Prolog

7 0 0
                                        

.
.
.
.
.
Drap...drap. .drap .
Suara langkah kaki terdengar didekat gedung menuju ke kelas ekonomi, sepertinya orang itu terburu-buru. Tak butuh waktu lama, orang itu pun telah sampai di kelas yang dituju.

Brakkk. .
"Permisi..", ujar orang itu yang ternyata adalah mahasiswi di fakultas ekonomi tersebut. Namun demikian itu ia terkejut, ternyata disana, didalam kelas telah ada dosen yang mengajar.

"Anda terlambat nona Dean? ", ujar sang dosen.
"Kenapa anda tidak datang tepat waktu? ", tanyanya kemudian.
"Saya sakit perut tadi pagi, jadi saya terlambat. Maafkan saya Miss.", ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Benarkah?"
Yang ditanya hanya bisa menundukkan kepalanya seraya menganggukkan kepala membenarkan ucapan sang dosen.
"Maafkan saya Miss saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama ", katanya.
"Baiklah saya pegang janji anda, sekarang duduklah ditempat anda.", balas sang dosen dengan begitu ketusnya.
"Baik Miss, terima kasih atas perhatiannya, sekali lagi saya mohon maaf atas keterlambatan dalam waktu . Kalau begitu saya permisi dulu", ujarnya kemudian ia duduk dikursi paling belakang.

"Kheh.. La, gak biasanya lo datang terlambat? Napa lo? Niat buat rekor ya?" Tanya salah seorang temannya yang duduk tepat didepan kursinya sambil berbisik tanpa menengok kearahnya.

Merasa ada yang ganjil, Kila pun berniat bertanya pada temannya itu dikarenakan tak biasanya Yusi bicara padanya dengan nada sinis.
Namun ketika ia baru saja akan membuka bicara, tiba-tiba Miss Lena menginterupsi pembicaraan mereka.

"Nona Ayusri, jika Anda tidak berniat untuk mengikuti pelajaran saya, silahkan anda keluar." Tegasnya.
"Ya Miss, saya minta maaf." Ucapnya dengan nada jengah.
"Baiklah silahkan kalian buka halaman selanjutnya, kita akan membahas tentang bla..bla..bla..bla..bla.."

Kriiiiiiiiiiiiiiing...kriiiiing....
"Baiklah anak-anak, cukup sekian pembelajaran kita hari ini.. saya permisi."
"Ya Miss." Jawab anak-anak secara serentak.

"Yusi.." panggil Kila dengan pelan.
"Hm.." jawab Yusi dengan kerlingan mata yang menandakan bahwa ia tengah jengah.
"Kamu kenapa jadi begini?" Tanyanya.
"Begini gimana sih ha?" Tanyanya balik dengan ketus.
"Kamu.. beda."
"Cks.. sudahlah gue muak sama lo." Jawabnya lalu pergi meninggalkan Kila. Saat ia tepat berada didepan pintu kelas ia pun berbalik.

"Jangan bilang lo pikir selama ini gue tulus berteman dengan lo? Tidak. Gue mana mau temenan sama orang yang miskin kaya lo. Level lo jauh dibawah gue." Jelasnya.
Kila hanya bisa melongo mendengar perkataan Yusi.
"Maksudmu apa Yusi?" Tanyanya dengan begitu lugunya.
"Halaaah jangan so'polos lo. Gue tahu sebenernya lo itu gak polos lo cuman dungu aja khe.." katanya dengan nada mengejek.
"Yusi..." lirihnya.
"Udahlah gue gak mau berurusan sama lo lagi. Gue jengah temenan sama lo selama 4 semester ini. Bye." Ujarnya.
"Tyas, Minzi, Bella yuk ke kantin. Abis itu kita shopping. Gak ada jam lagi kan setelah ni." Ucapnya membuka bicara dengan teman satu genknya itu.
"Oooke Yuyu.. let's go.." balas mereka berengan seraya merapikan alat tulis mereka dan mengikuti Yusi.

"Kenapa jadi begini.." gumamnya.
.
.
.
.
.
Sejak saat itu, hidup Kila pun terjungkir balik. Ia tidak tahu kenapa Yusi bisa berubah. Jangan-jangan karena Kila sudah mulai mengajukan proposal untuk skripsinya?

Dulu.. mereka janjian akan wisuda bersama. Yusi pernah tak naik kelas. Ia lebih tua satu tahun diatasnya. Entah karena apa Yusi tidak bisa naik kelas, bahkan anak-anak satu genknya pun ikutan gak naik kelas.

Ada orang yang bilang bahwa dulu Yusi Cs itu genk berandal versi cewek, gak tahu mana yang cowoknya. Nah, karena kebengalan mereka, merekapun dituntut untuk dikeluarkan dari Univ, tapi karena kedua orang tuanya merupakan salah satu donatur terbesar, pihak sekolahpun memberi keringanan dengan cara seperti itu, tidak naik kelas.

Saat ini Kila tengah berada di kantin. Ia tengah menikmati sarapannya, sambil memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. Namun, saat ia akan menyuapkan nasi goreng yang entah keberapa sendoknya, tiba-tiba...

Brakkk

Uhuk..uhuk..
Sontak ia pun bergegas mengambil es tehnya, tapi saat ia hendak mengambilnya kejadian tak diinginkanpun terjadi.

Byuuur

"Hahahahahaha"
Semua orang tertawa melihat gadis mungil itu dibully. Tak ada seorangpun yang berani untuk mencegah ataupun menghalangi peristiwa mengenaskan tersebut.

Kila hanya bisa menunduk malu sekaligus takut saat ia tahu siapa yang membullynya. Badannya yang kecil mungil menggigil kedinginan karena disiram air es dan lengket. Saat ia mendongakkan kepalanya, dagunyapun dicengkram si pembully.

"Berani kamu mendongakkan muka jelekmu ini hm?" Tanyanya dengan berang.

"Ma..ma..af" cicitnya.
"Apa lo bilang? Bicara yang jelas gadis bodoh." Katanya kemudian menghentakkan Kila dan menoyor kepala Kila dengam begitu tak berperi kemanusiaan.

"Hahahahaha" Orang-orangpun kembali bersorak riang.

"Dengar. Kalo lo minta maaf. Minta maaf dengan benar. Bilang sama orangnya bodoh. Lo gak menyebutkan namanya, kita-kita gak tahu lo minta maaf sama siapa?" Ujar seseorang dengan sinis disebelah si pembully tadi.

"Ma.. af. Maafkan aku.. kak....."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.



~Bersambung~

Tanpa JudulWhere stories live. Discover now