Satu

673 4 0
                                        


2018.

Della melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota. Ia baru pulang setelah seharian berperang dengan dokumen-dokumen dibalik kubikelnya. Maklum, ini sudah sampai diakhir bulan. Jadi, deadline menuntutnya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Dan semua itu, membuatnya sangat lelah.

"Ayo, kita kerumahnya, Vini."

Della baru saja merebahkan dirinya disofa empuk, saat ibunya tiba-tiba datang menghampirinya. Ia menatap ibunya yang sudah bersiap untuk pergi.

"Emang disana ada apa, Bu?"

"Vini mengadakan pesta kecil-kecilan. Acara syukuran gitu."

Della mengernyitkan dahinya. Ibunya terlihat mengenakan pakaian yang terlalu berlebihan jika itu memang acara kecil-kecilan. "Della pengen ikut sih, Bu. Tapi, Della capek banget hari ini?"

Giliran ibunya yang sekarang mengerutkan dahinya. Lalu berdecak. "Tidak ada alasan, Della. Kamu hanya tinggal tersenyum dan semua beban lelahmu akan hilang. Ayo, ibu sudah terlambat."

Della hanya menghela nafasnya panjang. Jika, ibunya sudah seperti itu, ia tak bisa berbicara apa-apa lagi. Selain bangkit dan menenteng tas kecil yang tadi dipakainya saat kekantor.

Beberapa mobil sudah terparkir dengan rapi dihalaman depan rumah bertingkat itu. Sebelum keluar mobil, Della merapikan sedikit riasannya dan mengoleskan liptint ke bibirnya. Ia berharap tidak ada yang salah dengan penampilannya. Ia mengikuti ibunya yang berjalan terburu-buru seperti biasa.

Vini menyambut Della dan ibunya dengan ramah. Dia mencium pipi keduanya secara bergantian dengan berbasa-basi.

"Della udah lama nggak pernah main kesini. Makin cantik aja sekarang."

Della tersenyum menanggapi ucapan Vini. "Makasih, Mama Vini."

Ya, Della sudah biasa memanggil sebutan itu untuk wanita yang masih terlihat cantik dihadapannya itu. Padahal ia memanggil ibunya sendiri dengan sebutan 'Ibu'. Dan memanggil wanita lain dengan sebutan 'Mama'.

"Yaudah, masuk yuk. Udah ditunggu sama yang lain."

Della melihat sekeliling. Masih tetap terlihat sama seperti terakhir kali dia berkunjung, lima tahun lalu. Deretan foto-foto keluarga. Bahkan foto dirinya dan pria itu yang memakai seragam sekolah dasar masih terpajang rapi disana.

Della memilih menjauh dari kerumunan ibu-ibu yang seperti tengah arisan itu. Ini jelas bukan acara kecil-kecilan seperti yang dibilang ibunya tadi. Karena terlalu banyak manusia yang berlalu lalang, ia lebih memilih kedapur untuk mengambil minum. Padahal didepan sana tadi, sudah tersaji berbagai macam makanan dan minuman.

Tampaknya ia lebih menyukai berada didapur yang sepi daripada diruang tamu. Dia membuka kulkas dan menemukan banyak makanan dan minuman disana. Dia mengambil botol minum kecil lalu meneguknya langsung. Dia juga mengambil beberapa buah-buahan dan memakannya.

Wanita itu bersenandung kecil sampai ia tak tahu seseorang berjalan mendekatinya. Ia kembali minum dan menutup pintu kulkas. Tiba-tiba...

Brrruuuuussshhhhhh!!!!

Della terkejut dan menyemburkan air dimulutnya. Astaga, bagaimana ia bisa seceroboh ini?

Semburan airnya tepat mengenai wajah tampan yang kini berada didepannya. Pria itu terlihat seksi dengan memakai kemeja yang pas ditubuhnya.

