BAB 1

93 9 3
                                        

Pukul 06.08

Entah sudah berapa kali tangan Amora meraba nakas mencari benda persegi panjang dengan mata yang masih tertutup rapat. Padahal, ponselnya berada disamping bantal kanannya.

Setelah lelah mencari, akhirnya Amora memilih untuk bangun dan membuka mata dengan lebar, meraih ponsel dan mematikan alarm.

Bukannya beranjak dari atas ranjang, Amora malah menarik selimut dan kembali tidur.

Tak lama kemudian terdengar gedoran pintu kamar yang membuat Amora akhirnya bangun dan beranjak dari ranjang, menuju pintu dan membukanya.

"Aku yakin kakak bakal telat, jadi aku cuma mau bilang--"

Brakkk

Amora kembali menutup pintu kamarnya dengan satu sentakkan. Mendengar adiknya mengoceh bukanlah hobi seorang Amora Melyana Safira, apalagi pagi-pagi buta seperti ini.

"Kak!!, Aku berangkat dulu.",teriak adiknya dari balik pintu.

Amora menghela napas kasar, ia menatap jam dinding di kamarnya yang sedikit mengalami perubahan. Jarumnya tak berjalan dengan benar, seperti kehidupannya. Ia menyadari bahwa jam dikamarnya rusak, mungkin baterainya yang harus diganti.

Amora meraih handuk dan pergi menuju kamar mandi, dimana ia akan akan menggosok gigi dan cuci muka saja. Handuk hanya pencitraan saja. Agar terlihat seperti habis mandi.

Hanya butuh waktu 10 menit untuk sekedar gosok gigi dan cuci muka. Yang lainnya hanya untuk bernyanyi-nyanyi ria didepan kaca besar milik Amora.

Setelah selesai, akhirnya Amora keluar dari kamar mandi. Langkah Amora terhenti mendengar ponselnya berbunyi, segera ia mengangkat panggilan.

"Hm.."

"Lo dimana bego!!",tanya suara dari balik ponsel Amora.

"Dirumahlah, masa dikandang sapi.",jawab Mora singkat.

Terdengar desahan napas dari seberang,"Ngapain dikandang sapi? Mau lahirin telor Lo?",tanyanya lagi.

Amora diam sejenak. "Kok lahir?."

"Ya iya lah.. eh kok- iya juga sih. Ah serah deh, Lo sekolah kagak sih?", Pekik seseorang bernama Navna tersebut.

Ia melihat jam dilayar ponselnya yang menunjukkan pukul 06.40 , sekitar 15 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup dan Amora tak akan punya kesempatan untuk masuk meski memohon pada Pak Coky, sang satpam sekolahnya yang terkenal ramah, rajin marah-marah.

Amora segera memakai seragam dan mengambil tas ransel yang berisikan buku seadanya. Setelah selesai ia beranjak keluar kamar dan berangkat ke sekolah.

Setelah menunggu bis cukup lama, akhirnya ia sampai disekolah. Meskipun ia sangat yakin ia akan ditolak Pak Coky, lagi. Jujur saja, jika ditolak oleh seorang cowok ia masih bisa diterima tapi jika ditolak oleh Pak Coky, ia akan mencak-mencak.

Dan yang ditunggu tunggu sudah berjaga didepan gerbang tepat. Sebagai murid yang baik, Amora memilih menghampiri Pak Coky. Tersenyum tulus dan mengucap salam hangat pagi hari.

Entah dari mana bisikkan gaib itu berasal dan membuat Amora bernyanyi didepan Pak Coky tanpa rasa bersalah sedikitpun. Amora hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Pak Coky yang begitu datar melihatnya.

"Pak, saya boleh masuk nggak?",tanya Amora dengan wajah menunduk.

Pak Coky berdehem pelan, "Boleh Mbak, silahkan masuk.",jawab Pak Coky sambil tersenyum penuh arti. Punuh arti kebusukan yang hqq.

Damamora.Where stories live. Discover now