan singkat
"Yasudah bi, biar nanti Gilang sarapan ditemenin bibi saja ya. Kami sudah terlambat soalnya kalau nunggu Gilang bangun" jelas feni, ibu Gilang yang gila kerja
"oiya Bi, nanti tolong ingetin Gilang ya, dia harus kerumah kakeknya hari ini" ucap Yusuf, papah gilang
"Baik tuan, saya permisi dulu nya, tuan" bibi kembali lagi kedapur, membersihkan dapur dan mencuci piring. Kemudian beres beres segala apapun yang berserakan di dalam rumah yang seperti istana itu. Sampai tidak sadar, Gilang sudah berada di anak tangga paling terakhir menuju ruang makan
"Den, udah bangun?"
"Lu ga liat kalau gue udah disini berarti gue udah bangun"
"maaf den, kalau gitu bibi siapin sarapan Aden ya" bibi pergi menuju dapur, kemudian menyiapkan sarapan kedua kalinya, kali ini khusus Gilang.
"Ini den, dimakan terus diminum susunya" jelas bibi
"Gua tuh udah gede, Gaperlu dijelasin juga, udah bisa bedain mana yang harus diminum, mana yang harus dimakan" perkataan Gilang memang selalu menyakitkan.
"Maafkan saya den, tadi tuan juga bilang saya harus ingetin Aden. Hari ini Aden harus ke rumah kakek Aden" ujar bibi
"hmm" Gilang hanya bergumam menjawab perkataan bibi.
"Yasudah saya kedapur dulu den" bibi pergi meninggalkan Gilang sarapan sendiri. Begitulah sehari hari keluarga Yusuf bin Burhan itu. Gilang selalu sarapan sendiri, kemana mana sendiri, wajar saja Gilang merasa tidak memiliki ibu dan ayah. Ia hanya memiliki bibi, yang memberikan kasih sayang nya kepada Gilang. Tapi, Gilang bukan tipe seseorang yang bisa berkata langsung bahwa ia sayang sekali dengan bibinya. Meskipun ia ingin sekali mengungkapkannya. Tapi, setiap kali ingin bilang. Yang ada hanya perkataan kasar yang menyakiti ibu keduanya itu.
***
Tak kalah luas dari rumah seorang pengusaha terhebat dikota ini, yaitu Yusuf. Rumah papah Yusuf, atau kakek dari Gilang memiliki rumah yang sangat luas. Kalau dijadiin taman mini, mungkin bisa. Untung saja, Gilang mengendarai mobil, hingga cepat sampai didepan pintu istana itu. Gilang mendobrak pintu, tidak mengucap salam atau salam penghormatan.
"Mana kakek gue?"tanya Gilang kepada salah seorang pelayan dirumah itu
"Tuan lagi keluar sebentar den" jawabnya, kemudian pergi karena tidak ingin dimarahi Gilang lagi
"aelah sialan. Gue disuruh kesini, dia malah pergi. Dasar tua Bangka"
Gilang emosi kemudian pergi ke arah dapur. Pelayan tadi menyadari kedatangan Gilang, kemudian gemetaran sambil bertanya
"Ada apa den?" Tanya pelayan itu
"Gue mau pergi, nanti kalau si tua Bangka itu pulang bilang aja. Gue udah kesini dia gaada. Jadi gue pergi lagi" Gilang kemudian pergi sambil mendobrak pintu itu lagi. Kasihan sekali pintu itu, dua kali diperlakukan seperti itu. Eh ko malah bahas pintu.
Gilang melajukan mobilnya ke salah satu cafe setelah dia menelpon temannya yang sudah berada disana. Sebelum sampai ke cafe, Gilang berhenti disebuah minimarket untuk membeli permen karet yang selalu ia beli dan simpan di mobilnya itu. Setelah sampai di cafe, Gilang buru buru mengambil minuman temannya itu sampai habis.
"Lang lu kenapa si?" Kata dewa, temannya
"Lu galiat mukanya lagi begitu, pasti lagi kesel njir" kevin memukul kepala temannya itu
"Yaudah lah cerita aja sama kita lang" kata Kevin sampul menepuk pundak Gilang. Gilang menepis.
"Anjir emang si tua Bangka itu, gue udah kesana dia malah pergi. Tai"
"Kapan matinya si dia, cuma bisa nyusahin gue" lanjut gilang dengan nada tinggi
"Yaudah lah bro sabar aja. Sekarang Lo nikmatin aja waktu bareng kita" kata kevin
"Iya bro, mending ntar malem kita ke club' biasa. Pasti cewek cewek disana udah pada nungguin lu" mereka tertawa bersama
.
.
Jangan lupa vote, komen, dan jangan lupa follow akun Instagram ya @jahe.15
YOU ARE READING
BEKU
Romance"Gilang jangan" teriak seorang gadis kepada pria yang sedang berkelahi. namun, pria itu tetap melanjutkan perkelahiannya "Gilang stop, aku mohon" gadis itu menangis. Gilang menghentikan pukulannya lalu berlari kearah gadis itu "kamu jangan nangis do...
