Prolog

221 43 2
                                        

Jangan mampir di prolog doang ya. Next part jangan lupa mampir. Aku mau tau respon kalian :)

///

Kertas HVS yang masih polos tidak tercoreng setitik pun dari alat tulis yang dipegang. Sang pemilik sesekali melirik dengan kesal. Guru mapel menutup pelajaran yang berlangsung dua jam dengan mengucapkan salam dan melenggang pergi.

Menangkap sinyal bahwa pelajaran kini telah usai Ellora menghela nafas lega berbeda dengan sorakan oleh teman sekelas. Mendapati ditutupnya pelajaran kali ini berarti saatnya pulang. Akhirnya dia merasakan sesuatu yang terlepas membuat dirinya sesak sebelumnya. Ditegaskan kembali dengan ditandai bunyi bel sekolah disela-sela sorakan yang terdengar semakin ricuh.

Pulang? Ish... dia melupakan sesuatu! Nafasnya kembali tercekat beberapa detik mengingat dia tidak akan bebas dengan tugas kali ini sebelum sketsanya mendapat Acc dari sang guru mapel seni budayanya. Hal yang menyesakkan itu kembali menyelubungi. Menyumbat segala akses ketenangan Ellora.

Seluruh teman sekelas mulai meninggalkan kursi yang kurang lebih selama 7 jam diduduki serasa lega saat mereka tahu bahwa saatnya pulang dan segera duduk ditempat empuk dikamar masing-masing. Ellora pun ingin seperti itu.

Namun, tugasnya kali ini seakan  membawa kurungan besi sekeliling tubuhnya. HARUS terselesaikan! Dia ingin segera menemui ketenangannya sendiri.

Percuma, jika hanya berpikir di jalan yang mulai buntu karena keresahan. Dia kini melanjutkan tugasnya mencoba menggoreskan kuas diatas kanvas. Padahal sketsanya belum dirinya kumpulkan.Tangan itu bergetar menyatakan tidak mampu menyelesaikan. Menyerah?

Kuas yang masih dipegang tiba-tiba melayang dari genggaman tangan. Sedikit mendengus lelah dan kesal. Dengan lirikan mata dia arahkan ke lawan bicaranya dengan pipi yang mengembung bermaksud bertanya Ada apa?

"Sudah tiga puluh menit," lawannya menjawab sinyal pertanyaan itu dengan menunjukkan jam yang ada didinding belakang kelas. Menyentuhkan kuas yang digenggam ke pipi Ellora yang menggembung dan masih duduk dengan menatap tidak percaya. Entah berwarna seperti apa pipinya sekarang.

Mengikuti arah pandangan yang menyatakan waktu bahwa dirinya cukup lama duduk berkutat dengan tugas. Kembali mendengus kecil selama itukah dia disini?

Melihat kanvas diatas meja yang berisi coretan tidak jelas maknanya sebelum pada akhirnya melayang beralih pada genggaman sahabatnya.

"Bim, lo gak bakalan bisa menggambar apa lagi melukis sebelum ada orang lain yang lebih khusus ngajarin lo dan Bim, itu pasti akan datang saatnya," yakin Sirin dengan senyuman bangga atas ramalannya.

Semua orang tahu bagaimana Ellora bahkan bisa menebak hal yang sama seperti yang Sirin lakukan. Tanpa diakui oleh Sirin, Ellora pun tahu dirinya tidak akan pernah bisa dalam hal ini.

"Emang siapa, Sirin?" tanya Ellora yang harus mulai meladeni terpaksa ramalan Sirin yang masih berdiri dan enggan duduk itu.

Dengan merusak kanvas yang tidak lagi membuat pemiliknya marah karena itu kebiasaan yang tidak akan membuat Ellora refleks marah. 

Cewek yang dikenal peramal modern itu kembali berucap, "Buat Ellora seorang selama Sirin ada disisi lo, lo sendiripun pasti punya solusi yang tepat," senyuman itu masih mengembang di wajahnya.

Sirin tidak membatu sama sekali atas masalah yang Ellora miliki. Terlihat dari ucapan yang terlontar dari peramal modern yang secara langsung Ellora harus memperoleh sendiri solusi untuk masalahnya. Beban itu selalu terasa berat dipikul tanpa bantuan. Masihkah Ellora percaya di dalam hidup masih ada jalan?

Memilih pergi bersama sahabatnya setelah memastikan semua alat tulis tersimpan rapi di dalam tas.

Satu keinginan didalam dirinya hari ini. Pergi berlayar dan menumpas dunia lukis! Bagaimana?  Dia terlalu berlebihan dalam menumpahkan emosi melalui keinginan yang hanya sekadar harapan.

Tinggalkan komen dan vote :)
.
.
.

.
.
.
Sreight_

Ellora (TAMAT) Where stories live. Discover now