Sesaat Della mengerutkan dahinya saat mengingat-ingat dirinya seperti pernah melihat pria itu. Dan sedetik kemudian matanya melebar.

Astaga, pria itu...

"Angga."

Pria yang merasa namanya disebut menghentikan gerakannya yang tengah mengusap wajahnya. Ia menatap kearah Della dan terdiam sesaat.

"Della?"

Della bernafas lega. Setidaknya Angga masih mengingat dirinya. Meski dia merasa tidak berarti karena ternyata pria itu tak memberitahu akan kepulangannya.

Sekian detik mereka terdiam dan hanya saling menatap. Namun, didetik selanjutnya Della tersadar akan kesalahannya. Dia segera mengambil beberapa lembar tisu didalam tasnya dan membersihkan wajah Angga.

"Maaf." lirihnya.

Dia merasa seperti orang bodoh. Tangannya bergetar karena tiba-tiba ia merasa gugup. Dan jangan tanyakan jantungnya seperti apa? Karena ia sendiri bisa mendengar dengan jelas debaran itu.

Angga tiba-tiba menyentuh tangan Della. Dan membuat wanita itu terkesiap. Sudah lama ia tak merasakan sentuhan itu, sampai ia terhanyut dan menikmati sentuhan yang sudah lama terlupakan. Bahkan ia tidak ingat, kapan terakhir kali ia bersentuhan dengan Angga. Yang jelas saat ini, ia merasa rindu yang terpendam selama tujuh tahun tersalurkan hanya karena berpegangan tangan. Jika saja, ia bisa meminta lebih. Ia ingin menikmati setiap detail apa yang ada pada diri pria itu sekarang. Wajah tampannya. Wangi tubuhnya. Tangannya yang berotot.

Astaga, ia bisa lupa diri jika terlalu lama memandanginya.

"Aku harus kedepan." Della menarik tangannya dan segera berlalu pergi. Meski sejujurnya, ia ingin berlama-lama disana.

Angga sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Della yang mulai menjauh. Ia menghela nafas dalam. Memandanginya seperti ini hanya menghasilkan kerinduan yang tertahan didalam dadanya. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan wanita itu disini. Bahkan ia merasa bersalah karena tidak pernah lagi menghubunginya. Atau setidaknya mengabarinya jika dia sudah berada di Indonesia sejak beberapa minggu lalu.

Ia masih ingat saat Della yang berada dalam ingatannya adalah seorang gadis tomboy dan selalu masa bodoh terhadap penampilannya. Tapi, lihat dia sekarang. Apa yang dimilikinya saat ini adalah yang diinginkan setiap laki-laki dan perempuan.

Ya Tuhan, Della-nya sudah tumbuh dewasa. Dan dia juga sangat cantik!

Salah satu sudut bibir Angga terangkat naik. Jika tujuh tahun lalu dia bisa bebas merangkul atau memeluk wanita itu dengan gemas. Berbeda dengan sekarang, sejujurnya dia berharap Della akan senang dan bahagia saat bertemu dengannya. Memeluknya untuk melepas kerinduan yang tertahan. Tapi, itu hanya sebuah mimpi sekarang baginya. Bahkan ia melihat Della menghindarinya. Mungkin karena memang alasan canggung.

Ah, pria itu merutuki kebodohannya dulu karena tidak bisa berkata jujur.

Angga memasuki ruangan yang sekarang sudah ramai. Sanak saudaranya sudah berkumpul semua ternyata. Tapi, tak sulit baginya untuk menemukan Della yang sedang duduk dikursi paling pojok. Dia ingin menghampiri wanita itu dan berbicara banyak. Berbagi pengalaman yang sudah terlewatkan selama tujuh tahun. Namun, bukan saat yang tepat ketika Ayahnya memanggil dirinya. Dan pria itu hanya bisa melirik sesekali pada Della yang sibuk memainkan ponselnya.

***

SEBATAS TEMAN (Complete)Stories to obsess over. Discover now