Kicauan burung-burung menyambut datangnya pagi hari. Sang mentari yang malu-malu, akhirnya mulai memancarkan suryanya hingga masuk ke dalam celah tirai jendela seorang gadis.
Namun sayang, hal itu tak dapat lagi menggugah niat si empunya untuk membuka mata.
Karena selesai merias dirinya di depan cermin, ia merangkul sebuah tas ke salah satu pundaknya. Kemudian melangkah mantap menuruni tangga, menuju ruang makan agar dapat sarapan untuk menjalani hari yang akan berlalu sangat lama.
"Pagi mah, pah!" sapa cewek bernama Revalina Stelafia, yang akrab dipanggil Reva itu dengan hangat.
"Pagi juga, Sayang." balas kedua orang tuanya kompak.
"Gue nggak disapa nih?" Reva mendengus kesal, memperlihatkan senyum paksa sebelum akhirnya memberikan sapaan yang berujung ejekan.
"PAGI juga abang Rese, kesayangannya Reva!" seru Reva dibuat-buat. Terdengar jelas tidak ada minat sama sekali dalam menyapa cowok jangkung dihadapannya itu.
Dia adalah Restraria Abraham, kakak laki-laki Reva.
"Ck, nyapa yang bener kek!" ucap Restra tak terima. Restra lalu berdeham sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Ekh, ekhem—PAGI juga Evalak!"
Reva langsung memberikan tatapan tak bersahabat kala mendengar sapaan Restra yang terkesan mengolok-ngolok dirinya. Bukannya takut atau bahkan berhenti, Restra malah semakin mengejek Reva dengan menjulurkan lidahnya.
"Maaah.. Restra!" seru Reva memasang wajah kesal, namun malah terlihat menggemaskan di mata Restra.
"Duh, gemay anet sih adek gue!" seru Restra menggerak-gerakan tangannya, seolah ingin segera mencubit pipi Reva yang tengah mengembung.
"Restra.." peringat Irana, Mama mereka.
Restra menyengir sambil beralih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Becanda mah, hehe."
"Cih, sekalinya ditegur aja bilangnya becanda."
"Restra Reva, astaga, udah. Berantem mulu, kayak anak kecil aja." Gavin, sang Papa menengahi.
Reva dan Restra kompak menyengir lebar. Setelahnya, kakak beradik itu memilih untuk segera menghabiskan sarapan yang sudah tersedia dihadapan. Selesai sarapan, keduanya pun pamit untuk berangkat sekolah bersama-sama.
***
SMA Prasaja. Sekolah yang dikenal dengan prestasi serta kedisiplinannya yang tinggi. Tempat kakak beradik ini bersekolah. Jarak umur mereka terpaut cukup dekat.
Tahun ini, Restra sudah duduk di bangku kelas dua belas. Sedangkan Reva yang sekarang telah duduk di bangku kelas sepuluh, masih tergolong siswi baru. Meskipun satu semester sudah hampir ia lalui.
Suasana sekolah sekarang masih cukup sepi. Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang di lorong kelas, maupun sekedar berkeliaran di sekitar lapangan. Memang, karena waktu masih terbilang lumayan pagi.
"Res, lo duluan ya?" Reva berujar tiba-tiba.
Saat ingin melalui lorong kelas dua belas, Reva tiba-tiba saja berniat memutar haluannya. Namun ekor mata Restra menangkap dengan cepat sehingga masih sempat jika ia menahan adiknya itu terlebih dahulu.
YOU ARE READING
RevAtha
Teen Fiction"Jangan terlalu benci, nanti bisa cinta." Revalina Stelafia. Cewek cantik bertampang judes yang terkenal jutek di sekolahnya. Wajah datar serta tatapan sinis tak pernah lepas dari cewek berambut kuncir tersebut. Jarang tersenyum, terutama kepada cow...
