Hana [1]

58 10 14
                                        

Cewek dengan sepatu pantopel dan sarung tangan putih-nya itu sedang melipat bendera merah putih. Kaus kaki yg panjang hingga selutut, dan rok putih yg mencapai sama. Serta pakaian serba putih juga logo bet sekolah yg ada di bahu lengan kiri seragamnya.

Namanya, Anggia Diandra . Cewek dengan rambut sebahu, penyuka warna pastel. Dan musik-musik akustik.

Anggia adalah salah satu anggota paskibra, yg kebetulan kebagian sebagai pengibar bendera merah putih. Kelas XII Bahasa 2.

"Gi, tolong kancingin sarung tangan gue dong."

Nah, satu lagi. Cewek yg barusan minta tolong sama Anggia itu namanya Shela.
Shela febrina. Sahabat Anggia, satu kelas. Bahkan satu meja juga. Shela anak paskibra juga, sama kaya Anggia. Bedanya dia jadi pasukan anggota baris berbaris. Tapi, di hari senin yg penuh padat ini, Shela menjadi pembaca naskah Undang-Undang Dasar. UUD. Menggantikan Pevita yg idzin hari ini, karena sakit.

Oh, jangan lupa. Pevita rahmadiza, teman Anggia dan Shela juga. Pevita anak yg paling kalem, adem, ayem di antara Anggia dan Shela. Simple, dan apa adanya. Pintar juga cantik. Oh jelas, karena dia perempuan.

Anggia langsung mengancingkan sarung tangan milik Shela. Dan shela juga mengucapkan terimakasih pada Anggia setelahnya. Anggota paskibra langsung turun kelapangan dan mengambil posisi untuk siap melakukan upacara pengibaran bendera merah putih di sekolah.

Siswa-siwi Mataram High Schooll segera mengambil barisan masing-masing setelah di beri peringatan melalui pengeras suara.
Para staf pengajar di Mataram High Schooll mulai membuat barisan juga. Tidak ingin kalah dengan murid-muridnya.

Ketika upacara di mulai, suasana menjadi hening, selama satu jam kedepan.

°°°

Anggia mengipas-ngipaskan wajahnya dengan buku, panas, gerah, capek. Itu yg ia rasa, mengingat sudah memasuki musim kemarau. Pastinya cuaca akan menjadi panas terik seperti ini.

Melihat Shela yg sudah duduk di depan blower Anggia menghampiri Shela dan ikut duduk di sebelah cewek itu. Sama seperti Anggia, Shela juga sama gerahnya. Apalagi AC ruangan ini rusak.

"Gerah banget, gi." Ucap Shela, ia membuka satu kancing yg ada di kerah bajunya. "Beli minum yuk gi, sekalian ganti baju. Udah lepek banget nih gue."

"Ya, lo kira gue ga gerah?." Anggia melepas peci paskibra nya dan meletakkannya di pangkuannya. "Sebentar, kaki gue masih pegel."

Shela mengangguk mengerti.

Setelah itu, keduanya berjalan keluar dari ruangan khusus anak paskibra, dan menuju kantin. Sebelumnya mereka, menaro perlengkapan paskibra nya di loker masing-masing.

Seusai dari kantin, Anggia dan Shela mulai mengganti baju-nya dengan seragam sekolah biasa. Putih abu-abu. Lalu pergi ke kelas mereka.

Ternyata suasana kelas sangat ramai, entahlah, namanya juga, anak kelas bahasa.

"Gi, lo udah kerjain pe-er biologi?" Tanya Shela.

"Udah dong, emangnya gue, itu lo! Selalu ngerjain belakangan."

Di bilang seperti itu, Shela malah nyengir. Biasa, nyengir ada maunya.

"Gi liat dong, Gi."

Tuhkan.

"Ambil aja di tas, tapi abis itu kepangin rambut gue ya. Gerah."

Just YouStories to obsess over. Discover now