"Kita bukan Istiqlal dan Katedral yang ditakdirkan berdiri berhadapan dengan perbedaan, namun tetap harmonis. Jika mereka punya nyawa, siapa yang tahu kalau mereka saling jatuh cinta?"
"kamu SMA Xaverius?"
Tanya seorang pemuda yang duduk didepanku. Aku melirik. Dari penampilannya saja, aku sudah dapat menilai kalau dia anak gak bener. Rasanya aku ingin cepat keluar dari angkot ini.
"menurut kamu seragam kita beda?"
Jawabku ketus. Aku benci dengan pertanyaannya yang terdengar basa basi. Bukankah seragam ini sudah bisa menjelaskan bahwa kita berasal dari sekolah yang sama?
"kamu muslim?"
"tau dari mana kamu?"
"hijabmu. Makanya aku bertanya asal sekolahmu tadi. Karena baru kali ini aku ngeliat perempuan berhijab yang satu sekolah denganku"
Sejak pekerjaan papa di Bandung selesai, aku dan keluarga kecilku harus kembali ke tanah kelahiran kami, Jambi. Tidak ada yang berubah sepeninggalanku 5 tahun yang lalu. Aku dibesarkan di Propinsi ini. Lalu, melanjutkan sekolah menengah pertamaku di kota Bandung.
Aku heran, kenapa aku harus ditempatkan di sekolah yang membuatku menjadi minoritas.
Mama bilang, Xaverius merupakan sekolah swasta yang banyak mengukir prestasi. Gurunya unggul, muridnya pintar dan memiliki jiwa pesaing yang tinggi. Sekolah ini mampu mendidik anak anaknya untuk berakhlak dan berprestasi.
Iya. Mamaku tamatan sekolah ini.
Bukan hanya aku yang beragama islam disini. Annisa dari kelas XII IPA 1 misalnya. Hanya saja, ia tidak menutup rambutnya yang bergelombang.
Mengenai hijab, aku sudah mengenakan hijab sejak aku masuk SMP. Jadi, tidak mungkin aku melepaskannya hanya karena aku satu satunya yang mengenakan hijab di sekolah ini. Berani beda itu keren.
"eh, iya.." aku menyengir.
Harusnya aku sadar, hijabku juga dapat digunakan sebagai identitas agamaku.
"boleh aku tau namamu?"
Katanya sambil menjulurkan lidah, eh tangan.
"Embun. XII IPA 2"
Aku menyambut tangannya yang gelap dan terasa kasar.
"aku Suryah dari kelas XII IPS 3.
eh, tujuanku sudah sampai. Semoga Tuhanmu mengizinkan kita bertemu lagi besok" dia turun dan melambaikan tangan.
"salam kenal!" teriaknya ketika ia sudah berada diluar.
"biasanya cowok seperti itu, playboy."
Batinku.
Aku turun di depan lorong dan memberi uang Rp.2000 kepada sopir angkot lalu berjalan memasuki lorong yang disekitarnya penuh dengan kembang sepatu.
"gimana hari pertama sekolahmu?"
Tanya mama ketika aku sudah sampai didepan pintu. Hari ini adalah tahun ajaran baru sekaligus hari pertamaku sekolah disini.
"biasa saja" jawabku sambil melepaskan sepatu, kemudian masuk ke kamar. Sebenarnya ini bukan hari yang biasa saja. Orang disekelilingku memandangku sambil berbisik bisik. Aku merasa asing. Mungkin aku akan menjadi bahan pembicaraan disekolah karena mereka belum terbiasa melihat murid berhijab disekolahnya.
Kasur yang empuk menjadi tujuanku sekarang. Aku terlelap dengan pakaian yang masih lengkap dengan atributnya.
************
Vote dan komen ya teman-teman
❤
YOU ARE READING
Om Swastiastu
Teen Fictionbased on true story. "kamu tau kenapa aku mengatakan hubungan kita ini LDR tingkat dewa?" "tidak" "kita bukan hanya terpisah karena beda Benua. Tapi..." "Tuhan kita juga beda, kan?"
