Bagian 1

62 2 13
                                        

Terlahir memiliki sesuatu yang tak normal sangat menyiksa bagiku. Belum lagi dengan bully-an yang sering kuterima hampir tiap harinya. Yah terkadang sampai frustasi-nya aku sampai memiliki niatan untuk mati. Hanya saja hal itu selalu mudah digagalkan.

Tahukah kalian betapa sedihnya hidup tanpa ada yang menyukai keberadaan kalian di muka bumi. Bahkan terkadang aku berpikir bahwa dunia ini seperti menolak kehadiran aku.

Akan tetapi untungnya seseorang yang baru di mataku muncul bagaikan malaikat utusan Tuhan untuk mendampingi aku. Ya aku masih ingat bagaimana kami bertemu. Waktu itu langit sangat gelap dan disertai hujan lebat. Dalam cuaca buruk itu aku berdiri di tepi sungai yang jauh dari pemukiman. Sebenarnya itu adalah tempat bermainku sehari-hari.

"Apa gunanya hidup?" Kataku sambil menatap ke atas awan.

"Apa yang kau lakukan di sana?!" Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis seperti aku. Kulihat wajahnya begitu cantik dan manis. Lalu gadis berpayung biru itu mendekat padaku dan melindungi ku dari butiran air hujan yang menjatuhiku.

"Hei tidak bagus kau main hujan-hujanan di cuaca seperti ini. Bisa aja petir menyambar kamu..."

Aku heran sekali dengan gadis ini. Maksudku dia samasekali tidak takut dengan aku. Biasanya kesan pertama seseorang setelah menatap mataku adalah mereka yang melihat akan merasa takut bagai melihat iblis.

"Kenapa kau tidak lari?" Tanya ku dengan polosnya.

"Kenapa harus lari? Konyol sekali kau bertanya." Jawabnya dengan nada heran. Kemudian ia berkata lagi, "Ayo berteduh sebelum badai datang!"

Hari itulah pertemuan pertamaku dengan Elly, dan hingga kini kami menjadi sahabat dekat.

Sumpah bahkan hingga detik ini aku masih tidak percaya jika diriku yang sekarang sudah mengalami banyak perubahan setelah bertemu dengan Elly, walaupun tidak semua berjalan lancar sih.

Mungkin semua boleh takut dengan mata merah ini, tapi setidaknya aku punya sahabat yang menerima segala kekurangan aku.

"Hei kamu ini suka banget sih . melamun?" Tegur Elly padaku.

"Bodo amat, pokoknya hari ini aku akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi darimu."

Sekarang jam pelajaran sedang berlangsung, kuharap ini cepat berlalu agar aku bisa segera pulang dan bermalas-malasan di atas kasur. Percuma kan di sini kalau di sini aku ditakuti selayaknya setan? Terkadang guruku sendiri takut menatap langsung mataku yang berwarna merah. Mereka bilang mataku adalah mata setan.

"Aku tahu kau sedang sedih, tapi kumohon kau jangan menutupinya dariku!" Kata Elly sambil mengerjakan soal di LKS.

"Kau sih enak bilang begitu karena kau tidak merasakan apa Yang kurasa." Jawabku dengan lesu.

"Erika, kau masih punya aku. Biar saja mereka membenci kamu! Tapi percayalah jika masih ada yang menyayangi kamu."

Kata-kata itulah yang selalu terdengar di telinga aku ketika aku sedang berbincang dengan Elly. Setidaknya itu bisa membuat aku sedikit lebih baik.

***

Jam terakhir berakhir. Biasanya aku pulang jalan kaki bersama Elly, namun untuk hari ini tidak karena dia dijemput orang tuanya, jadi aku pulang sendiri deh.

Ini sungguh menyebalkan. Aku tahu mata merahku ini seram, tapi kenapa sampai segitunya mereka menatapku dengan jijik, sadis, dan penuh amarah?

Bodo amat, pokoknya secepat mungkin aku mencoba meninggalkan tempat ini. Dari sekolah sampai ke jalanan yang sepi aku berlari. Kemudian aku merasa ada seseorang melempar aku pakai batu kerikil. Sakit rasanya ketika benda itu menghantam belakang kepalaku.

Red Eyes: Kisah Erika Bermata MerahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang