Pagi ini tidak seperti biasanya. Matahari sibuk bersembunyi di balik awan tanpa berniat memancarkan sinar nya. Rintik hujan perlahan membasahi kota Jakarta.
"Aish.. Baju gue basah!"
Cowok itu menepikan motornya di sebuah halte bus. Ia mengambil jaket yang biasa dibawa. Kemudian ia meraih ponsel nya karena mengingat sesuatu.
"Lo udah berangkat? Disini udah hujan loh." Ujar nya pada seseorang di telepon.
"Masih di rumah. Kalau hujannya ga reda juga, gue ga sekolah." Jawaban dari seberang.
"Halah bilang aja malas sekolah. Gue jemput sekarang." Ujar nya lalu memutuskan telepon secara sepihak.
Cowok itu segera melajukan motornya di antara rintik hujan yang masih belum terlalu deras. Ia adalah Ananda Pratama yang akrab dipanggil Tama. Ia adalah sosok yang paling peduli terhadap sahabat masa kecilnya. Rintik hujan perlahan menghilang dan matahari mulai menampakan dirinya. Tama mempercepat laju motornya mengingat ini adalah hari Senin.
Motor nya berhenti tepat di depan gerbang berwarna putih yang menjulang cukup tinggi. Pak Kirno, satpam dirumah tersebut mulai membuka gerbang.
"Terima kasih, pak Kirno." Ujar Tama dengan senyum khas nya.
"Neng Tera masih di dalam. Tadi kata nya sih engga mau sekolah." Kata pak Kirno sambil menggiring Tama memasuki halaman rumah tersebut.
Tama menepuk pelan bahu pak Kirno. Ia biasa melakukan hal tersebut karena sudah akrab dengan satpam tersebut.
"Tenang pak. Tera ga bakal nolak kalau saya yang jemput."
Pak Kirno tertawa. "Ya iya, wong di jemput pangeran. Gimana bisa nolak?"
"Pak Kirno bisa aja ya. Siapa yang ngajarin pak?" Ujar Tama tak bisa menyembunyikan senyumannya.
Dari arah pintu utama terlihat gadis cantik namun urak-urakan. Tama menghampiri gadis tersebut dan menariknya masuk kembali.
"Rapihin seragam lo, tuan putri. Mumpung masih jam 6!" Titah Tama pada Tera.
Tera berjalan menuju cermin. Ia menatap penampilannya hari ini yang terlihat seperti biasa. Rambut dicepol asal, baju yang tidak di masukan, tidak ada dasi, dan tentu saja tidak ada ikat pinggang.
"Gue udah perfect gini kok! Si Tama aja yang repot" Gumam Tera.
Tera berjalan ke arah Tama yang berada di sofa ruang tengah. Tama menatap Tera yang masih tanpa perubahan. Ia menghela nafasnya dengan kasar.
"Lo cewek atau cowok, Ra?" Tanya Tama pada sahabatnya tersebut.
Tera menatap Tama dengan tajam. "Gue punya dua gunung! Berarti gue masih murni jadi cewek!"
Tama bangkit dari sofa dan menarik Tera menuju kamarnya. Ia mendudukan Tera di depan meja rias. Seperti biasa, Tama menjadi ibu dadakan untuk Tera. Ia merapihkan rambut Tera dan memasangkan dasi.
Tama sedikit melangkah mundur. "Sekarang rapihin baju lo atau mau gue yang rapihin?"
Tera menggeleng. "Gue aja, lo mesum."
Tama tertawa pelan, ia keluar dari kamar Tera dan kembali pada sofa empuk yang selalu jadi sasarannya jika berkunjung ke rumah sahabatnya tersebut. Ia dan Tera sudah bersahabat sejak kecil. Tama mendapat pesan dari orang tua Tera untuk menjaga anaknya dengan baik.
~~~
Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Seperti nya Dewi Fortuna sedang berada di pihak mereka. Sepanjang jalan yang mereka lalui terbebas dari macet, sehingga mereka bisa sampai ke sekolah lebih cepat.
"Nanti tunggu gue di depan pos satpam aja. Jangan di depan kelas gue." Ujar Tera pada Tama yang sedang memarkir motornya.
Tama menolehkan kepalanya. "Kenapa?"
"Ck, gue di ledekin sama temen-temen gue."
Tera tidak memceritakan masalah ini pada Tama. Sehingga Tama selalu saja menunggu Tera di depan kelasnya.
"Di ledek gimana?"
"Malu pokoknya!" Ujar Tera yang segera bergegas pergi.
Tama menatap punggung gadis itu yang sudah mulai menjauh. Ia memang belum sepenuhnya tau tentang Tera. Tapi ia akan berusaha untuk membuat Tera nyaman berada di dekatnya, karena mereka adalah Sahabat.
Ya, Sahabat.
Triiing
Tama meraih ponsel yang berada di saku celana nya.
From : Terarara
Kata temen gue, kita pacaran.
Tanpa sadar senyum Tama sudah mengembang.
"Yaelah, Tera! Gitu aja?" Ujar Tama sambil terus tersenyum.
Ia masih dapat melihat punggung Tera yang berjalan di koridor. Sesekali Tera menatap ke arahnya, tapi secepat mungkin ia mengalihkannya, dan menurut Tama itu sangat.... menggemaskan!
'Ya tuhan, jangan jatuh cinta' ujarnya dalam hati.
Tama mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat frustasi saat ini. Seperti nya kisah seorang Tama akan dimulai dari sini. Dilema cinta dan persahabatan.
~~~
YOU ARE READING
Spekulasi
Teen Fiction"Jadi selama ini--" suara nya tercekat. Tak mampu lagi keluar bebas. "Iya, gue yang kirim semua nya. Gue sengaja tulis nama dia di sana." "Kenapa?" Cowok itu menarik nafasnya dalam. "Biar lo bisa jadian sama dia!" Sebuah tamparan mendarat tepat di p...
