CHAPTER #2

27 1 0
                                        


"karena kamu sudah besar, seharusnya kamu bisa lebih menjaga diri. Karena sekarang kamu semakin bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah".

Elga mengacak-acak rambutnya berkali-kali.

Sepertinya do'i emang ngarep banget rambutnya jadi kusut dan rontok. Buktinya tiba-tiba saja sekarang Elga jadi hobi ngacak-acak rambut. Yang membuat orang lain bersyukur adalah, dia masih ngacak-ngacak rambutnya sendiri, bukan rambut orang lain.

Tentu saja orang yang paling pantas merasa bersyukur adalah Wirda, karena dia satu-satunya teman dekat Wirda yang berhijab. Jadi jika suatu saat Elga jadi demen ngacak-acak rambut temannya, dia bakalan selamat. Karena rambutnya tertutup oleh hijab.

(Setelah mengetik ini, author jadi tahu ada satu lagi fungsi hijab yaitu menghindari serangan teman yang punya kelaian ngacak-acak rambut).

"Yaampun, kamu kenapa sih Ga, daritadi aku lihat garuk-garuk kepala mulu, kutuan ya?" tanya Kirana sambil memutar kursinya ke belakang, sehingga menghadap ke bangku Elga.

"Lu kalo mau soksokan perhatian nggak usah diakhiri dengan fitnah keji gitu dong!" dengus Elga dengan wajah yang nggak kalah kusut sama rambutnya.

"Ya habisnya kamu kayak lagi sakit kepala gitu"

"Bukannya sakit kepala Ran, lagi mikir nih gue"

"Orang kalo sakit kepala juga gara-gara kebanyakan mikir kali Ga. Berarti bentar lagi lo juga bakalan sakit kepala", ucap kirana sok nebak.

Elga tidak menanggapi ucapan Kirana, justru cewek parno begitulah yang suka bikin sakit kepala. Kirana kembali memutar kursinya ketika melihat Bu Rita masuk kelas dengan wajah yang sedikit sengak.

Entah ada apa dengan Bu Rita pagi ini, mungkin saja karena tanggal tua atau baru saja terkena syndrom PMS, begitu masuk ke dalam kelas tatapannya sudah menyiratkan hawa pembunuh. Membuat seisi kelas tak berani cicit cuwit seperti biasanya.

"Hari ini siapa yang piket?" pertanyaan Bu Rita terdengar menggelegar, membuat sejujur apapun seorang murid tidak akan berani menjawab.

Namun rupanya ada anak yang ternyata sangat jujur dan berani mengambil resiko, murid yang layak menjadi murid teladan itu  adalah Elga, yang kebetulan piket hari itu.

Dengan gugup dia mengangkat tangannya. Sebenarnya bukan hanya dia saja, ada 3 anak lain yang juga bertugas piket hari itu. Tetapi rupanya tidak ada yang mau mengaku, membuat Elga menyumpah-nyumpah dalam hati.

"Kamu yang nyapu lantai kelas?"

"Eh, i iya bu," jawab Elga gugup. Habisnya dia sendiri yang berdiri sedangkan yang lain duduk, seolah-olah dia adalah satu-satunya tersangka dalam kasus ini.

"Cewek kok nyapunya nggak bersih! Mau nanti dapet suami brewokan?!?!".

Entah sebenarnya Bu Rita ini sedang mengancam, mendoakan, atau menawarkan suami brewokan pada Elga, tapi suaranya yang nyolot banget itu bikin seisi kelas semakin bungkam.

"Yakan tinggal disuruh cukur,bu!" tak ada yang menyangka suara itu keluar dari mulut Elga. Rupanya dia benar-benar nggak takut mati. Bisa-bisanya dia menantang singa yang sedang lapar. Padahal bisa saja dia mati gara-gara diterkam.

"Heh, kamu pikir, begitu dicukur masalah akan selesai? Terus nggak bakal tumbuh lagi? Jangan salah ya! Justru kalo keseringan dicukur brewoknya jadi semakin lebat tau!".

Seisi kelas melongo. Baru menyadari kalau ujung-ujungnya Bu Rita malah jadi ngajak debat. Apalagi ucapannya barusan seolah-seolah menyatakan bahwa suami brewokan lebih bermasalah ketimbang lantai yang tidak disapu dengan bersih. Namun bisa jadi ucapannya barusan juga salah satu TPF yang akan disampaikannya hari ini bahwasanya, jika sering dicukur, brewok justru semakin cepat melebat.

Oke, Elga tak lagi menyahut. Karena kalau diteruskan perdebatan tidak penting tidak akan berakhir. Jadi, untuk mencegah hal itu terjadi, akan lebih baik jika yang muda yang mengalah. Sedangkan Bu Rita tampak puas karena ucapannya mampu membungkam mulut Elga. Padahal kemungkinan kalau ucapannya dibalas oleh Elga dia juga bakal mencak-mencak.

Bu Rita masih belum mendudukkan pantatnya ke atas kursi yang paling empuk diruangan kelas, kursi guru. Ia masih menatap murid-murid yang kelihatannya polos-polos itu satu persatu. Sementara Elga masih berdiri menunggu keputusan dari Bu Rita dan juga hukuman apa yang akan diterimanya.

"Karena pagi-pagi kalian sudah bikin saya emosi,"

Dalam hati anak-anak yang tampak polos-polos itu mencibir "padahal loh, dia sendiri yang marah-marah tanpa sebab" sambil saling melirik-lirik yang menyikut bahu.

"Saya tidak akan masuk kelas ini sampai kelas ini bersih!" setelah mengucapkan itu Bu Rita langsung keluar dari kelas tanpa salam tanpa menutup kembali pintunya.

Begitu Bu Rita sudah tak nampak lagi seperti gajah dipelupuk mata, Elga langsung nuding-nuding temannya.

"Heh, dasar kalian ya pada nggak ngaku! Itu sono kelean sendiri yang bersihin. Gue ogah ya, gue udah ngaku tadi. Pake disumpah-sumpahin dapet suami brewokan lagi,huh!"dengus Elga, sedangkan yng dituding-tuding hanya cengar-cengir sambil minta ampun tapi  setengah nggak ikhlas.

"Padahal dalem hati lu berbunga-bunga kan disumpahin begitu?"

Lagi-lagi Kirana minta ditampol.

"Ya kalo brewokannya cem Joe Jonas atau Serkan Cinta di Musim Semi sih, gue mau-mau aja," jawab Elga sinis.

"Wah, padahal gue kira lu maunya cuma sama Raka, ternyata sama om om brewokan juga lu demen, ckckckck"

Kirana soksokan kecewa sambil geleng-geleng kepala.

Mendengar nama Raka yang disebut, Elga jadi terdiam.

Sepertinya sepagian tadi pikirannya sudah dipenuhi oleh cowok bernama Raka tersebut. Kemudian tiba-tiba saja pikirannya sudah diracuni Bu Rita dengan suami brewokan. Lalu sekarang, begitu nama itu disebut, Elga jadi memikirkannya kembali.

Dan lagi-lagi dia melakukan hal yang baru-baru ini menjadi salah satu hobinya. Mengacak-acak rambut.

***

"Astaga....muka sama rambutnya kenapa jadi saingan begitu?" tanya Raka sambil menyisir rambut Elga yang kusut banget dengan jari-jari tangannya.

Elga tak menjawab, dia masih saja manyun.

"Mukanya mau gue sisirin sekalian biar nggak kusut?" tanya Raka lagi.

"Muka gabisa disisir lah, bego!" Elga nyolot dua senti.

"Loh, kenapa jadi bego-begoin gue?"

"Yahabisnya lo emang bego," jawaban orang yang suka ngatain orang lain bego padahal dia sendiri yang bego memang suka ngasal.

"Iya udah deh, gue bego. Tapi masih tetep pulang bareng gue kan?"

Biasanya Elga langsung menjawab "Ya masihlah!".

Tapi rupanya, Elga benar-benar sedang memikirkan ucapan sahabatnya, Wirda. Entah apa yang diucapkan Wirda sampai-sampai Elga kepikiran terus. Tentu saja nggak sampai meggesser posisi Raka yang menjadi peringkat pertama dalam daftar 'hal-hal yang difikirkan oleh Elga saat ini'. Tapi rupanya ucapan Wirda mampu mengusik hati nurani Elga yang paling dalam.

"Yah, lo nawarinnya telat sih Ka, gue udah janji mau pulang bareng Wirda hari ini. Sori ya, Ka" ucap Elga, sedikit menunjukkan penyesalan.

Raka diam sejenak, sepertinya ia menyadari ada sesuatu pada Elga.

"Mmmm, oke deh! Hati-hati ya Ga, aku duluan, daah!" Raka melambaikan tangannya. Elgapun membalasnya sabil melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

"Dahhh Rakaaa...!!!!!" teriaknya keras-keras.

"...for today and a long time, maybe", ucapnya kemudian.

Lirih.

***

Dear MANTHAN La tua prossima ossessione. Scoprilo ora