Bestfriend

4 2 0
                                        

Tampak beberapa mahasiswi sedang berlarian di koridor kampus. Salah seorang diantara mereka menuju ruang musik. Dia berencana mengagetkan sahabatnya. Sekar memelankan langkah kakinya menuju seseorang di depan pintu ruang musik yang terbuka.

"Hai!" kejut gadis bernama Sekar kepada orang didepannya.

"Ya! Kau bikin kaget saja" kaget gadis yang bernama Raisa sambil memukul pelan lengan Sekar.

"Ngapain ? Kenapa ga masuk?" tanya Sekar pada Raisa yang sedari tadi menatap ruang musik tersebut.

"Aaa.. Tidak aku hanya mengingat kita berlima sering bermain musik disini dulu.. " sebelum melanjutkan kalimat berikutnya Raisa tersadar akan sesuatu "mian"

"Gwenchana , aku sudah terbiasa dengan ini kok" Sekar tersenyum simpul. Tampaknya dia baik baik saja, syukurlah, batin Raisa.

Mata Sekar beralih menatap piano di sudut ruangan. Bayangan mereka berlima yang sedang bermain piano bersama. Bayangan saat dirinya yang sedang kesal bersandar di pundak Rezi, sahabatnya. Bayangan saat Fira menangis karena konflik persahabatan kami dan datang Fadli membelanya.

Ya memang yang paling dewasa di antara persahabatan kami Fadli, padahal kalau sesuai umur Fadli maknae nya. Dewasa itu memang bukan tentang umur.

Sebelum semakin teringat kenangan yang telah mereka kubur dalam dalam, Sekar membawa Raisa pergi dari ruangan itu.

"Beneran gapapa Kar? " tanya Raisa khawatir.

"Haha gapapa itu udah lama kok. Mungkin mereka udah ngejalani hidup yang lebih baik tanpa kita. Juga lagian Fira udah tenang Sa, jadi apa yang harus di khawatirkan?"

"Ehehe gatau sih" ucap Raisa yang tiba tiba canggung.

Mereka berdua terus berjalan hingga mereka sampai ke taman belakang kampus yang telah sepi. Mungkin mereka pada di aula karena hari kelulusan.

Lagi lagi suatu bayangan muncul. Bayangan saat Rezi sedang kacau dan terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Fira. Bayangan saat kami berkali kali memberitahu Rezi bukan dia penyebab kematian itu. Itu sudah lah takdir.

"Coba aja aku datang tepat waktu! Fira ga akan pulang naik bus itu! Dia tidak akan kecelakaan! " teriak Rezi dengan rasa bersalah sambil mengacak acak rambutnya frustasi.

"Ini memang sudah takdir Rezi! Sadarlah! Jangan sakiti dirimu sendiri." ujar sekar duduk disebelahnya dan mengelus pelan punggung Rezi.

"Kami semua juga merasa kehilangan dan bersedih. Kami tidak mau kehilangan sahabat kami lagi. Jadi makanlah, sudah berapa hari tidak makan? Jangan sakiti diri sendiri"
Ujar Fadli.

Sebelum bayangan itu terasa lagi mereka pergi.

Mereka terus berjalan. Hingga terdengar pengumuman. Mungkin ini saatnya mereka ke aula. Mereka berbalik arah dan berjalan menuju aula. Saat di koridor terdengar bisikan yang membuat Sekar berhenti.

"Eh gue denger denger, kelulusan kampus kita digabung sama kampus lain loh" ujar salah satu orang di ujung sana.

"Iya gue juga denger. Kalau gak salah kampus XE university kan?" timpal seseorang lainnya.

Mendengar itu membuat Sekar dan Raisa saling memandang dan buru buru ke aula. Mereka berlari karena penasaran dengan yang orang orang tadi katakan.

Apa benar?
Kebetulankah?
Takdir?

Di aula sangat ramai sehingga kami tidak dapat mengenali mereka satu persatu. Karena kami memakai baju yang sama. Hanya saja yang membedakannya adalah mereka memakai name tag kampus mereka.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 28, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

perpisahanWhere stories live. Discover now