Prolog

22 7 2
                                        

Percikan air hujan yang terlihat jelas di balik kaca mobil Nina, berhasil membuat pemiliknya enggan mengalihkan pandangannya dari pemandangan favoritnya ini. Sangat menakjubkan.

Hingga pertanyaan dari Aluna pun berhasil membuat Nina menolehkan kepalanya.

"Nin, aneh nggak sih, suka sama teman sekelas?" Aluna masih memandang percikan air itu. Aluna juga menyukainya, tapi tak se-agresif Nina yang sampai-sampai memasang wallpaper itu di kamar.

Nina masih memandang Aluna dengan satu pertanyaan yang terus terputar di hatinya. Meminta hatinya mempertanyakan hal tersebut, namun lidahnya mendadak kelu.

"Katanya cinta itu indah, tapi gue belum percaya. Apa dia bisa buat gue percaya kalo cinta itu memang indah?" Nina menatap lurus kembali, berbanding dengan Aluna yang baru saja menatapnya. Serius.

Menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya pun tak mampu menghilangkan ke-gelisahan Nina. Hingga lidah yang tadinya beku kini mengeluarkan kata-katanya.

"Siapa yang lo suka?" Nina mulai menebak, "Azriel?" Tebak Nina asal berdasarkan cowok yang famous di kelas.

Aluna menoleh, "Yang jelas, orang yang gue suka ada di kelas."

***

Hati Aluna seperti tersayat pisau yang baru diasah kali ini. Sesak di dada mulai terasa, air mata berjatuhan, dan bahu yang bergetar menandakan kalau ada yang menusuk hatinya.

Bahkan rasanya lebih sakit.

Fatra, cowok yang ia taksir sejak lama tengah menembak sahabatnya, Nina. Dan jawaban Nina membuat Fatra tersenyum. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan Aluna sekarang.

Tak tahan lagi melihat kejadian yang membuat hatinya sakit, Aluna pun menghindari tempat tersebut. Sejauh yang ia bisa. Sampai kaki jenjangnya pun menghantarkan Aluna ke roof toop sekolah. Tempat yang paling sepi di sekolah, juga sangat jarang ada orang disana atau bahkan tidak ada.

Masih dengan air mata yang mengalir, Aluna mencoba menetralisirkan jantungnya. Menarik napas dalam lalu membuangnya, cukup meringankan sakit yang hatinya rasakan.

Melihat awan yang masih sama warnanya seperti kemarin dengan tatapan mengintimidasi. Banyak pertanyaan yang ia lontarkan disana, namun tak satupun mendapat jawaban dari sang awan.

Hingga sebotol air mineral di depan wajahnya menarik matanya untuk melihat siapa pemiliknya.

"Mungkin lo butuh air?" Kata sang empunya menatap botol yang ia sodorkan. "Ambil."

Aluna menerimanya, "Makasih."

Kembali memperhatikan cowok yang familiar di matanya.

Ini ketua OSIS bukan sih? Tapi ngapain dia disini?

Alih-alih bertanya sendiri, Aluna meneguk air tersebut hingga tersisa setengah.

Cukup penasaran, Aluna memberanikan diri mempertanyakan hal tersebut. Meskipun dengan keadaan wajah yang penuh air mata, "Kakak ketua osis itu ya?"

"Itu, apa?" Alief membalikan bertanya.

"Ya, kakak ketua osis kan?"

"Maybe yes, maybe no."

Mendapat jawaban seperti itu malah membuat Aluna greget. Dilanjutkannya lagi pertanyaan yang membuatnya sedikit penasran, "Kakak... ngapain disini?"

"Lo sendiri? Ngapain?"


Ucapan itu terdengar enteng. Sebenarnya, Aluna masih ingin bertanya, tapi kalau lawan bicaranya begini ya Aluna angkat tangan. Kalau saja sepantaran atau lebih muda, Aluna pasti sudah nyerocos. "Em, gapapa kak. Yaudah, aku mau ke kelas. Makasih kak, air nya." Aluna pun mengakhiri percakapan nya karna ia sendiri tak tahu harus berkata apa.

***

Hari ini hujan.
Langit sedang bersedih, hibur Langit, ya?

#samakayaaku

PaintCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang