"Aku berangkat, tak perlu menungguku pulang."
Pria bersetelan jas maroon itu merapikan dasinya kemudian berdiri dari tempat duduk. Sisa sarapannya masih lebih dari setengah porsi, tetapi sepertinya ia sama sekali tak berniat menghabiskannya.
"Kau pulang malam lagi? Tak bisakah kau pulang cepat malam ini? Setidaknya untuk makan malam, Yutae merindukanmu." Yhua menggigit kuku jari karena gugup. Takut-takut bahwa permintaannya ini ditolak.
Pria itu tak menjawab, ia hanya menoleh sebentar lalu berjalan keluar rumah. Sang istri menghela napas pelan, tetapi ia mengikuti sang suami pergi. Ternyata memang ditolak, lagi.
"Junda," panggil sang Istri ketika si suami masuk ke dalam mobil. Sekali lagi ia berharap, bahwa suaminya bisa meluangkan waktu untuk anak mereka.
Tetap tak ada sahutan. Junda hanya membunyikan klakson mobil lalu menghilang begitu saja. Debu dan suara deruman mobil selama dua detik yang ia tinggalkan.
"Mama!" suara teriakan serak diikuti tangisan menyadarkan Yhua dari lamunan. Ia beranjak dari teras dan masuk ke dalam. Putra kecilnya sedang menangis sambil menggigit selimut singa kesukaannya.
"Iya, sayang. Mama di sini. Apa yang sakit?" Yhua menggendong sang putra yang masih menangis.
"Mamaaa!" Tangisan Yutae mengiris hati Yhua. Ibu mana yang tak terluka ketika buah hatinya menangis karena rasa sakit. Andaikan rasa sakit bisa dipindah, Yhua akan rela menyerahkan dirinya dan merasakan sakit yang Yutae rasakan. Sayangnya, dunia tidak seajaib itu.
"Cup cup, iya Yutae sayang. Badanmu sakit, ya? Hmm, kenapa demamnya tak turun?"
Yhua menimang-nimang Yutae dengan satu tangan, sedang tangan lainnya sibuk mencari termometer. Demam Yutae masih belum turun sejak semalam. Panas si kecil terasa di kulit Yhua meski ada pakaian dan selimut yang membatasi.
"Ya ampun, lebih dari tiga puluh tujuh derajat. Kita ke rumah sakit, ya?" Wajah Yhua sudah diselimuti kekhawatiran, bibirnya tak berhenti menggumamkan do'a agar putranya baik-baik saja. Tangannya yang terampil sibuk mengepak barang-barang yang diperlukan dan juga membenahi pakaian Yutae. Tak lupa selimut tebal ia balutkan ke tubuh Yutae agar anaknya tak merasakan dingin.
Rumah sakit tidak terlalu ramai, dalam waktu sepuluh menit Yhua sudah membawa Yutae masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Ketika hendak dibaringkan ke atas ranjang, putra kecilnya menangis keras, tak ingin lepas dari gendongan sang ibu.
"Sayang, mama di sini. Yutae tidur sebentar, ya?" Bocah berumur empat tahun itu tetap menangis. Kepalanya ia geleng-gelengkan, pertanda bahwa ia memang sama sekali tak ingin terpisah dari Yhua.
"Tidak apa-apa, biar digendong saja," ucap dokter. Yhua mengangguk, tatapan matanya menyiratkan permintaan maaf. Dokter hanya tersenyum memahami, tampak terbiasa dengan kondisi saat ini.
Yutae memeluk leher Yhua erat, kepalanya ia sandarkan di bahu Yhua. Tangisannya sudah berhenti, hanya menyisakan rengekan-rengekan kecil.
Dokter menempelkan stetoskopnya di dada Yutae setelah membuka bajunya. Mungkin karena kulit tubuhnya yang panas dipadukan dengan permukaan stetoskop yang dingin, membuat Yutae terkejut tak nyaman. Ia kembali menangis, tangan kecilnya berusaha menyingkirkan benda aneh yang menggerayangi tubuhnya.
"Sudah, sudah selesai," ucap dokter menenangkan. Yhua mengelus punggung Yutae sambil membisikkan kata-kata penenang.
"Mari, silakan duduk di sini." Dokter mengarahkan Yhua untuk duduk di kursi yang disediakan untuk berkonsultasi.
"Jadi, sejak kapan panasnya?" tanya dokter.
"Sejak semalam, Dok, tetapi panasnya tidak turun." Dokter mengambil termometer dan menempelkannya pada ketiak Yutae. Saat termometer berbunyi, dokter mengambilnya dan melihat angka yang tertera.
YOU ARE READING
UNFAIR. (a story about Love)
General FictionBanyak definisi tentang kata cinta. Banyak rasa yang cinta tawarkan. Banyak cerita yang cinta kabarkan. Yhua pikir, cintalah yang membuat dunia indah. Yhua pikir, cintalah tempat ia bernaung. Namun, semuanya berubah. Sejak cintanya menjauh. Sejak ci...
