prōlōg

160 79 39
                                        

Jadi teman-teman. Scroll aja gapapa tapi pelan pelan ya hehehe. Terimakasih banyak yang sudah membaca:)
.
Aku pergi kelaut sendirian. Di lensa kamera, laut biru membentang luas seperti seperti biasa. Semuanya sama, Cahaya yang berkilau dari air, angin berhembus disepanjang hutan cemara. Satu-satunya yang berubah adalah kali ini aku sendirian.

Ketika aku menekan tombol kameranya, pemandangan didepanku berkedip, sebuah moment dari hari itu, 2 tahun 10 bulan yang lalu, seperti muncul dan mengilang. Hari itu, kami duduk bersama menghadap laut ini. Walaupun kami lelah dan tak memiliki apa-apa dan tak memikirkan masa depan, tetapi dulu kami selalu bersama. 

Aku menjalankan mobilku dan menambah kecepatan. Aku pergi melalui terowongan dan melewati pemberhentian. Ketika aku mendekati sekitar sekolah yang dulunya selalu kami datangi bersama, aku membuka jendela mobilku. Udaranya hangat dan pohon sakura berbaris menutupi dinding sekolah.

Aku Rania, orang-orang memanggilku Ra. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Keluargaku bukanlah keluarga yang harmonis. Orangtuaku berpisah sejak aku umur 13 tahun. Aku tinggal bersama Ayahku. Dia orang yang keras dan tegas. Beliau jarang berada dirumah, karena tugas diluar kota. Kakakku pergi meninggalkan rumah bersama ibuku.

3 tahun lalu.
Maret '12

Jim mengajakku ke kelas sahabatku yang lain, Adel, Leo, dan Brian. Kelas 12 IPA 4

Sesampai dikelas mereka, didepan kelas, Jim langsung berteriak, "WOYYY KANTIN GA?"
Seisi kelas kaget dan serentak menoleh kearah Jim. "Maap, Maap, kebiasaan" bela Jim.

Mereka bertiga langsung menghampiri kami yang sedang berada didepan kelas. Adel langsung berlari ke arah Jim dan tiba-tiba menepuk bahu Jim dengan keras. "Lo ngapain sih, berisik banget ih. Malu tau gak." kata Adel. "Tau ih, caper banget lo wkwkwk." sambar Leo. Brian dengan wajah senyum senyum ikut menghampiri kami berempat yang sudah berada didepan kelas.
"Kalo gitu, langsung aja ayo ke kantin." ajak diriku.

Sesampainya kami dikantin, kami langsung menempati kursi yang kosong. Kantin sangat penuh dengan murid-murid. Kami memesan bakso ke Pak De yang sudah menjadi langganan kami. Leo dengan sambal ekstra pedas dan Jim yang kalo makan bakso, kuahnya udah kayak koco. Item banget! —alias pake kecap.

Istirahat hanya berlangsung 30 menit dan kami langsung kembali ke kelas masing-masing.

Pelajaran setelah istirahat kedua adalah Seni Budaya. Aku sangat senang melukis. Dulu waktu Ayah dan Ibuku masih bersama, aku selalu diajarkan melukis taman dibelakang rumah. Karena kalau saatnya matahari terbenam, pemandangannya sangat indah. Aku tidak pernah bisa diganggu saat melihat sunset. Seperti melihat matahari yang tak akan pernah kembali.

Aku sadar mereka tak akan pernah kembali.
Aku sendiri.

Setelah pulang sekolah, aku dan Jim langsung menuju kelas 12 Mipa 4 untuk menghampiri sahabatku disana. Tapi baru setengah jalan, termyata mereka juga sedang mengampiri kami berdua.

"Woi, jadi kan?", tanya Leo.
"Yuk langsung aja jalan", jawab Jim.

Hari ini kami akan pergi ke laut. Kami ingin melepas penat, kejenuhan, stres kami disana. Angin laut sore yang sejuk membuat kami sangat betah disini. Kami tak memiliki apa-apa, tapi kami selalu bersama.

Tapi—

Kami berdua berada di lorong yang sepi ini. Lorong ini hanya mempunyai empat pintu. Pintu masuk, pintu toilet, pintu ruang administrasi, dan pintu ruang Kepala Sekolah.
Kami berdua berada di depan pintu ruang Kepala Sekolah.

DIFFERENTStories to obsess over. Discover now