Afrizal bangun pukul setengah lima subuh. Segera ia membangunkan keluarganya, sang ibu segera terbangun mengambil wudhu, adik-adik Afrizal yang masih kecil masih terlihat ogah-ogahan, beberapa memeluk guling lebih erat, beberapa membalik badan menolak. Tapi Afrizal tetap bersikeras, makin keras ia goyangkan sambil menegur "Bangun-bangun!" maka akhirnya terbangun mereka dengan enggan untuk bertemu tuhan mereka.
Afrizal kemudian memimpin shalat, beberapa kesal karena Afrizal selalu melantunkan ayat panjang, biasanya adiknya Syahrul segera melolongkan menguapnya hingga terdengar telinga Afrizal, tapi ia tidak peduli.
Dahulu perilaku begini bisa membikin Syahrul dijepret Bapak dengan sabuk, tapi kegiatan shalat subuh ini sudah digantikan Afrizal setelah Bapak wafat, dan Afrizal tak pernah setega itu pada adiknya.
Setelah shalat adik-adik Afrizal kembali tidur kecuali Ani yang sudah SMA. Dia menyiapkan buku dan menyetrika pakaian, dari pakaian seragamnya sampai seragam cleaning service Afrizal dan adik-adiknya. Ibu saat itu menyiapkan sarapan, memasak nasi dan menyuguhkan teh. Afrizal segera mandi, bersiap diri karena pukul 6 dia sudah harus di sekolah untuk melakukan pekerjaannya.
Air terasa dingin membasahi tubuh Afrizal pada pagi hari itu, diselingi angin yang menyelinap masuk dari atap kamar mandi yang tak beratap. Afrizal hanya mengguyur seadanya, sabunan dan sampoan dibarengi, guyur lagi dua kali dengan sungguh-sungguh membilas seefisien mungkin bersih mengingat betapa repotnya mengambil air dari sumur. Afrizal setelah berhandukan segera menggunakan celana dan kaus skutangnya.
Keluar dari kamar mandi sudah ada Ani di sebelah tempat setrika, dia terlihat tidak ingin segera masuk menggantikan kakaknya.
"Mas," Ucap Ani sambil memberikan seragam pada Afrizal, wajahnya tapi berpaling tidak menatap langsung pada kakaknya, "Boleh Ani minta sesuatu Mas?"
Afrizal mengambil baju seragamnya yang sudah disetrika Ani sekalian merespon ucapan Ani, "Mau minta apa Ni?"
Afrizal tahu Ani ingin meminta duit, dan wajah Ani seakan enggan menanyakannya, tidak enak.
Afrizal tahu bahwa Ani selama ini memang selalu merasa enggan dalam perihal uang. Setelah bapak tiada, Afrizal sebagai kakak tertua meninggalkan sekolahnya untuk bekerja menghidupi keluarga. Pekerjaan Afrizal merupakan pekerjaan serabutan, kadang ia menjadi kuli, menjadi tukang bersih got, benerin genteng. Kini ia mendapati pekerjaan tetap menjadi cleaning service yang gajinya lumayan, itupun tidak mengurangi kelelahannya karena setelah bekerja Afrizal kemudian membantu Ibu yang kini memiliki usaha laundry dari modal yang dikumpulkan Afrizal dan tabungan Bapak.
Melihat kakaknya yang tak pernah mengeluh, ia tak pernah tega menggunakan uang jajannya untuk makan. Jika temannya mengajak ia main, ia menolak. Ani tahu kondisi keluarganya, maka ia belajar pintar-pintar agar tidak membebani kakaknya. Namun kali ini Ani sedih, bahwa dia terpaksa harus meminta uang pada kakaknya.
"Mas, ini... Ani ada acara perpisahan."
"Ah iya, kamu habis UN yah Ni, butuh berapa perpisahan?"
Afrizal tersenyum bertanya sambil mengeluarkan dompetnya, padahal dalam hatinya dia bersiap diri mendengar digit angka uang yang akan diucapkan Ani.
"Tiga ratus..." Ani tiba-tiba saja memalingkan wajahnya, "Gak usah deh mas."
Ani tentu ingin sekali ke acara perpisahan untuk meninggalkan kenang-kenangan bersama sahabat-sahabatnya, tapi apakah acara perpisahan itu wajib sekali untuk diikuti? Lagipula tiga ratus itu uang yang besar sekali, pikir Ani, itu juga sudah dikurangi uang tabungan Ani. Memang perpisahan kali ini istimewa, karena sekolahnya berencana untuk pergi ke Jogja, tur ke universitas-universitas dan tempat wisata. Tapi kemewahan itu bukan untuk Ani, pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naas
Cerita PendekAfrizal, seorang pekerja keras yang menggantikan ayahnya dalam menghidupi 5 anggota keluarganya, mendapati suatu tuduhan yang menghancurkan masa depan dirinya juga keluarganya. Cerita ini pertama kali dipublish di kaskus: https://kask.us/izxW1
