01 | Annata Samara

43 2 1
                                        

"Saat pertama kali berjabat tangan denganmu, aku yakin kelak aku akan terus menggandeng tanganmu untuk bersama menyusuri jalan hidup ini."

•••••

Matahari sudah menampakkan dirinya dengan sempurna, namun gadis berumur enam belas tahun itu masih pulas dalam tidurnya. Tak ingin mimpi indahnya berakhir.

Bahkan, alarm yang menjadi korban saat membangunkan macan cantik itu pun sudah tergeletak mengenaskan karena dilempar oleh gadis bernama lengkap Annata Samara, atau yang biasa dipanggil Anna.

Anna menggeliat dalam tidurnya saat bel rumah berbunyi mengganggu tidurnya. Ingin menyuruh Mbok Minah tapi ia teringat kalau pembantu rumah tangga keluarganya itu sedang izin pulang kampung. Orang tuanya juga sedang berada di Rusia untuk kepentingan pekerjaan sekaligus menjenguk Omanya yang sedang dalam kondisi tidak baik. Alhasil Anna sendirian di rumah megah ini.

Anna mengucek matanya lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu ia berjalan ke lantai satu yang cukup jauh dari kamarnya di lantai dua sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

Anna tidak boleh tampil terlalu buruk di depan tamu walaupun saat bangun tidur muka bantalnya tetap terlihat cantik.

Anna buru-buru membuka kunci pintu saat melihat tamunya berbalik hendak pergi, mungkin karena Anna yang terlalu lama membukakan pintu sehingga orang itu mengira tidak ada orang di rumah mewah ini.

Saat terdengar bunyi pintu terbuka, orang itu berbalik kembali menghadap Anna. Butuh beberapa detik keduanya saling menilai. Orang itu segera tahu kalau Anna baru saja bangun tidur dengan muka bantalnya yang masih terlihat dan piyama yang kusut.

Anna berdeham canggung saat ditatap dengan tatapan menilai oleh cowok seumuran yang berada tepat beberapa langkah di depannya. Cowok yang tidak dikenalinya ini mengerjapkan mata lalu tersadar akan tujuannya ke sini.

Orang asing itu tersenyum ramah yang membuat lesung pipi menawannya itu terlihat. Jujur saja, Anna kagum dengan senyuman cowok itu namun tak berlangsung lama.

"Oh, iya. Kenalin, nama gue Alzam."

Cowok yang mengaku bernama Alzam itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Anna disertai senyuman.

"Gue Anna."

"Keluarga gue baru aja pindah tadi pagi. Sekarang kita tetanggaan karena rumah gue tepat berada di samping rumah lo."

Alzam menengok ke kiri membuat Anna mengikuti arah pandangnya dan mengangguk mengerti.

Alzam kembali menatap Anna lalu memberikan sekotak martabak yang harumnya membuat perut Anna keroncongan.

"Titipan nyokap gue, beliau temen nyokap lo waktu SMA dulu. Dia bilang gak bisa ke sini karena masih ada beberapa yang harus diurus. Salam kenal, semoga kita jadi tetangga yang baik."

Alzam tersenyum saat Anna menerima kotak martabak itu.

"Salamin ke mama lo, thanks ya."

Alzam mengangguk lalu segera pamit pulang. Anna memandangi kepergian Alzam lalu buru-buru membawa masuk martabaknya dan menutup pintu.

Senyum lebar menghiasi wajah Anna yang imut. Ia senang bukan main saat mendapatkan martabak enak disaat sedang kelaparan seperti ini.

Anna memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu memakan martabaknya. Minggu cerah ini akan Anna habiskan dengan menonton drakor seharian.

•••••

Anna bangun tepat waktu dan bersiap-siap untuk sekolah, ia tidak mau telat karena hari ini upacara. Anna menggerutu lalu meniup poninya yang tipis. Kenapa Senin ke Minggu terasa seabad sedangkan Minggu ke Senin terasa seperti sekejap? Ini sungguh tidak adil!

AnnataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang